Sabtu, 21 Maret 2015

Otitis Media



Tugas kelompok
Mata kuliah              : Sistem Sonsori Persepsi
Nama dosen             : Ns. Haikal Alpin S.kep, CWCCA




MAKALAH
SISTEM SONSORI PERSEPSI

( OTITIS MEDIA )

DISUSUN OLEH
KELOMPOK I
1.      Ahmad Risal
6.    Maaureen Batseba Philipus
2.      Andi Aswandi
7.    Masrandi Ekram
3.      Adris Bari
8.    Nuraini Burhan
4.      Betjie Sinamona
9.    Samsu alang
5.      Bonifilio Mantur
10.  Umiati S. Bakar

PROGRAN STUDI ILMU KEPERAWATAN
STIKES GRAHA EDUKASI MAKASSAR
TAHUN AKADEMIK 2014/2015


KATA PENGANTAR


Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan inayah-Nya sehingga makalah ini dapat terselesaikan guna memenuhi salah satu tugas kami sebagai mahasiswa S1 keperawatan, stikes graha edukasi.
Adapun judul makalah ini yaitu Sistem sensori persepsi “ Otitis media ”. Penulis menyadari atas kekurangan kemampuan penulis dalam pembuatan makalah ini, sehingga akan menjadi suatu kehormatan besar bagi penulis apabila mendapatkan kritikan dan saran yang membangun agar makalah ini selanjutnya akan lebih baik dan sempurna serta komprehensif.
Pada kesempatan ini kami, tak lupa penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya pula kepada :
1.    Ns. Haikal Alpin S.kep, CWCCA. Selaku dosen pembimbing kami.
2.    Semua anggota kelompok 1 atas waktunya dalam pembuatan makalah ini.
Demikian akhir kata dari penulis, semoga makalah ini bermanfaat bagi semua pihak dan pembelajaran budaya khususnya dalam segi teoritis sehingga dapat membuka wawasan ilmu pengetahuan serta akan menghasilkan yang lebih baik di masa yang akan datang.





DAFTAR ISI
Sampul......................................................................................................................... i
Kata pengantar............................................................................................................ ii
Daftar isi.................................................................................................................... iii
BAB I. PENDAHULUAN
1.1  Latar belakang................................................................................................ 1
1.2  Rumusan masalah........................................................................................... 2
1.3  Tujuan............................................................................................................. 2
1.4  Manfaat........................................................................................................... 2
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1  Definisi............................................................................................................. 3
2.2  Etiologi............................................................................................................. 3
2.3  Patofisiologi..................................................................................................... 4
2.4  Manifestasi Klinik............................................................................................ 4
2.5  Penatalaksanaan............................................................................................... 5
2.6  Penyimpangan KDM....................................................................................... 6
BAB III. ASUHAN KEPERAWATAN
3.1  Pengkajian...................................................................................................... 7
3.2  Diagnosa keperawatan................................................................................... 8
3.3  Rencana tindakan........................................................................................... 8
3.4  Implamentasi................................................................................................. 11
3.5  Evaluasi......................................................................................................... 11
BAB IV. PENUTUP
4.1.Kesimpulan ................................................................................................... 12
4.2.Saran ............................................................................................................. 12
Daftar pustaka........................................................................................................ 13






BAB I
PENDAHULUAN
1.1         Latar belakang
Otitis Media adalah suatu infeksi pada telinga tengah yang disebabkan karena masuknya bakteri patogenik ke dalam telinga tengah (Smeltzer, 2001). Otits media akut (OMA) dapat terjadi kare beberapa faktorpenyebab, seperti sumbatan tuba eustachius (merupakan penyebab utama darikejadian otitis media yang menyebabkan pertahanan tubuh pada silia mukosa tubaeustachius terganggu), ISPA (infeksi saluran pernafasan atas), dan bakteri( Streptococcus peumoniae, Haemophylus influenza, Moraxella catarrhalis,dan bakteri piogenik lain, seperti Streptococcus hemolyticus, Staphylococcus aureus, E. coli, Pneumococcus vulgaris).
Di Amerika Serikat, diperkirakan bahwa sekitar 9,3 juta anak-anak mengalami serangan OMA pada 2 tahun pertama kehidupannya (Berman, 1995).Menurut Teele (1991) dalam Commissoet al. (2000), 33% anak akan mengalamisekurang-kurangnya satu episode OMA pada usia 3 tahun pertama. Terdapat 70%anak usia kurang dari 15 tahun pernah mengalami satu episode OMA (Bluestone,1996). Faktanya, ditemukan bahwa otitis media menjadi penyebab 22,7% anak-anak pada usia dibawah 1 tahun dan 40% anak-anak pada usia 4 sampai dengan 5tahun yang datang berkunjung ke dokter anak. Selain itu, sekitar sepertigakunjungan ke dokter didiagnosa sebagai OMA dan sekitar 75% kunjungan balik ke dokter adalah untuk  follow-up. penyakit otitis media tersebut (Teeleet al.,1989).
Menurut Casselbrant (1999) dalam Titisari (2005), menunjukkan bahwa19% hingga 62% anak-anak mengalami sekurang-kurangnya satu episode OMAdalam tahun pertama kehidupannya dan sekitar 50-84% anak-anak mengalamipaling sedikit satu episode OMA ketika ia mencapai usia 3 tahun. Di AmerikaSerikat, insidens OMA tertinggi dicapai pada usia 0 sampai dengan 2 tahun,diikuti dengan anak-anak pada usia 5 tahun.

1.2         Rumusan masalah
1.2.1        Bagaimanakah konsep medis pada penderita otitis media ?
1.2.2        Bagaimanakah konsep proses keperawatan pada penderita otitis media ?
1.3         Tujuan
1.3.1        Mengetahui definisi otitis media
1.3.2        Mengetahui etiologi otitis media
1.3.3        Mengetahui patofisiologi otitis media
1.3.4        Mengetahui manifestasi otitis media
1.3.5        Mengetahui pemeriksaan dignostik pada otitis media
1.3.6        Mengetahui asuhan keperawatan pasien dengan otitis media
1.4         Manfaat
1.4.1        Mahasiswa mampu dan mengerti tentang konsep medis dan konsep keperawatan otitis media
1.4.2        Mahasiswa mampu menerapkan asuhan keperawatan pada pasien otitis media, serta mampu mengimplementasikannya dalam proses keperawatan.













BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1         Definisi
OMA (Otitis Media Akut) adalah peradangan akut atau seluruh pericilium telinga tengah (Mansjoer, 2001)
OMA adalah infeksi atau inflamasi (peradangan) di telinga tengah.
OMA adalah infeksi telinga tengah oleh bakteri atau virus, dapat terjadi pada semua usia, tetapi paling sering ditemukan pada anak-anak terutama pada usia 3 bulan s/d 3 tahun
OMA adalah peradangan telinga bagian tengah yang disebabkan oleh pejalaran infeksi dari tenggorok (farinitis) A sering terjadi pada anak-anak (Wikipedia Bahasa Indonesia, Ensiklopedia Bebas).
2.2         Etiologi
Penyebab Otitis Media Akut aktif (OMA) dapat merupakan vius maupun bakteri. Virus atau bakteri dari tenggorokan (penderita infeksi saluran pernapasan atas) dapat sampai ke telinga tengah melalui tuba eustachius / kadang melalui aliran darah.
Bakteri penyebab OMA adalah bakteri piogenik seperti :
·         streptococcus,
·         hemolytitus,
·         staphylocottus aureus,
·         pneumokous,
·         influenza,
·         etolr,
·         s.anhemolytyticus,
·         p.vulgaris, dan
·         p.aeroginosa,
·         mora xella cattan halis.


2.3         Fatopisiologi
Otitis media sering diawali dengan infeksi pada saluran napas (ISPA) yang diebabkan oleh bakteri, kemudian menyebar ke telinga tengah melewati tuba eustachius. Ketika bakteri memasuki tuba eustachius maka dapat menyebabkan infeksi dan terjadi pembengkakan, peradangan pada saluran tersebut. Proses peradangan yang terjadi pada tuba eustachius menyebabkan stimulasi kelenjar minyak untuk menghasilkan sekret yang terkumpul di belakang membran timpani.       Jika sekret bertambah banyak maka akan menyumbat saluran eustachius, sehingga pendengaran dapat terganggu karena membran timpani dan tulang osikel (maleus, incus, stapes) yang menghubungkan telinga bagian dalam tidak dapat bergerak bebas. Selain mengalami gangguan pendengaran, klien juga akan mengalami nyeri pada telinga.
Otitis media akut (OMA) yang berlangsung selama lebih dari dua bulan dapat berkembang menjadi otitis media supuratif kronis apabila faktor higiene kurang diperhatikan, terapi yang terlambat, pengobatan tidak adekuat, dan adanya daya tahan tubuh yang kurang baik. 
2.4         Manifestasi Klinis
Gejala klinis OMA tergantung pada stadium penyakit dan umur pasien. Biasanya gejala awal berupa sakit telinga tengah yang berat dan menetap. Biasa tergantung gangguan pendengaran yang bersifat sementara.Pada anak kecil dan bayi dapat mual, muntah, diare, dan demam sampai 39,50oC, gelisah, susah tidur diare, kejang, memegang telinga yang sakit.Gendang telinga mengalami peradangan yang menonjol. Keluar cairan yang awalnya mengandung darah lalu berubah menjadi cairan jernih dan akhirnya berupa nanah (jika gendang telinga robek). Stadium OMA berdasarkan perubahan mukosa telinga tengah : Stadium Oklusi Tuba Eustachius Terdapat Oklusi retraksi membran timpani akibat tekanan negativ di dalam telinga tengah.  Berwarna normal atau keruh pucat.
      a.    Stadium hiperemis (Presupurasi)
        Seluruh membran timpani tampak hiperemis dan edema karma pembuluh darah yang melebar.
        Sekret yang terbentuk bersifat eksudat serosa, sukar terlihat.
      b.    Stadium Supurasi
        Membran timpani menonjol ke telinga luar karena edema pada mukosa telinga tengah.
        Hancurnya sel epitel superficial.
        Terbentuknya eksudat purulen di kavium timpani.
      c.    Stadium Peforasi
        Ruptur membran timpani.
        Nanah keluar mengalir dari telinga tengah ke telinga luar.
        Pasien mulai tenang, suhu badan turun dan dapat tidur nyenyak.
      d.    Stadium Resolusi
        Bila membran timpani tetap utuh, maka perlahan-lahan akan normal kembali.
        Jika peforasi menetap dengan sekret yang keluar terus-menerus / hilang timbul lebih dari tiga minggu terjadilah OMSK



2.5         Penatalaksanaan
Terapi OMA tergantung pada stadiumnya. Pada stadium oklusi, tujuan terapi dikhususkan untuk membuka kembali tuba eustachius. Diberikan obat tetes hidung HCl efedrin 0,5% dalam larutan fisiologik untuk anak <12 thn dan HCl efedrin 1% dalam larutan fisiologik untuk anak yang berumur >12 thn atau dewasa.. selain itu, sumber infeksi juga harus diobati dengan memberikan antibiotik . Pada stadium presupurasi, diberikan antibiotik, obat tetes hidung, dan analgesik. Bila membran timpani sudah hiperemi difus, sebaiknya dilakukan miringotomi. Antibiotik yang diberikan ialah penisilin atau eritromisin. Jika terdapat resistensi, dapat diberikan kombinasi dengan asam klavunalat atau sefalosporin. Untuk terapi awal diberikan penisilin IM agar konsentrasinya adekuat di dalam darah. Antibiotik diberikan minimal selama 7 hari. Pada anak diberikan ampisilin 4x50-100 mg/KgBB, amoksisilin 4x40 mg/KgBB/hari, atau eritromisin 4x40 mg/kgBB/hari.
Pengobatan stadium supurasi selain antibiotik, pasien harus dirujuk untuk dilakukan miringotomi bila membran timpani masih utuh. Selain itu, analgesik juga perlu diberikan agar nyeri dapat berkurang.
Pada stadium perforasi, diberikan obat cuci telinga H2O2 3% selama 3-5 hari serta antibiotik yang adekuat sampai 3 minggu.
Stadium resolusi biasanya akan tampak sekret mengalir keluar. Pada keadaan ini dapat dilanjutkan antibiotik sampai 3 minggu, namun bila masih keluar sekret diduga telah terjadi mastoiditis.

2.6         Penyimpangan KDM


   ISPA                                                                                    Otitis ekstema mendesak
       membran timpani


 
Invasi bakteri                                                                       Terjadinya robekan
        membran timpani


Otitis Media








 
Imflamasi                           Produksi cairan sarosa






 
Ujung saraf nyeri terangsang      Akumulasi cairan mokus             Bocornya cairan serebraspinal











 
Gangguan rasa nyaman
 
Habatan komunikasi verbal
 
Rasa nyeri                     Tinitis, tuli konduktif ringan                    Otore berbau busuk


 
          Harga diri rendah



Isolasi sosial
 
 


BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
3.1         Pengkajian
1.      Identitas / Data demografi
Berisi nama, usia, jenis kelamin, pekerjaan yang sering terpapar sinar matahari secara langsung, tempat tinggal sebagai gambaran kondisi lingkungan dan keluarga,  dan keterangan lain mengenai identitas pasien.
2.      Pola persepsi kesehatan dan pemeliharaan kesehatan
-     Adanya riwayat merokok
-     Selalu minum minuman beralkohol
-     Pernah terjatuh/ terjadi benturan kepala
3.      Pola nutrisi metabolik
-     Mual, muntah, tidak nafsu makan
-     Menunjukan tanda dehidrasi, membran mukosa kering
-     Adanya alergi pada makan tertentu
4.      Pola aktivitas dan latihan
-     Aktivitas terbatas
-     Kebiasaan merokok
-     Pola tidur dan istirahat
-     Keluhan kurang tidur
5.      Pola persepsi dan konsep diri
-       Adanya perubahan citra diri.
-       Klien merasa rendah diri
-       Harga diri rendah
6.      Pola kognitif dan persepsi sensori
-     Sejauh mana pengetahuan klien tentang penyakitnya
-     Kemampuan mengatasi masalah
-     Melemahnya proses berfikir
7.      Pola peran dan hubungan dengan sesama
-     Terganggunya akibat penyakit
-     Merasa malu dengan penyakit yang diderita
-     Merasa terasingkan oleh orang lain
8.      Pola seksualitas dan reproduksi
-          Menurunnya libido
9.      Mekanisme dan toleransi terhadap stress
-     Mengingkari
-     Marah
-     Putus asa
-     Mudah emosi
-     Mudah tersinggung
3.2         Diagnosa keperawatan
1.      Gangguan rasa nyaman ( 00214 ) berhubungan dengan proses peradangan pada telinga tengah yang menimbulkan rasa nyeri.
2.      Hambatan komunikasi verbal ( 00051 ) berhubungan dengan efek kehilangan pendengaran
3.      Isolasi sosial ( 00053 ) berhubungan dengan otore berbau busuk.

3.3                     Rencana tindakan
No
Diagnosa Keperawatan
Tujuan /Kriteria Hasil
Intervensi
Rasional

1.
(598)

Gangguan rasa nyaman 
 ( 00214 ) berhubungan dengan proses peradangan pada telinga tengah yag menimbulkan rasa nyeri
Definisi : Merasa kurang senang, lega, dan sempurna dalam segala dimensi fisik, fisikospiritual, lingkunagan dan sosial.
Ditandai dengan batasan karakteristik:
DS :
o    Klien mengatakan  merasa tergangu jika rasa nyeri muncul
o    Klien merasa kurang puas dengan keadaannya saat ini
o    Adanya rasa nyeri pada terlinga
DO :
o    Klien nampak berkeluh kesah
o    Klien nampak merasa putus asa












Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam, diharapkan rasa nyeri berkurang, dengan kriteria hasil :
o  Klien merasa rileks
o  Klien mengatakan nyeri berkurang/hilang
o  Skala nyeri 0-1


1.       Kaji derajat nyeri setiap hari.
2.       Anjurkan klien untuk tidak melakukan gerakan tiba-tiba yang dapat memprovokasi nyeri.
3.       Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi.
4.       Berikan pendidikan kesehatan mengenai hal-hal yang dapat mengurangi bertambahnya nyeri akibat meningkatnya TIO seperti tidak membungkuk terlalu dalam  (anjurkan pasien melakukan ibadah salat dalam posisi duduk) dan tidur berbaring ke arah mata yang sehat.
5.       Lakukan tindakan kolaboratif untuk pemberian analgesic topical atau sistemik.


1.       Untuk mengetahui skala nyeri pada klien.
2.       Agar nyeri tidak mudah timbul.




3.       Untuk mengurangi rasa nyeri.

4.       Agar klien dapat mengontrol dan mengetahui hal-hal yang dapat menimbilkan nyeri.













5.       Agar rasa nyeri berkurang, dan masalah klien tdapat teratasi.

2.
(366)

Hambatan komunikasi verbal ( 00051 ) berhubungan dengan efek kehilangan pendengaran
Definisi :Penurunan, kelembaban, atau ketidak mampuan untuk menerima, memproses, mengirim, dan atau menggunakan sistem simbol
Ditandai dengan batasan karakteristik :
Ds :
o    Klien mengatakan mengalami masalah dalam berkomunikasi dengan orang lain
DO :
o    Klien nampak sedikit kesulitan dalam mendengar/ menerima informasi dari orang lain
o    Klien merasa kesulitan dalam mempertahankan pola komunikasi yang biasa.
o    Disorientasi waktu

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam , diharapkan Klien dapat kembali mendengar dan melakukan komunikasi dengan baik,  ditandai dengan kriteria hasil :
o   Klien dapat berkomunikasi dengan baik
o   Klien dapat menerima pesan melalui metoda pilihan (misal : komunikasi tulisan, bahasa lambang, berbicara dengan jelas pada telinga yang baik..

1.       Kaji kemampuan untuk menerima pesan secara verbal.


2.       Dapatkan apa metode komunikasi yang dinginkan dan catat pada rencana perawatan metode yang digunakan oleh staf dan klien, seperti : tulisan, berbicara, ataupun bahasa isyarat.

3.       Gunakan faktor-faktor yang meningkatkan pendengaran dan pemahaman.


1.       Untuk mengetahui kemampuan klien dalam menerima informasi secara verbal  

2.       Dengan mengetahui metode komunikasi yang diinginkan oleh klien maka metode yang akan digunakan dapat disesuaikan dengan kemampuan dan keterbatasan klien.



3.       Memungkinkan komunikasi dua arah anatara perawat dengan klien dapat berjalan dnegan baik dan klien dapat menerima pesan perawat secara tepat.


3.
(606)

Isolasi sosial ( 00053 ) berhubungan dengan otore berbau busuk.
Definisi :
Kesepian yang dirasakan olh individu dan dirasakan saat didorong oleh keberadaan orang lain dan sebagai pernyataan negatif atau mengancam
Ditandai dengan batasan karakteristik :
DS :
o    Klien mengatakan malu jika berdekatan dengan orang lain
o    Klien mengatakan selalu ingin sendiri
DO :
o    Klien menunjukkan sikap menarik diri


Setelah dilakukan tindakan keperawatan selam 3x24 jam , diharapkan klien  mampu mengembangkan hubungan degan orang lain.  dengan kriteria hasil :
o   Klien mampu berinteraksi dengan orang lain
o   Klien tidak merasa malu dengan keadaannya

1.   Bina hubungan saling percaya dengan klien


2.   Yakinkan klien bahwa setelah dilakukan pengobatan / pembedahan cairan akan keluar dan bau busuk akan hilang.
-
1.   Hubungan saling percaya dapat menjadi dasar terjadinya hubungan sosial.

2.    Klien akan kooperatif / berpartisipasi dalam persiapan pembedahan dan pengobatan.


3.4         Implamentasi
Implementasi disesuaikan dengan intervensi pada rencana intervensi
3.5         Evaluasi
3.5.1        Klien merasa lebih nyaman.
3.5.2        Tidak adanya hambatan dalam melakukan komunikasi verbal maupun non verbal.
3.5.3        Klien mampu mengembangkan hubungan dengan orang lain.














BAB  IV
PENUTUP
4.1         Kesimpulan
Menurut Smeltzer, 2001, Otitis Media Akut (OMA) merupakan suatu infeksi pada telinga tengah yang disebabkan karena masuknya bakteri patogenik ke dalam telinga tengah. Penyebab utama dari OMA adalah tersumbatnyasaluran/tuba eustachius yang bisa disebabkan oleh proses peradangan akibatinfeksi bakteri yang masuk ke dalam tuba eustachius tersebut, kejadian ISPA yangberulang pada anak juga dapat menjadi faktor penyebab terjadinya OMA padaanak.
Stadium OMA dapat terbagi menjadi lima stadium, antara lain: StadiumHiperemi, Oklusi, Supurasi, Koalesen, dan Stadium Resolusi. Dimana manifestasidari OMA juga tergantung pada letak stadium yang dialami oleh klien. Terapi dariOMA juga berdasar pada stadium yang dialami klien. Dari perjalanan penyakitOMA, dapat muncul beberapa masalah keperawatan yang dialami oleh klien,antara lain: gangguan rasa nyaman (nyeri), perubahan sensori persepsipendengaran, gangguan komunikasi, dan kecemasan.
4.2         Saran
1.           Untuk instansi
Untuk pencapaian kualitas keperawatan secara optimal, sebaiknya proses keperawatan selalu dilaksanakan secara berkesinambungan.
2.      Untuk klien dan keluarga
Perawatan tidak kalah pentingnya dengan pengobatan karena bagaimanapun teraturnya pengobatan tanpa perawatan yang sempurna maka penyembuhan yang diharapkan tidak tercapai.







DAFTAR PUSTAKA
NANDA 2012-2014. Diagnosis keperawatan Definisi dan Klasifikasi. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Judithy M. Wilkinson. Nancy R. Ahern (2011). Buku saku keperawatan. Diagnosa NANDA, Intervensi NIC. Kriteria hasil NOC. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Doenges marilynn (2000), Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta






Kusta (Morbus hansen)

BAB I PENDAHULUAN 1.1          Latar belakan g Kusta merupakan penyakit yang banyak menyerang kulit dan syaraf. Kusta atau yang d...