Tugas kelompok
Mata kuliah : Sistem Sonsori Persepsi
Nama dosen : Ns. Haikal Alpin S.kep, CWCCA
MAKALAH
SISTEM SONSORI PERSEPSI
( OTITIS MEDIA )
DISUSUN
OLEH
KELOMPOK
I
|
1. Ahmad
Risal
|
6. Maaureen Batseba Philipus
|
|
2. Andi
Aswandi
|
7. Masrandi Ekram
|
|
3. Adris
Bari
|
8. Nuraini Burhan
|
|
4. Betjie
Sinamona
|
9. Samsu alang
|
|
5. Bonifilio
Mantur
|
10. Umiati S. Bakar
|
PROGRAN STUDI ILMU KEPERAWATAN
STIKES GRAHA EDUKASI MAKASSAR
TAHUN AKADEMIK
2014/2015
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami
panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan inayah-Nya sehingga
makalah ini dapat terselesaikan guna memenuhi salah satu tugas kami sebagai mahasiswa S1 keperawatan, stikes
graha edukasi.
Adapun judul makalah
ini yaitu Sistem sensori persepsi “ Otitis
media ”. Penulis
menyadari atas kekurangan kemampuan penulis dalam pembuatan makalah ini,
sehingga akan menjadi suatu kehormatan besar bagi penulis apabila mendapatkan
kritikan dan saran yang membangun agar makalah ini selanjutnya akan lebih baik
dan sempurna serta komprehensif.
Pada kesempatan ini
kami, tak lupa penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya pula
kepada :
1. Ns.
Haikal Alpin S.kep, CWCCA. Selaku dosen pembimbing kami.
2. Semua
anggota kelompok 1 atas waktunya dalam pembuatan makalah ini.
Demikian akhir kata dari penulis, semoga makalah ini bermanfaat bagi semua
pihak dan pembelajaran budaya khususnya dalam segi teoritis sehingga dapat
membuka wawasan ilmu pengetahuan serta akan menghasilkan yang lebih baik di
masa yang akan datang.
DAFTAR
ISI
Sampul......................................................................................................................... i
Kata
pengantar............................................................................................................ ii
Daftar isi.................................................................................................................... iii
BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar
belakang................................................................................................ 1
1.2 Rumusan
masalah........................................................................................... 2
1.3 Tujuan............................................................................................................. 2
1.4 Manfaat........................................................................................................... 2
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi............................................................................................................. 3
2.2 Etiologi............................................................................................................. 3
2.3 Patofisiologi..................................................................................................... 4
2.4 Manifestasi
Klinik............................................................................................ 4
2.5 Penatalaksanaan............................................................................................... 5
2.6 Penyimpangan
KDM....................................................................................... 6
BAB III. ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Pengkajian...................................................................................................... 7
3.2 Diagnosa
keperawatan................................................................................... 8
3.3 Rencana
tindakan........................................................................................... 8
3.4 Implamentasi................................................................................................. 11
3.5 Evaluasi......................................................................................................... 11
BAB IV. PENUTUP
4.1.Kesimpulan
................................................................................................... 12
4.2.Saran ............................................................................................................. 12
Daftar pustaka........................................................................................................ 13
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
belakang
Otitis Media
adalah suatu infeksi pada telinga tengah yang disebabkan karena masuknya
bakteri patogenik ke dalam telinga tengah (Smeltzer, 2001). Otits media akut
(OMA) dapat terjadi kare beberapa faktorpenyebab, seperti sumbatan tuba
eustachius (merupakan penyebab utama darikejadian otitis media yang menyebabkan
pertahanan tubuh pada silia mukosa tubaeustachius terganggu), ISPA (infeksi
saluran pernafasan atas), dan bakteri( Streptococcus peumoniae, Haemophylus
influenza, Moraxella catarrhalis,dan bakteri piogenik lain, seperti
Streptococcus hemolyticus, Staphylococcus aureus, E. coli, Pneumococcus
vulgaris).
Di Amerika
Serikat, diperkirakan bahwa sekitar 9,3 juta anak-anak mengalami serangan
OMA pada 2 tahun pertama kehidupannya (Berman, 1995).Menurut Teele (1991) dalam
Commissoet al. (2000), 33% anak akan mengalamisekurang-kurangnya satu episode
OMA pada usia 3 tahun pertama. Terdapat 70%anak usia kurang dari 15 tahun
pernah mengalami satu episode OMA (Bluestone,1996). Faktanya, ditemukan bahwa
otitis media menjadi penyebab 22,7% anak-anak pada usia dibawah 1 tahun dan 40%
anak-anak pada usia 4 sampai dengan 5tahun yang datang berkunjung ke dokter
anak. Selain itu, sekitar sepertigakunjungan ke dokter didiagnosa sebagai OMA
dan sekitar 75% kunjungan balik ke dokter adalah untuk follow-up. penyakit
otitis media tersebut (Teeleet al.,1989).
Menurut
Casselbrant (1999) dalam Titisari (2005), menunjukkan bahwa19% hingga 62%
anak-anak mengalami sekurang-kurangnya satu episode OMAdalam tahun pertama
kehidupannya dan sekitar 50-84% anak-anak mengalamipaling sedikit satu episode
OMA ketika ia mencapai usia 3 tahun. Di AmerikaSerikat, insidens OMA tertinggi
dicapai pada usia 0 sampai dengan 2 tahun,diikuti dengan anak-anak pada usia 5
tahun.
1.2
Rumusan
masalah
1.2.1
Bagaimanakah konsep medis pada
penderita otitis media ?
1.2.2
Bagaimanakah konsep proses keperawatan
pada penderita otitis media ?
1.3
Tujuan
1.3.1
Mengetahui definisi otitis media
1.3.2
Mengetahui etiologi otitis media
1.3.3
Mengetahui patofisiologi otitis media
1.3.4
Mengetahui manifestasi otitis media
1.3.5
Mengetahui pemeriksaan dignostik
pada otitis media
1.3.6
Mengetahui asuhan keperawatan
pasien dengan otitis media
1.4
Manfaat
1.4.1
Mahasiswa mampu dan mengerti tentang konsep medis dan
konsep keperawatan otitis media
1.4.2
Mahasiswa mampu menerapkan asuhan keperawatan
pada pasien otitis media, serta mampu mengimplementasikannya
dalam proses keperawatan.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1
Definisi
OMA (Otitis
Media Akut) adalah peradangan akut atau seluruh pericilium telinga tengah (Mansjoer,
2001)
OMA adalah
infeksi atau inflamasi (peradangan) di telinga tengah.
OMA adalah
infeksi telinga tengah oleh bakteri atau virus, dapat terjadi pada semua usia,
tetapi paling sering ditemukan pada anak-anak terutama pada usia 3 bulan s/d 3
tahun
OMA adalah
peradangan telinga bagian tengah yang disebabkan oleh pejalaran infeksi dari
tenggorok (farinitis) A sering terjadi pada anak-anak (Wikipedia Bahasa
Indonesia, Ensiklopedia Bebas).
2.2
Etiologi
Penyebab
Otitis Media Akut aktif (OMA) dapat merupakan vius maupun bakteri. Virus atau
bakteri dari tenggorokan (penderita infeksi saluran pernapasan atas) dapat
sampai ke telinga tengah melalui tuba eustachius / kadang melalui aliran darah.
Bakteri penyebab OMA adalah bakteri
piogenik seperti :
·
streptococcus,
·
hemolytitus,
·
staphylocottus aureus,
·
pneumokous,
·
influenza,
·
etolr,
·
s.anhemolytyticus,
·
p.vulgaris, dan
·
p.aeroginosa,
·
mora xella cattan halis.
2.3
Fatopisiologi
Otitis media
sering diawali dengan infeksi pada saluran napas (ISPA) yang diebabkan oleh
bakteri, kemudian menyebar ke telinga tengah melewati tuba eustachius. Ketika
bakteri memasuki tuba eustachius maka dapat menyebabkan infeksi dan terjadi
pembengkakan, peradangan pada saluran tersebut. Proses peradangan yang terjadi
pada tuba eustachius menyebabkan stimulasi kelenjar minyak untuk menghasilkan
sekret yang terkumpul di belakang membran timpani. Jika sekret bertambah banyak maka akan menyumbat saluran eustachius,
sehingga pendengaran dapat terganggu karena membran timpani dan tulang osikel
(maleus, incus, stapes) yang menghubungkan telinga bagian dalam tidak dapat
bergerak bebas. Selain mengalami gangguan pendengaran, klien juga akan
mengalami nyeri pada telinga.
Otitis media
akut (OMA) yang berlangsung selama lebih dari dua bulan dapat berkembang
menjadi otitis media supuratif kronis apabila faktor higiene kurang
diperhatikan, terapi yang terlambat, pengobatan tidak adekuat, dan adanya daya
tahan tubuh yang kurang baik.
2.4
Manifestasi Klinis
Gejala klinis OMA tergantung pada
stadium penyakit dan umur pasien. Biasanya gejala awal berupa sakit telinga
tengah yang berat dan menetap. Biasa tergantung gangguan pendengaran yang
bersifat sementara.Pada anak kecil dan bayi dapat mual, muntah, diare, dan
demam sampai 39,50oC, gelisah, susah tidur diare, kejang, memegang
telinga yang sakit.Gendang telinga mengalami peradangan yang menonjol. Keluar
cairan yang awalnya mengandung darah lalu berubah menjadi cairan jernih dan
akhirnya berupa nanah (jika gendang telinga robek). Stadium OMA
berdasarkan perubahan mukosa telinga tengah : Stadium Oklusi Tuba Eustachius Terdapat
Oklusi retraksi membran timpani akibat tekanan negativ di dalam telinga
tengah. Berwarna normal atau keruh pucat.
a.
Stadium hiperemis (Presupurasi)
Seluruh membran timpani tampak hiperemis dan edema karma
pembuluh darah yang melebar.
Sekret yang terbentuk bersifat eksudat serosa, sukar terlihat.
b.
Stadium Supurasi
Membran timpani menonjol ke telinga luar karena edema pada
mukosa telinga tengah.
Hancurnya sel epitel superficial.
Terbentuknya eksudat purulen di kavium timpani.
c.
Stadium Peforasi
Ruptur membran timpani.
Nanah keluar mengalir dari telinga tengah ke telinga luar.
Pasien mulai tenang, suhu badan turun dan dapat tidur nyenyak.
d.
Stadium Resolusi
Bila membran timpani tetap utuh, maka perlahan-lahan akan
normal kembali.
Jika
peforasi menetap dengan sekret yang keluar terus-menerus / hilang timbul lebih
dari tiga minggu terjadilah OMSK
2.5
Penatalaksanaan
Terapi OMA tergantung pada stadiumnya. Pada stadium oklusi, tujuan terapi
dikhususkan untuk membuka kembali tuba eustachius. Diberikan obat tetes hidung
HCl efedrin 0,5% dalam larutan fisiologik untuk anak <12 thn dan HCl efedrin
1% dalam larutan fisiologik untuk anak yang berumur >12 thn atau dewasa..
selain itu, sumber infeksi juga harus diobati dengan memberikan antibiotik . Pada stadium presupurasi, diberikan
antibiotik, obat tetes hidung, dan analgesik. Bila membran timpani sudah
hiperemi difus, sebaiknya dilakukan miringotomi. Antibiotik yang diberikan
ialah penisilin atau eritromisin. Jika terdapat resistensi, dapat diberikan
kombinasi dengan asam klavunalat atau sefalosporin. Untuk terapi awal diberikan
penisilin IM agar konsentrasinya adekuat di dalam darah. Antibiotik diberikan
minimal selama 7 hari. Pada anak diberikan ampisilin 4x50-100 mg/KgBB,
amoksisilin 4x40 mg/KgBB/hari, atau eritromisin 4x40 mg/kgBB/hari.
Pengobatan stadium supurasi selain antibiotik, pasien harus dirujuk untuk
dilakukan miringotomi bila membran timpani masih utuh. Selain itu, analgesik
juga perlu diberikan agar nyeri dapat berkurang.
Pada stadium perforasi, diberikan obat cuci telinga H2O2 3% selama 3-5 hari serta antibiotik yang adekuat sampai 3 minggu.
Pada stadium perforasi, diberikan obat cuci telinga H2O2 3% selama 3-5 hari serta antibiotik yang adekuat sampai 3 minggu.
Stadium resolusi biasanya akan tampak sekret mengalir keluar. Pada keadaan
ini dapat dilanjutkan antibiotik sampai 3 minggu, namun bila masih keluar
sekret diduga telah terjadi mastoiditis.
2.6
Penyimpangan KDM
ISPA
Otitis ekstema mendesak
Invasi
bakteri Terjadinya robekan

membran timpani
Ujung
saraf nyeri terangsang Akumulasi cairan mokus Bocornya cairan serebraspinal
|
|
|
BAB
III
ASUHAN
KEPERAWATAN
3.1
Pengkajian
1.
Identitas / Data demografi
Berisi nama,
usia, jenis kelamin, pekerjaan yang sering terpapar sinar matahari secara
langsung, tempat tinggal sebagai gambaran kondisi lingkungan dan keluarga,
dan keterangan lain mengenai identitas pasien.
2. Pola
persepsi kesehatan dan pemeliharaan kesehatan
- Adanya
riwayat merokok
- Selalu
minum minuman beralkohol
- Pernah
terjatuh/ terjadi benturan kepala
3. Pola nutrisi
metabolik
- Mual,
muntah, tidak nafsu makan
- Menunjukan
tanda dehidrasi, membran mukosa kering
- Adanya
alergi pada makan tertentu
4. Pola
aktivitas dan latihan
- Aktivitas
terbatas
- Kebiasaan merokok
- Pola tidur dan
istirahat
- Keluhan kurang tidur
5. Pola
persepsi dan konsep diri
- Adanya perubahan citra diri.
- Klien merasa rendah diri
- Harga diri rendah
6. Pola
kognitif dan persepsi sensori
- Sejauh mana
pengetahuan klien tentang penyakitnya
- Kemampuan
mengatasi masalah
- Melemahnya
proses berfikir
7. Pola peran
dan hubungan dengan sesama
- Terganggunya
akibat penyakit
- Merasa malu
dengan penyakit yang diderita
- Merasa
terasingkan oleh orang lain
8. Pola
seksualitas dan reproduksi
-
Menurunnya libido
9. Mekanisme
dan toleransi terhadap stress
- Mengingkari
- Marah
- Putus asa
- Mudah emosi
- Mudah
tersinggung
3.2
Diagnosa
keperawatan
1. Gangguan
rasa nyaman ( 00214 ) berhubungan dengan proses peradangan pada telinga tengah
yang menimbulkan rasa nyeri.
2.
Hambatan komunikasi verbal ( 00051 ) berhubungan
dengan efek kehilangan pendengaran
3.
Isolasi sosial ( 00053 ) berhubungan dengan otore
berbau busuk.
3.3
Rencana
tindakan
|
No
|
Diagnosa
Keperawatan
|
Tujuan
/Kriteria Hasil
|
Intervensi
|
Rasional
|
|
1.
(598)
|
Gangguan rasa nyaman
( 00214 ) berhubungan dengan proses peradangan pada telinga tengah yag
menimbulkan rasa nyeri
Definisi : Merasa kurang senang, lega, dan
sempurna dalam segala dimensi fisik, fisikospiritual, lingkunagan dan sosial.
Ditandai dengan batasan karakteristik:
DS :
o Klien
mengatakan merasa tergangu jika rasa
nyeri muncul
o Klien
merasa kurang puas dengan keadaannya saat ini
o Adanya
rasa nyeri pada terlinga
DO :
o Klien
nampak berkeluh kesah
o Klien
nampak merasa putus asa
|
Setelah dilakukan asuhan keperawatan
selama 3 x 24 jam, diharapkan rasa nyeri berkurang, dengan kriteria hasil :
o Klien merasa rileks
o Klien mengatakan nyeri
berkurang/hilang
o Skala nyeri 0-1
|
1. Kaji derajat nyeri setiap hari.
2. Anjurkan klien untuk tidak melakukan gerakan
tiba-tiba yang dapat memprovokasi nyeri.
3. Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi.
4. Berikan pendidikan kesehatan mengenai
hal-hal yang dapat mengurangi bertambahnya nyeri akibat meningkatnya TIO
seperti tidak membungkuk terlalu dalam
(anjurkan pasien melakukan ibadah salat dalam posisi duduk) dan tidur
berbaring ke arah mata yang sehat.
5. Lakukan tindakan kolaboratif untuk pemberian
analgesic topical atau sistemik.
|
1.
Untuk mengetahui skala nyeri pada klien.
2.
Agar nyeri tidak mudah timbul.
3.
Untuk mengurangi rasa nyeri.
4.
Agar klien dapat mengontrol dan mengetahui hal-hal
yang dapat menimbilkan nyeri.
5.
Agar rasa nyeri berkurang, dan masalah klien tdapat
teratasi.
|
|
2.
(366)
|
Hambatan
komunikasi verbal ( 00051 ) berhubungan dengan efek kehilangan pendengaran
Definisi
:Penurunan, kelembaban, atau ketidak mampuan untuk menerima, memproses,
mengirim, dan atau menggunakan sistem simbol
Ditandai
dengan batasan karakteristik :
Ds :
o
Klien mengatakan mengalami masalah dalam
berkomunikasi dengan orang lain
DO :
o
Klien nampak sedikit kesulitan dalam mendengar/
menerima informasi dari orang lain
o
Klien merasa kesulitan dalam mempertahankan pola
komunikasi yang biasa.
o
Disorientasi waktu
|
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam , diharapkan Klien
dapat kembali mendengar dan melakukan komunikasi dengan baik,
ditandai dengan kriteria hasil :
o Klien dapat berkomunikasi dengan baik
o Klien
dapat menerima pesan melalui metoda pilihan (misal : komunikasi tulisan, bahasa lambang, berbicara dengan
jelas pada telinga yang baik..
|
1.
Kaji
kemampuan untuk menerima pesan secara verbal.
2.
Dapatkan
apa metode komunikasi yang dinginkan dan catat pada rencana perawatan metode
yang digunakan oleh staf dan klien, seperti : tulisan, berbicara, ataupun
bahasa isyarat.
3. Gunakan faktor-faktor yang meningkatkan pendengaran dan pemahaman.
|
1.
Untuk mengetahui kemampuan klien dalam menerima
informasi secara verbal
2.
Dengan
mengetahui metode komunikasi yang diinginkan oleh klien maka metode yang akan
digunakan dapat disesuaikan dengan kemampuan dan keterbatasan klien.
3.
Memungkinkan
komunikasi dua arah anatara perawat dengan klien dapat berjalan dnegan baik
dan klien dapat menerima pesan perawat secara tepat.
|
|
3.
(606)
|
Isolasi
sosial ( 00053 ) berhubungan dengan otore berbau busuk.
Definisi :
Kesepian
yang dirasakan olh individu dan dirasakan saat didorong oleh keberadaan orang
lain dan sebagai pernyataan negatif atau mengancam
Ditandai
dengan batasan karakteristik :
DS :
o
Klien mengatakan malu jika berdekatan dengan orang
lain
o
Klien mengatakan selalu ingin sendiri
DO :
o
Klien menunjukkan sikap menarik diri
|
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selam 3x24 jam , diharapkan klien mampu mengembangkan hubungan degan orang
lain. dengan kriteria hasil :
o Klien
mampu berinteraksi dengan orang lain
o Klien
tidak merasa malu dengan keadaannya
|
1.
Bina hubungan saling percaya dengan klien
2.
Yakinkan klien bahwa setelah dilakukan pengobatan /
pembedahan cairan akan keluar dan bau busuk akan hilang.
|
-
1.
Hubungan saling percaya dapat menjadi dasar
terjadinya hubungan sosial.
2.
Klien akan kooperatif /
berpartisipasi dalam persiapan pembedahan dan pengobatan.
|
3.4
Implamentasi
Implementasi
disesuaikan dengan intervensi pada rencana intervensi
3.5
Evaluasi
3.5.1
Klien merasa lebih nyaman.
3.5.2
Tidak adanya hambatan dalam melakukan
komunikasi verbal maupun non verbal.
3.5.3
Klien mampu mengembangkan hubungan dengan orang lain.
BAB IV
PENUTUP
4.1
Kesimpulan
Menurut
Smeltzer, 2001, Otitis Media Akut (OMA) merupakan suatu infeksi pada telinga
tengah yang disebabkan karena masuknya bakteri patogenik ke dalam telinga
tengah. Penyebab utama dari OMA adalah tersumbatnyasaluran/tuba eustachius yang
bisa disebabkan oleh proses peradangan akibatinfeksi bakteri yang masuk ke
dalam tuba eustachius tersebut, kejadian ISPA yangberulang pada anak juga dapat
menjadi faktor penyebab terjadinya OMA padaanak.
Stadium OMA
dapat terbagi menjadi lima stadium, antara lain: StadiumHiperemi, Oklusi,
Supurasi, Koalesen, dan Stadium Resolusi. Dimana manifestasidari OMA juga
tergantung pada letak stadium yang dialami oleh klien. Terapi dariOMA juga
berdasar pada stadium yang dialami klien. Dari perjalanan penyakitOMA, dapat
muncul beberapa masalah keperawatan yang dialami oleh klien,antara lain:
gangguan rasa nyaman (nyeri), perubahan sensori persepsipendengaran, gangguan
komunikasi, dan kecemasan.
4.2
Saran
1.
Untuk instansi
Untuk pencapaian kualitas keperawatan secara optimal, sebaiknya
proses keperawatan selalu dilaksanakan secara berkesinambungan.
2. Untuk klien
dan keluarga
Perawatan tidak kalah pentingnya dengan pengobatan
karena bagaimanapun teraturnya pengobatan tanpa perawatan yang sempurna maka
penyembuhan yang diharapkan tidak tercapai.
DAFTAR
PUSTAKA
NANDA
2012-2014. Diagnosis keperawatan Definisi
dan Klasifikasi. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Judithy
M. Wilkinson. Nancy R. Ahern (2011). Buku
saku keperawatan. Diagnosa NANDA, Intervensi NIC. Kriteria hasil NOC. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Doenges marilynn (2000), Rencana Asuhan
Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien,
Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta