BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
belakang
Kusta
merupakan penyakit yang banyak menyerang kulit dan syaraf. Kusta atau yang di
kenal juga dengan Leprosy/hansen’s Disiase, dapat menyebabkan gangguan
pada kulit, mati rasa, dan kelumpuhan pada tangan dan kaki. Selain itu, kusta
dapat menterang sistim pernapasan atas, mata, dan membrane selaputlendir. Kusta
dapat menular melalaui kontak kulit dengan penderita atau melalui bersin.
Saat
ini, penyakit kusta ini bukan hanya menjadi permasalahan di bidang kesehatan
saja. Namun, telah termanifestasi pula ke dalam permasalahan psikososial.
Hal ini di karenakan adanya leprophobia (rasa takut yang berlebihan pada
penyakit kusta) yang menjadi salah satu dampak psikososial yang di
sebabkan oleh penyakit ini. Leprophobia tidak hanya di alami oleh masyarakat
awam, tetapi juga pada tenaga medis dan tenaga kesehatan lainya yang bekerja di
bidang pelayanan kesehatan.
Pada umumnya, penyakit kusta
terdapat di negara yang sedang berkembang, dan sebagian besar penderitanya
adalah dari golongan ekonomi lemah. Hal ini karna akibat keterbatasan kemempuan
negara tersebut dalam memberikan pelayanan yang memedai di bidang kesehatan,
pendidikan, dan kesejahtraan sosial ekonomi pada masyarakat.
Penyakit
Kusta adalah salah satu penyakit menular, dapat menyebabkan cacat, dan keadaan
ini menjadi penghalang bagi pasien kusta dalam menjalani kehidupan
bermasyarakat untuk memenuhi kebutuhan sosial ekonominya. ( Widoyono,
2005 ).
Kusta
adalah penyakit yang menahun dan di sebabkan oleh kuman kusta
(mycobacterium leprae) yang menyerang syaraf tepi,kulit dan jaringan
tubuh lainnya. (Depkes RI,1998).
1.2
Rumusan masalah
Berdasarkan
latar belakang yang sudah dikemukakan diatas, adapun rumusan masalah yang
muncul pada pembuatan Askep ini adalah sebagai berikut :
1.2.1
Bagaimanakah konsep medis penyakit Morbus hansen ?
1.2.2
Bagaimanakah konsep proses keperawatan
pada penderita Morbus
Hansen ?
1.3
Tujuan
Berdasarkan
rumusan masalah yang sudah dirumuskan diatas, adapun tujuan dari pembuatan
Askep ini, adalah agar mahasiswa dapat mengeratahui sebagai berikut :
1.3.1
Pengertan penyakit Morbus hansen
1.3.2
Klasifikasi penyakit Morbus hansen
1.3.3
Etiologi penyakit Morbus hansen
1.3.4
Patofisiologi penyakit Morbus hansen
1.3.5
Manifestasi Klinis penyakit Morbus hansen
1.3.6
Pemeriksaan
diagnostic penyakit Morbus hansen
1.3.7
Komplikasi penyakit Morbus hansen
1.3.8
Penatalaksanaan
penyakit Morbus hansen
1.3.9
Penyimpangan KDM penyakit Morbus hansen.
1.3.10 Asuhan keperawatan penyakit Morbus
hansen.
1.4
Manfaat
Adapun manfaat
yang ingin dicapai setelah membahas Askep ini, diharapkan mahasiswa mampu
sebagai berikut :
1.4.1
Mengerti tentang konsep Medis dan konsep keperawatan penyakit
Morbus hansen.
1.4.2
Mampu menerapkan asuhan keperawatan pada pasien Morbus hansen.
BAB
II
KONSEP
MEDIS
2.1
Definisi
Morbus
Hansen adalah penyakit infeksi yang kronis, disebabkan oleh Mikrobakterium
leprae yang obligat intra seluler yang menyerang syaraf perifer, kulit, mukosa
traktus respiratorik bagian Atas kemudian menyerang organ-organ lain kecuali
susunan saraf pusat.
Kusta adalah
penyakit yang menahun dan disebabkan oleh kuman kusta (mikobakterium leprae)
yang menyerang syaraf tepi, kulit dan jaringan tubuh lainnya. (Depkes RI, 1998)
Kusta merupakan
penyakit kronik yang disebabkan oleh infeksi mikobakterium leprae. (Mansjoer
Arif, 2000).
2.2
Klasifikasi
1.
Kusta
Bentuk Kering (Tipe Tuberkuloid)
a)
Merupakan
bentuk yang tidak menular
b)
Kelainan
kulit berupa bercak keputihan sebesar uang logam atau lebih, jumlahnya
biasanya hanya beberapa, sering di pipi, punggung, pantat, paha atau lengan.
Bercak tampak kering, perasaan kulit hilang sama sekali,kadang-kadang tepinya
meninggi.
c)
Pada
Tipe ini lebih sering di dapatkan kelainan urat saraf tepi pada ,sering gejala
kulit tak begitu menonjol tetapi gangguan saraf lebih jelas
d)
Komplikasi
Saraf serta kecatatan relative lebih sering terjadi dan timbul
lebih awal darib pada bentuk basah
e)
Pemeriksaan
Bakteriologis sering kali Negatif, berarti tidak di temukan adanya kuman
penyebab
f)
Bentuk
ini merupakan yang paling banyak di dapatkan di Indonesia dan
terjadi pada orang yang daya tahan tubuhnya terhadap
kuman kusta cukup tinggi
2.
Kusta
Bentuk Basah (Tipe Leprometosa )
a)
Merupakan
bentuk menular karena banyak kuman dapat di temukan baik di selaput lendir hidung, kulit maupun organ
tubuh lain
b)
Jumlahnya
lebih sedikit di bandingkan kusta bentuk kering dan terjadi pada
orang yang daya tahan tubuhnya rendah dalam menghadapi kuman kusta
c)
Kelainan
kulit bisa berupa bercak kemerahan, bisa kecil-kecil dan tersebar
di seluruh badan ataupun sebagai penebalan kulit yang luas (infiltrat)
yang tampak mengkilap dan berminyak. Bila juga sebagai benjolan-benjolan
merah sebesar di badan, muka dan daun telinga
d)
Sering
di sertai rontoknya alis mata, menebalnya cuping telinga dan kadang-kadang
terjadi hidung pelana karena rusaknya tulang rawan hidung
e)
Kecacatan
pada bentuk ini umumnya terjadi pada fase lanjut dari perjalanan
penyakit
f)
Pada
bentuk yang parah bisa terjadi “ muka singa “ (facies
leonine).
2.3
Etiologi
Mikobakterium
leprae merupakan basil tahan asam (BTA) bersifat obligat intraseluler,
menyerang saraf perifer, kulit dan organ lain seperti mukosa saluran nafas
bagian atas, hati, sumsum tulang kecuali susunan saraf pusat. Masa membelah
diri mikobakterium leprae 12-21 hari dan masa tunasnya antara 40 hari-40 tahun.
Kuman kusta berbentuk batang dengan ukuran panjang 1-8 micro, lebar 0,2-0,5
micro biasanya berkelompok dan ada yang disebar satu-satu, hidup dalam sel dan
BTA.
2.4
Patofisiologi
1. Adanya lesi kulit yang khas dan
kehilangan sensabilitas lesi kulit dapat tunggal atau multipel biasanya hipopigmentasi
tetapi kadang-kadang lesi kemerahan atau berwarna tembaga biasanya berupa : macula,papul,
nodul, kehilangan sensabilitas pada lesi kulit merupakan
gambaran khas. Kerusakan saraf terutama saraf tepi ,
bermanifestasi ssebagai kehilangan sensabilitas kulit
dan kelemahan otot.
2. BTA Positif
Pada beberapa kasus di
temukan BTA di kerokan jaringan kulit. Kelainan Kulit : Seperti
a)
Kelainan
kulit berupa bercak merah atau putih, atau benjolan
b)
Kulit
mengkilap
c)
Bercak
tidak gatal
d)
Adanya
bagian-bagian tubuh yang tidak berkeringat atau tidak berambut
e)
Lepuh
tidak nyeri
f)
Permukaan
bercak kering dan kasar
g)
Batas
( pinggir ) bercak terlihat jelas dan sering ada bintil-bintil kecil.
h)
Terjadi
penebalan dan pembengkakan pada bercak.
Tanda-Tanda
Pada Saraf
1.
Rasa
kesemutan, tertusuk-tusuk dan nyeri pada anggota badan atau muka
2.
Gangguan
gerak anggota badan atau bagian muka
3.
Adanya
cacat ( Deformitas )
4.
Luka
yang tidak sakit
Adapun
3 gejala utama ( cardinal sign ) yang di timbulkan dari penyakit
kusta adalah :
1. Macula hipogpigmentasi atau anastesi pada kulit
2. Kerusakan Saraf Perifer
3. Hasil pemeriksaan Laboratorium dari
kerokan kulit menunjukan BTA positif
2.5
Manifestasi Klinis
Cara penularan yang pasti belum di
ketahui, tatapi menurut sebagian besar ahli melalui saluran pernafasan (
inhalasi ) dan kulit ( kontak langsung yang lama dan erat ).kuman mencapai
permukaan kulit melalui volikel rambut, kelenjar keringat, dan di duga
melalui air susu ibu.beberapa hipotesis telah di kemukakan seperti
adanya kontak dekat dan penularan dari udara.
Penyakit ini sering di percaya bahwa
penularanya di sebabkan oleh kontak antara orang yang terinfeksi dan orang yang
sehat.Melalaui kulit yang lecet pada bagian tubuh yang ber suhu dingin dan
melalui mukosa nasal. Pengaruh mycobacterium leprae ke kulit tergantung
factor imunitas seseorang ke mamapuan hidup mycobacterium leprae pada
suhu yang rendah, waktu regenerasi lama serta sifat kuman yang aviluren
dan non toksis. Mycobacterium leprae terurama terdapat pada sel
makrofag di sekitar pembuluh darah superior pada dermis atau sel Schwann
jaringan saraf, bila kuman masuk tubuh bereaksi mengeluarkan makrofag ( berasal
dari monosit darah, histiosit )untuk memfagosit.
Setelah
mikobakterium leprae masuk dalam tubuh, perkembangan penyakit kusta
bergantung pada kerentangan seseorang. Respon tubuh setelah masa tunas
dilampaui tergantung pada derajat sistim imunutas seluler ( celluluer midialet
immune ) pasien. Kalau sistim imunitas seluluer tinggi, penyakit berkembang ke
arah tuber koloid dan bila rendah, berkembang ke arah lepromatosa.
Mikobakterium leprae berpredileksi di dearah-daerah yang relative lebih
dingin, yaitu daerah akral dengan vaskularisasi yang sedikit.
Derajat
penyakit tidak selalu se banding dengan derajat infeksi karna respon Imun pada
tiap pasien berbeda. Gejala klinis lebih se banding dengan tingkat reaksi
seluler daripada intensitas Infeksi. Oleh karna itu penyakit kusta dapat
di sebut sebagai penyakit Imunologi.
2.6
Pemeriksaan diagnostic
1. Pemeriksaan
Bakteriologis
Ketentuan pengambilan sediaan adalah
sebagai berikut:
1.
Sediaan diambil dari kelainan kulit
yang paling aktif.
2.
Kulit muka sebaiknya dihindari karena
alasan kosmetik kecuali tidak ditemukan lesi ditempat lain.
3.
Pemeriksaan ulangan dilakukan pada lesi
kulit yang sama dan bila perlu ditambah dengan lesi kulit yang baru timbul.
4.
Lokasi pengambilan sediaan apus untuk
pemeriksaan mikobakterium leprae ialah:
Ø Cuping telinga
kiri atau kanan
Ø Dua sampai
empat lesi kulit yang aktif ditempat lain
5.
Sediaan dari selaput lendir hidung
sebaiknya dihindari karena:
Ø Tidak
menyenangkan pasien
Ø Positif palsu
karena ada mikobakterium lain
Ø Tidak pernah
ditemukan mikobakterium leprae pada selaput lendir hidung apabila sedian apus
kulit negatif.
Ø Pada
pengobatan, pemeriksaan bakterioskopis selaput lendir hidung lebih dulu negatif
dari pada sediaan kulit ditempat lain.
6.
Indikasi pengambilan sediaan apus
kulit:
Semua orang
yang dicurigai menderita kusta
Ø Semua pasien
baru yang didiagnosis secara klinis sebagai pasien kusta
Ø Semua pasien
kusta yang diduga kambuh (relaps) atau karena tersangka kuman resisten terhadap
obat
7.
Pemerikaan bakteriologis dilakukan
dengan pewarnaan tahan asam, yaitu ziehl neelsen atau kinyoun gabett
8.
Cara menghitung BTA dalam lapangan
mikroskop ada 3 metode yaitu cara zig zag, huruf z, dan setengah atau
seperempat lingkaran. Bentuk kuman yang mungkin ditemukan adalah bentuk utuh
(solid), pecah-pecah (fragmented), granula (granulates), globus dan clumps.
2.
Indeks Bakteri (IB):
Merupakan ukuran semikuantitatif kepadatan BTA dalam
sediaan apus. IB digunakan untuk menentukan tipe kusta dan mengevaluasi hasil
pengobatan. Penilaian dilakukan menurut skala logaritma RIDLEY sebagai berikut:
1. Bila tidak ada
BTA dalam 100 lapangan pandang
2. Bila 1-10 BTA
dalam 100 lapangan pandang
3. Bila 1-10 BTA
dalam 10 lapangan pandang
4. Bila 1-10 BTA
dalam rata-rata 1 lapangan pandang
5. Bila 11-100 BTA
dalam rata-rata 1 lapangan pandang
6. Bila 101-1000
BTA dalam rata-rata 1 lapangan pandang
7. Bila >1000
BTA dalam rata-rata 1 lapangan pandang.
3.
Indeks Morfologi (IM)
Merupakan persentase BTA bentuk utuh terhadap seluruh
BTA. IM digunakan untuk mengetahui daya penularan kuman, mengevaluasi hasil
pengobatan, dan membantu menentukan resistensi terhadap obat.
2.7
Penatalaksanaan
1. Terapi madik
Tujuan utama
program pemberantasan kusta adalah penyembuhan pasien kusta dan mencegah
timbulnya cacat serta memutuskan mata rantai penularan dari pasien kusta
terutama tipe yang menular kepada orang lain untuk menurunkan insiden penyakit.
Program Multi
Drug Therapy (MDT) dengan kombinasi rifampisin, klofazimin, dan DDS dimulai
tahun 1981. Program ini bertujuan untuk mengatasi resistensi dapson yang
semakin meningkat, mengurangi ketidaktaatan pasien, menurunkan angka putus
obat, dan mengeliminasi persistensi kuman kusta dalam jaringan.
Rejimen
pengobatan MDT di Indonesia sesuai rekomendasi WHO 1995 sebagai berikut:
a)
Tipe PB ( PAUSE BASILER)
Ø Jenis obat dan
dosis untuk orang dewasa :
Ø Rifampisin
600mg/bln diminum didepan petugas
Ø DDS tablet 100
mg/hari diminum di rumah
Pengobatan 6 dosis diselesaikan dalam
6-9 bulan dan setelah selesai minum 6 dosis dinyatakan RFT meskipun secara
klinis lesinya masih aktif. Menurut WHO(1995) tidak lagi dinyatakan RFT tetapi menggunakan
istilah Completion Of Treatment Cure dan pasien tidak lagi dalam pengawasan.
b)
Tipe MB ( MULTI BASILER)
Jenis obat dan dosis untuk orang
dewasa:
Ø Rifampisin
600mg/bln diminum didepan petugas
Ø Klofazimin
300mg/bln diminum didepan petugas dilanjutkan dengan klofazimin 50 mg /hari
diminum di rumah
Ø DDS 100 mg/hari
diminum dirumah
Pengobatan 24 dosis diselesaikan dalam
waktu maksimal 36 bulan sesudah selesai minum 24 dosis dinyatakan RFT meskipun
secara klinis lesinya masih aktif dan pemeriksaan bakteri positif. Menurut WHO
(1998) pengobatan MB diberikan untuk 12 dosis yang diselesaikan dalam 12-18
bulan dan pasien langsung dinyatakan RFT.
c)
Dosis untuk anak
Klofazimin:
Ø Umur dibawah 10
tahun :
Ø Bulanan
100mg/bln
Ø Harian
50mg/2kali/minggu
Ø Umur 11-14
tahun
Ø Bulanan
100mg/bln
Ø Harian
50mg/3kali/minggu
d) Pengobatan MDT
terbaru
Metode ROM
adalah pengobatan MDT terbaru. Menurut WHO(1998), pasien kusta tipe PB dengan
lesi hanya 1 cukup diberikan dosis tunggal rifampisin 600 mg, ofloksasim 400mg
dan minosiklin 100 mg dan pasien langsung dinyatakan RFT, sedangkan untuk tipe
PB dengan 2-5 lesi diberikan 6 dosis dalam 6 bulan. Untuk tipe MB diberikan
sebagai obat alternatif dan dianjurkan digunakan sebanyak 24 dosis dalam 24
jam.
e) Putus obat
Pada pasien
kusta tipe PB yang tidak minum obat sebanyak 4 dosis dari yang seharusnya maka
dinyatakan DO, sedangkan pasien kusta tipe MB dinyatakan DO bila tidak minum
obat 12 dosis dari yang seharusnya.
2.
Perawatan umum
Perawatan pada
morbus hansen umumnya untuk mencegah kecacatan. Terjadinya cacat pada kusta
disebabkan oleh kerusakan fungsi saraf tepi, baik karena kuman kusta maupun
karena peradangan sewaktu keadaan reaksi netral.
a) Perawatan mata
dengan lagophthalmos
Ø Penderita
memeriksa mata setiap hari apakah ada kemerahan atau kotoran
Ø Penderita harus
ingat sering kedip dengan kuat
Ø Mata perlu
dilindungi dari kekeringan dan debu
b) Perawatan
tangan yang mati rasa
Ø Penderita
memeriksa tangannya tiap hari untuk mencari tanda- tanda luka, melepuh
Ø Perlu direndam
setiap hari dengan air dingin selama lebih kurang setengah jam
Ø Keadaan basah
diolesi minyak
Ø Kulit yang
tebal digosok agar tipis dan halus
Ø Jari bengkok
diurut agar lurus dan sendi-sendi tidak kaku
Ø Tangan mati
rasa dilindungi dari panas, benda tajam, luka
c) Perawatan kaki
yang mati rasa
Ø Penderita
memeriksa kaki tiap hari
Ø Kaki direndam
dalam air dingin lebih kurang ½ jam
Ø Masih basah
diolesi minyak
Ø Kulit yang
keras digosok agar tipis dan halus
Ø Jari-jari
bengkok diurut lurus
Ø Kaki mati rasa
dilindungi
d) Perawatan luka
Ø Luka
dibersihkan dengan sabun pada waktu direndam
Ø Luka dibalut
agar bersih
Ø Bagian luka
diistirahatkan dari tekanan
Ø Bila bengkak,
panas, bau bawa ke puskesmas
2.8
Pencegahan
1.
Penerangan dengan memberikan sedikit
penjelasan tentang seluk beluk penyakit
lepra pada pasien
2.
Pengobatan profilaksis dengan dosis yang
lebih rendah dari pada dosis therapeutic.
3. Vaksinasi
dengan BCG yang juga mempunyai daya profilaksis terhadap lepra
2.9 Penyimpangan
KDM
BAB
III
KONSEP
KEPERAWATAN
3.1
Pengkajian
1. Identitas
Klien
Mencakup Nama, umur Jenis Kelamin
alamat, pekerjaan pendidikan agama dll.
2.
Riwayat Kesehatan
Biasanya klien pernah menderita penyakit
atau masalah dengan kulit misalnya: penyakit panu.kurab. dan perawatan kulit
yang tidak terjaga atau dengan kata lain personal higine klien yang kurang
baik.
3. Riwayat
Psikososial
Klien yang menderita morbus hansen akan
malu karena sebagian besar masyarakat akan beranggapan bahwa penyakit ini
merupakan penyakit kutukan, sehingga klien akan menutup diri dan menarik diri,
sehingga klien mengalami gangguan jiwa pada konsep diri karena penurunan fungsi
tubuh dan komplikasi yang diderita.
4. Riwayat
Sosial Ekonomi
Biasanya klien yang menderita penyakit
ini kebanyakan dari golongan menengah kebawah terutam apada daerah yang
lingkungannya kumuh dan sanitasi yang kurang baik.
5. Pola
Aktifitas Sehari-hari
Aktifitas sehari-hari terganggu karena
adanya kelemahan pada tangan dan kaki maupun kelumpuhan. Klien mengalami
ketergantungan pada orang lain dalam perawatan diri karena kondisinya yang
tidak memungkinkan.
6. Pemeriksaan
fisik
Keadaan umum klien biasanya dalam
keadaan demam karena reaksi berat pada
tipe I, reaksi ringan, berat tipe II morbus hansen. Lemah karena adanya
gangguan saraf tepi motorik.
a. Sistem
penglihatan
Adanya gangguan fungsi saraf tepi
sensorik, kornea mata anastesi sehingga reflek kedip berkurang jika terjadi
infeksi mengakibatkan kebutaan, dan saraf tepi motorik terjadi kelemahan mata
akan lagophthalmos jika ada infeksi akan buta. Pada morbus hansen tipe II
reaksi berat, jika terjadi peradangan pada organ-organ tubuh akan mengakibatkan
irigocyclitis. Sedangkan pause basiler jika ada bercak pada alis mata maka alis
mata akan rontok.
b. Sistem
pernafasan
Klien dengan morbus hansen
hidungnya seperti pelana dan terdapat gangguan pada tenggorokan.
c. Sistem
Persyarafan
Kerusakan Fungsi Sensorik. Kelainan
fungsi sensorik ini menyebabkan terjadinya kurang/ mati rasa. Alibat kurang/
mati rasa pada telapak tangan dan kaki dapat terjadi luka, sedang pada kornea
mata mengkibatkan kurang/ hilangnya reflek kedip.
d. Sistem
musculoskeletal
Adanya gangguan fungsi saraf tepi
motorik adanya kelemahan atau kelumpuhan otot tangan dan kaki, jika dibiarkan
akan atropi.
e. Sistem
Integumen.
Terdapat kelainan berupa
hipopigmentasi (seperti panu), bercak eritem (kemerah-merahan), infiltrat
(penebalan kulit), nodul (benjolan). Jika ada kerusakan fungsi otonom terjadi
gangguan kelenjar keringat, kelenjar minyak dan gangguan sirkulasi darah
sehingga kulit kering, tebal, mengeras dan pecah-pecah. Rambut: sering didapati
kerontokan jika terdapat bercak.
3.2
Diagnosa
keperawatan
1. Kerusakan
integritas kulit (00046) b/d perubahan turgor kulit dan perubahan pigmentasi.
2. Hambatan
mobilitas fisik (00085) b/d penurunan kekuatan otot,pembatasan gerak dan gangguan muskuloskalatal.
3. Gangguan
citra tubuh (00118) b/d penyakit dan biofisik.
3.3
Rencana
tindakan
|
No
|
Diagnosa
|
Tujuan
& Kh
|
Intervensi
|
Rasional
|
|
1
|
Kerusakan
integritas kulit (00046)
Definisi
:
Perubahan/gangguan
epidermis dan/ atau dermis.
Faktor
berhubungan:
·
perubahan turgor kulit
·
perubahan pigmentasi.
Batasan karakteristik:
·
Gangguan permukaan kulit
|
Setelah
di berikan asuhan keperwatan selama 3x24 jam di harapkan gangguan pada kulit berkurang.
Criteria
hasil :
·
Gangguan pada permukaan kulit kembali
normal atau menghilang.
|
1.
Kaji adanya
kemerahan,pembengkakan ,atau tanda-tanda dehisensasi atau evisersi pada area
insisi.
2.
Kaji adanya luka terhadap
karakteristik,lokasi,luas dan kedalaman.
3.
Lakukan perawatan luka atau
perawatan kulit secara rutin.
4.
Lakukan perawatan ulkus kulit.
5.
Ajarkan cara perawatan luka
termasuk tanda dan gejala infeksi.
6.
Rujuk keperawat terapi untuk
mendapatkan bantuan dalam menentukan pengkajian, penentuan derajat luka,
dandokumentasi perawatan luka atau kerusakan kulit.
|
1.Untuk
mengetahui adanya kemarahan pada kulit.
2.
Untuk mencegah terjadinya infeksi.
3.
Dapat membantu penyembuhan luka.
4.Mencegah
munculnya komlpikas
5.Agar pasien dan keluarga dapat mengetahui
adanya tanda-tanda infeksi
6.
Untuk mendapakan perawatan lebih lanjut.
|
|
2
|
Hambatan mobilitas
fisik (00085)
Definisi : Keterbatasan pada
pergarakan fisik tubuh atau satu lebih ekstremitas secara mandiri dan
terarah.
Faktor
berhubungan:
·
penurunan kekuatan otot
·
pembatasan gerak dan
·
gangguan muskuloskalatal.
Batasan karakteristik:
·
keterbatasan melakuakan aktivitas.
|
Setelah
di berikan asuhan keperwatan selama 3x24 jam di harapkan maslah klien teratasi.
Kriteri
hasil :
·
Klien kembali mampu melakukan
aktivitasnya.
|
1.
Kaji kebutuhan terhadap bantuan
pelayanan kesehatan.
2.
Ajarkan dan dukung pasien dalam
latihan ROM aktif dan pasif untuk
mempertahankan dan meningkatkan kekuatan dan ketahanan otot.
3.
Intruksikan dan dukung pasien
untuk menggunakan trapeze atau pemberat untuk meningkatkan serta mempertahaankan
ketahanan ekstremitas atas.
4.
Gunakan ahli terapi fisik dan okupasi sebagai suatu sumber
untuk mempertahankan atau maningkatkan
mobilitas.
|
1. Untuk
mendapatkan perawatan.
2. Untuk
mempertahankan ketahananotot.
3. Agar
pasien dapat mempertahankan kekuatan ekstremitas atas.
4. Untuk
mendapatkan perawatan lebih lanjut dan mempertahankan mobilitas.
|
|
3
|
Gangguan citra
tubuh (00118)
Definisi:
Konfusi dan gambaran mental tentang
diri fisik individu.
Faktor
berhubungan:
·
penyakit
·
biofisik.
karakteristik :
· perasaan
negative tentang tubuh.
· Perubahan
dalam keterlibatan social.
|
Setelah
di berikan asuhan keperwatan selama 3x24 jam di harapkan kondisi
tubuh dapat befungsi secara optimal
Criteria
hasil :
· Klien
menyatakan penerimaan situasi diri.
· Memasukkan
perubahan dalam konsep diri tanpa harga diri negatif
|
1.
Kaji dan dokumentasikan respons
verbal dan nonverbal pasien terhadap tubuh pasien.
2.
Bantu pasien untuk secara
bertahap menjadi terbiasa dengan perubahan tubuhnya.
3.
Beri dorongan pada pasin untuk
mempertahankan kebiasaan berhias sehari-hari yang rutin dilakukan.
4.
Ajarkan tentang cara merawat dan
perawatn diri, termasuk komplikasi medis.
5.
Rujuk ke layanan social untuk
merencanakan perawatan dengan pasien
dan keluarga.
|
1.
Untuk mengetahui keadaan pasien.
2.
Agar klien dapat menerima
keadaanya yang sekarang.
3.
Dapat mempertahankan kabeasaan
klien sehari-hari.
4.
Agar pasien mengerti mengenai
cara perawatan diri.
5.
Untuk mendapatkan pengobatan .
|
3.4
Implamentasi
Implementasi
disesuaikan dengan intervensi pada rencana intervensi
3.5
Evaluasi
1.
Kerusakan integritas kulit dapat teratasi
2.
Hambatan mobilitas dapat teratasi
3.
Gangguan citra tubuh dapat teratasi.
BAB IV
PENUTUP
4.1
Kesimpulan
Morbus
Hansen adalah penyakit infeksi yang kronis, disebabkan oleh Mikrobakterium
leprae yang obligat intra seluler yang menyerang syaraf perifer, kulit, mukosa
traktus respiratorik bagian Atas kemudian menyerang organ-organ lain kecuali
susunan saraf pusat.
Kusta adalah
penyakit yang menahun dan disebabkan oleh kuman kusta (mikobakterium leprae)
yang menyerang syaraf tepi, kulit dan jaringan tubuh lainnya. (Depkes RI,
1998).
Kusta
merupakan penyakit yang banyak menyerang kulit dan syaraf. Kusta atau yang di
kenal juga dengan Leprosy/hansen’s Disiase, dapat menyebabkan gangguan
pada kulit, mati rasa, dan kelumpuhan pada tangan dan kaki. Selain itu, kusta
dapat menterang sistim pernapasan atas, mata, dan membrane selaput lendir.
Kusta dapat menular melalaui kontak kulit dengan penderita atau melalui bersin
4.2
Saran
Dengan
disusunnya makalah ini kami mengharapkan kepada semua pembaca agar dapat
memahami apa yang telah tertulis dalam makalah ini sehingga sedikit banyak bisa
menambah pengetahuan pembaca. Di samping itu kami juga mengharapkan saran dan
kritik dari para pembaca sehingga kami bisa berorientasi lebih baik pada
makalah kami selanjutnya.
DAFTAR
PUSTAKA
NANDA 2012-2014. Diagnosis keperawatan Definisi dan Klasifikasi. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Judithy M. Wilkinson. Nancy R. Ahern
(2011). Buku saku keperawatan. Diagnosa
NANDA, Intervensi NIC. Kriteria hasil NOC. Penerbit
Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Doenges
marilynn (2000), Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta
Anonim, 2011, Asuhan keperawatan Morbus Hansen, 28
September 2015file:///C:/Documents/sistem%20muskuloskeletal/MORBUS%20HANSEN/askep-morbus-hansen.html
Ramadhan, 2008, Asuhan keperawatan Morbus
Hansen, 28 September 2015file:///C:/Documents/sistem%20muskuloskeletal/MORBUS%20HANSEN/PENYAKIT%20KUSTA%20DAN%20ASUHAN%20PERAWATAN%20_%20PRO%20HEALTH,%20for%20better%20life.htm
Rafimerpati, 2013, Asuhan keperawatan Morbus Hansen, 28
September 2015file:///C:/Documents/sistem%20muskuloskeletal/MORBUS%20HANSEN%20Kusta%20Puskesmas%20_%20merpatisepuluh.htm
Tidak ada komentar:
Posting Komentar