Minggu, 13 Agustus 2017

Kusta (Morbus hansen)



BAB I
PENDAHULUAN
1.1         Latar belakang
Kusta merupakan penyakit yang banyak menyerang kulit dan syaraf. Kusta atau yang di kenal juga dengan Leprosy/hansen’s Disiase, dapat menyebabkan gangguan pada kulit, mati rasa, dan kelumpuhan pada tangan dan kaki. Selain itu, kusta dapat menterang sistim pernapasan atas, mata, dan membrane selaputlendir. Kusta dapat menular melalaui kontak kulit dengan penderita atau melalui bersin.
Saat ini, penyakit kusta ini bukan hanya menjadi permasalahan di bidang kesehatan saja. Namun, telah termanifestasi pula ke dalam permasalahan psikososial. Hal ini di karenakan adanya leprophobia (rasa takut yang berlebihan pada penyakit kusta) yang menjadi salah satu dampak psikososial yang di sebabkan oleh penyakit ini. Leprophobia tidak hanya di alami oleh masyarakat awam, tetapi juga pada tenaga medis dan tenaga kesehatan lainya yang bekerja di bidang pelayanan kesehatan.
            Pada umumnya, penyakit kusta terdapat di negara yang sedang berkembang, dan sebagian besar penderitanya adalah dari golongan ekonomi lemah. Hal ini karna akibat keterbatasan kemempuan negara tersebut dalam memberikan pelayanan yang memedai di bidang kesehatan, pendidikan, dan kesejahtraan sosial ekonomi pada masyarakat.
Penyakit Kusta adalah salah satu penyakit menular, dapat menyebabkan cacat, dan keadaan ini menjadi penghalang bagi pasien kusta dalam menjalani kehidupan bermasyarakat untuk memenuhi kebutuhan sosial ekonominya.  ( Widoyono, 2005 ).
Kusta adalah penyakit  yang  menahun dan di sebabkan oleh kuman kusta  (mycobacterium  leprae) yang menyerang syaraf tepi,kulit dan jaringan tubuh  lainnya. (Depkes RI,1998).
           

1.2         Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang yang sudah dikemukakan diatas, adapun rumusan masalah yang muncul pada pembuatan Askep ini adalah sebagai berikut :
1.2.1        Bagaimanakah konsep medis penyakit Morbus hansen ?
1.2.2        Bagaimanakah konsep proses keperawatan pada penderita Morbus Hansen ?
1.3         Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah yang sudah dirumuskan diatas, adapun tujuan dari pembuatan Askep ini, adalah agar mahasiswa dapat mengeratahui sebagai berikut :
1.3.1        Pengertan penyakit Morbus hansen
1.3.2        Klasifikasi penyakit Morbus hansen
1.3.3        Etiologi penyakit Morbus hansen
1.3.4        Patofisiologi penyakit Morbus hansen
1.3.5        Manifestasi Klinis penyakit Morbus hansen  
1.3.6        Pemeriksaan diagnostic penyakit Morbus hansen
1.3.7        Komplikasi penyakit Morbus hansen
1.3.8        Penatalaksanaan penyakit Morbus hansen
1.3.9        Penyimpangan KDM penyakit Morbus hansen.
1.3.10    Asuhan keperawatan penyakit Morbus hansen.
1.4         Manfaat
Adapun manfaat yang ingin dicapai setelah membahas Askep ini, diharapkan mahasiswa mampu sebagai berikut :
1.4.1        Mengerti tentang konsep Medis dan konsep keperawatan penyakit Morbus hansen.
1.4.2        Mampu menerapkan asuhan keperawatan pada pasien Morbus hansen.



BAB II
KONSEP MEDIS
2.1         Definisi
Morbus Hansen adalah penyakit infeksi yang kronis, disebabkan oleh Mikrobakterium leprae yang obligat intra seluler yang menyerang syaraf perifer, kulit, mukosa traktus respiratorik bagian Atas kemudian menyerang organ-organ lain kecuali susunan saraf pusat.
Kusta adalah penyakit yang menahun dan disebabkan oleh kuman kusta (mikobakterium leprae) yang menyerang syaraf tepi, kulit dan jaringan tubuh lainnya. (Depkes RI, 1998)
Kusta merupakan penyakit kronik yang disebabkan oleh infeksi mikobakterium leprae. (Mansjoer Arif, 2000).

2.2         Klasifikasi
1.      Kusta Bentuk Kering (Tipe Tuberkuloid)
a)      Merupakan bentuk yang tidak menular
b)      Kelainan kulit berupa bercak keputihan sebesar  uang logam atau lebih, jumlahnya biasanya hanya beberapa, sering di pipi, punggung, pantat, paha atau lengan. Bercak tampak kering, perasaan kulit hilang sama sekali,kadang-kadang tepinya meninggi.
c)      Pada Tipe ini lebih sering di dapatkan kelainan urat saraf tepi pada ,sering gejala kulit tak begitu menonjol tetapi gangguan  saraf lebih jelas
d)     Komplikasi Saraf serta kecatatan  relative lebih sering terjadi dan timbul lebih awal darib pada bentuk basah
e)      Pemeriksaan Bakteriologis sering kali Negatif, berarti tidak di temukan adanya kuman penyebab
f)       Bentuk ini merupakan yang paling banyak di dapatkan  di Indonesia  dan terjadi  pada orang  yang daya tahan tubuhnya  terhadap  kuman  kusta  cukup tinggi

2.      Kusta Bentuk Basah (Tipe Leprometosa )
a)      Merupakan bentuk menular karena banyak kuman dapat di temukan baik di selaput   lendir hidung, kulit maupun organ tubuh  lain
b)      Jumlahnya  lebih sedikit di bandingkan kusta bentuk kering  dan terjadi pada  orang yang daya tahan tubuhnya rendah dalam menghadapi kuman kusta
c)      Kelainan kulit bisa berupa bercak kemerahan, bisa kecil-kecil  dan tersebar  di seluruh badan  ataupun sebagai penebalan kulit yang luas (infiltrat) yang tampak mengkilap dan berminyak. Bila juga sebagai  benjolan-benjolan merah sebesar  di badan, muka dan daun telinga
d)     Sering di sertai rontoknya alis mata, menebalnya cuping telinga dan kadang-kadang terjadi hidung pelana karena rusaknya tulang  rawan hidung
e)      Kecacatan pada bentuk ini umumnya terjadi pada fase  lanjut dari perjalanan  penyakit
f)       Pada bentuk yang parah  bisa terjadi  “ muka  singa “  (facies leonine).

2.3         Etiologi
Mikobakterium leprae merupakan basil tahan asam (BTA) bersifat obligat intraseluler, menyerang saraf perifer, kulit dan organ lain seperti mukosa saluran nafas bagian atas, hati, sumsum tulang kecuali susunan saraf pusat. Masa membelah diri mikobakterium leprae 12-21 hari dan masa tunasnya antara 40 hari-40 tahun. Kuman kusta berbentuk batang dengan ukuran panjang 1-8 micro, lebar 0,2-0,5 micro biasanya berkelompok dan ada yang disebar satu-satu, hidup dalam sel dan BTA.

2.4         Patofisiologi
1.      Adanya lesi kulit yang khas dan kehilangan sensabilitas lesi kulit dapat tunggal atau multipel biasanya hipopigmentasi  tetapi kadang-kadang lesi kemerahan atau berwarna tembaga biasanya berupa : macula,papul, nodul, kehilangan sensabilitas pada  lesi kulit merupakan gambaran khas.  Kerusakan saraf  terutama  saraf tepi , bermanifestasi  ssebagai kehilangan  sensabilitas kulit  dan kelemahan otot.
2.      BTA  Positif
Pada beberapa kasus  di temukan BTA  di kerokan jaringan kulit.  Kelainan Kulit : Seperti
a)      Kelainan kulit berupa bercak merah atau putih, atau benjolan
b)      Kulit mengkilap
c)      Bercak tidak gatal
d)     Adanya bagian-bagian tubuh yang tidak berkeringat atau tidak berambut
e)      Lepuh tidak nyeri
f)       Permukaan bercak kering dan kasar
g)      Batas ( pinggir ) bercak terlihat jelas dan sering ada bintil-bintil kecil.
h)      Terjadi penebalan dan pembengkakan pada bercak.

Tanda-Tanda Pada Saraf
1.      Rasa kesemutan, tertusuk-tusuk dan nyeri pada anggota badan atau muka
2.      Gangguan gerak anggota badan atau bagian muka
3.      Adanya cacat ( Deformitas )
4.      Luka yang tidak sakit

Adapun 3  gejala utama ( cardinal sign ) yang di timbulkan dari penyakit kusta adalah :
1.      Macula hipogpigmentasi atau anastesi pada kulit
2.      Kerusakan Saraf Perifer
3.      Hasil pemeriksaan Laboratorium dari kerokan kulit menunjukan BTA positif

2.5         Manifestasi Klinis     
            Cara penularan yang pasti belum di ketahui, tatapi menurut sebagian besar ahli melalui saluran pernafasan ( inhalasi ) dan kulit ( kontak langsung yang lama dan erat ).kuman mencapai permukaan kulit melalui volikel rambut, kelenjar keringat, dan di duga melalui air susu ibu.beberapa hipotesis telah di kemukakan seperti adanya kontak dekat dan penularan dari udara.
Penyakit ini sering di percaya bahwa penularanya di sebabkan oleh kontak antara orang yang terinfeksi dan orang yang sehat.Melalaui kulit yang lecet pada bagian tubuh yang ber suhu dingin dan melalui mukosa nasal. Pengaruh mycobacterium leprae ke kulit tergantung factor imunitas seseorang ke mamapuan hidup mycobacterium leprae pada suhu yang rendah, waktu regenerasi lama serta sifat kuman yang aviluren dan non toksis. Mycobacterium leprae terurama terdapat pada sel makrofag di sekitar pembuluh darah superior pada dermis atau sel Schwann jaringan saraf, bila kuman masuk tubuh bereaksi mengeluarkan makrofag ( berasal dari monosit darah, histiosit )untuk memfagosit.
Setelah mikobakterium leprae masuk dalam tubuh, perkembangan penyakit kusta bergantung  pada kerentangan seseorang. Respon tubuh setelah masa tunas dilampaui tergantung pada derajat sistim imunutas seluler ( celluluer midialet immune ) pasien. Kalau sistim imunitas seluluer tinggi, penyakit berkembang ke arah tuber koloid dan bila rendah, berkembang ke arah  lepromatosa. Mikobakterium leprae berpredileksi di dearah-daerah yang relative lebih dingin, yaitu daerah akral dengan vaskularisasi yang sedikit.
Derajat penyakit tidak selalu se banding dengan derajat infeksi karna respon Imun pada tiap pasien berbeda. Gejala klinis lebih se banding dengan tingkat reaksi seluler daripada intensitas Infeksi. Oleh karna itu penyakit kusta dapat di sebut sebagai penyakit  Imunologi.

2.6         Pemeriksaan diagnostic
1.      Pemeriksaan Bakteriologis
Ketentuan pengambilan sediaan adalah sebagai berikut:
1.      Sediaan diambil dari kelainan kulit yang paling aktif.
2.      Kulit muka sebaiknya dihindari karena alasan kosmetik kecuali tidak ditemukan lesi ditempat lain.
3.      Pemeriksaan ulangan dilakukan pada lesi kulit yang sama dan bila perlu ditambah dengan lesi kulit yang baru timbul.
4.      Lokasi pengambilan sediaan apus untuk pemeriksaan mikobakterium leprae ialah:
Ø Cuping telinga kiri atau kanan
Ø Dua sampai empat lesi kulit yang aktif ditempat lain
5.      Sediaan dari selaput lendir hidung sebaiknya dihindari karena:
Ø  Tidak menyenangkan pasien
Ø  Positif palsu karena ada mikobakterium lain
Ø  Tidak pernah ditemukan mikobakterium leprae pada selaput lendir hidung apabila sedian apus kulit negatif.
Ø  Pada pengobatan, pemeriksaan bakterioskopis selaput lendir hidung lebih dulu negatif dari pada sediaan kulit ditempat lain.
6.      Indikasi pengambilan sediaan apus kulit:
Semua orang yang dicurigai menderita kusta
Ø  Semua pasien baru yang didiagnosis secara klinis sebagai pasien kusta
Ø  Semua pasien kusta yang diduga kambuh (relaps) atau karena tersangka kuman resisten terhadap obat
7.      Pemerikaan bakteriologis dilakukan dengan pewarnaan tahan asam, yaitu ziehl neelsen atau kinyoun gabett
8.      Cara menghitung BTA dalam lapangan mikroskop ada 3 metode yaitu cara zig zag, huruf z, dan setengah atau seperempat lingkaran. Bentuk kuman yang mungkin ditemukan adalah bentuk utuh (solid), pecah-pecah (fragmented), granula (granulates), globus dan clumps.
2.      Indeks Bakteri (IB):
Merupakan ukuran semikuantitatif kepadatan BTA dalam sediaan apus. IB digunakan untuk menentukan tipe kusta dan mengevaluasi hasil pengobatan. Penilaian dilakukan menurut skala logaritma RIDLEY sebagai berikut:
1.      Bila tidak ada BTA dalam 100 lapangan pandang
2.      Bila 1-10 BTA dalam 100 lapangan pandang
3.      Bila 1-10 BTA dalam 10 lapangan pandang
4.      Bila 1-10 BTA dalam rata-rata 1 lapangan pandang
5.      Bila 11-100 BTA dalam rata-rata 1 lapangan pandang
6.      Bila 101-1000 BTA dalam rata-rata 1 lapangan pandang
7.      Bila >1000 BTA dalam rata-rata 1 lapangan pandang.
3.      Indeks Morfologi (IM)
Merupakan persentase BTA bentuk utuh terhadap seluruh BTA. IM digunakan untuk mengetahui daya penularan kuman, mengevaluasi hasil pengobatan, dan membantu menentukan resistensi terhadap obat.

2.7         Penatalaksanaan
1.      Terapi madik
Tujuan utama program pemberantasan kusta adalah penyembuhan pasien kusta dan mencegah timbulnya cacat serta memutuskan mata rantai penularan dari pasien kusta terutama tipe yang menular kepada orang lain untuk menurunkan insiden penyakit.
Program Multi Drug Therapy (MDT) dengan kombinasi rifampisin, klofazimin, dan DDS dimulai tahun 1981. Program ini bertujuan untuk mengatasi resistensi dapson yang semakin meningkat, mengurangi ketidaktaatan pasien, menurunkan angka putus obat, dan mengeliminasi persistensi kuman kusta dalam jaringan.
Rejimen pengobatan MDT di Indonesia sesuai rekomendasi WHO 1995 sebagai berikut:
a)      Tipe PB ( PAUSE BASILER)
Ø  Jenis obat dan dosis untuk orang dewasa :
Ø  Rifampisin 600mg/bln diminum didepan petugas
Ø  DDS tablet 100 mg/hari diminum di rumah
Pengobatan 6 dosis diselesaikan dalam 6-9 bulan dan setelah selesai minum 6 dosis dinyatakan RFT meskipun secara klinis lesinya masih aktif. Menurut WHO(1995) tidak lagi dinyatakan RFT tetapi menggunakan istilah Completion Of Treatment Cure dan pasien tidak lagi dalam pengawasan.

b)      Tipe MB ( MULTI BASILER)   
Jenis obat dan dosis untuk orang dewasa:
Ø  Rifampisin 600mg/bln diminum didepan petugas
Ø  Klofazimin 300mg/bln diminum didepan petugas dilanjutkan dengan klofazimin 50 mg /hari diminum di rumah
Ø  DDS 100 mg/hari diminum dirumah
Pengobatan 24 dosis diselesaikan dalam waktu maksimal 36 bulan sesudah selesai minum 24 dosis dinyatakan RFT meskipun secara klinis lesinya masih aktif dan pemeriksaan bakteri positif. Menurut WHO (1998) pengobatan MB diberikan untuk 12 dosis yang diselesaikan dalam 12-18 bulan dan pasien langsung dinyatakan RFT.
c)      Dosis untuk anak
Klofazimin:
Ø  Umur dibawah 10 tahun :
Ø  Bulanan 100mg/bln
Ø  Harian 50mg/2kali/minggu
Ø  Umur 11-14 tahun
Ø  Bulanan 100mg/bln
Ø  Harian 50mg/3kali/minggu
d)     Pengobatan MDT terbaru
Metode ROM adalah pengobatan MDT terbaru. Menurut WHO(1998), pasien kusta tipe PB dengan lesi hanya 1 cukup diberikan dosis tunggal rifampisin 600 mg, ofloksasim 400mg dan minosiklin 100 mg dan pasien langsung dinyatakan RFT, sedangkan untuk tipe PB dengan 2-5 lesi diberikan 6 dosis dalam 6 bulan. Untuk tipe MB diberikan sebagai obat alternatif dan dianjurkan digunakan sebanyak 24 dosis dalam 24 jam.
e)      Putus obat
Pada pasien kusta tipe PB yang tidak minum obat sebanyak 4 dosis dari yang seharusnya maka dinyatakan DO, sedangkan pasien kusta tipe MB dinyatakan DO bila tidak minum obat 12 dosis dari yang seharusnya.
2.      Perawatan umum
Perawatan pada morbus hansen umumnya untuk mencegah kecacatan. Terjadinya cacat pada kusta disebabkan oleh kerusakan fungsi saraf tepi, baik karena kuman kusta maupun karena peradangan sewaktu keadaan reaksi netral.
a)      Perawatan mata dengan lagophthalmos
Ø  Penderita memeriksa mata setiap hari apakah ada kemerahan atau kotoran
Ø  Penderita harus ingat sering kedip dengan kuat
Ø  Mata perlu dilindungi dari kekeringan dan debu
b)      Perawatan tangan yang mati rasa
Ø  Penderita memeriksa tangannya tiap hari untuk mencari tanda- tanda luka, melepuh
Ø  Perlu direndam setiap hari dengan air dingin selama lebih kurang setengah jam
Ø  Keadaan basah diolesi minyak
Ø  Kulit yang tebal digosok agar tipis dan halus
Ø  Jari bengkok diurut agar lurus dan sendi-sendi tidak kaku
Ø  Tangan mati rasa dilindungi dari panas, benda tajam, luka
c)      Perawatan kaki yang mati rasa
Ø  Penderita memeriksa kaki tiap hari
Ø  Kaki direndam dalam air dingin lebih kurang ½ jam
Ø  Masih basah diolesi minyak
Ø  Kulit yang keras digosok agar tipis dan halus
Ø  Jari-jari bengkok diurut lurus
Ø  Kaki mati rasa dilindungi
d)     Perawatan luka
Ø  Luka dibersihkan dengan sabun pada waktu direndam
Ø  Luka dibalut agar bersih
Ø  Bagian luka diistirahatkan dari tekanan
Ø  Bila bengkak, panas, bau bawa ke puskesmas

2.8         Pencegahan
1.      Penerangan dengan memberikan sedikit penjelasan tentang seluk beluk penyakit     lepra pada  pasien
2.      Pengobatan profilaksis dengan dosis yang lebih rendah dari pada dosis therapeutic.
3.      Vaksinasi dengan BCG yang juga mempunyai daya profilaksis terhadap lepra


2.9  Penyimpangan KDM


BAB III
KONSEP KEPERAWATAN
3.1         Pengkajian
1.      Identitas Klien
Mencakup Nama, umur Jenis Kelamin alamat, pekerjaan pendidikan agama dll.
2.      Riwayat Kesehatan
Biasanya klien pernah menderita penyakit atau masalah dengan kulit misalnya: penyakit panu.kurab. dan perawatan kulit yang tidak terjaga atau dengan kata lain personal higine klien yang kurang baik.
3.      Riwayat Psikososial
Klien yang menderita morbus hansen akan malu karena sebagian besar masyarakat akan beranggapan bahwa penyakit ini merupakan penyakit kutukan, sehingga klien akan menutup diri dan menarik diri, sehingga klien mengalami gangguan jiwa pada konsep diri karena penurunan fungsi tubuh dan komplikasi yang diderita.
4.      Riwayat Sosial Ekonomi
Biasanya klien yang menderita penyakit ini kebanyakan dari golongan menengah kebawah terutam apada daerah yang lingkungannya kumuh dan sanitasi yang kurang baik.
5.      Pola Aktifitas Sehari-hari
Aktifitas sehari-hari terganggu karena adanya kelemahan pada tangan dan kaki maupun kelumpuhan. Klien mengalami ketergantungan pada orang lain dalam perawatan diri karena kondisinya yang tidak memungkinkan.
6.      Pemeriksaan fisik
Keadaan umum klien biasanya dalam keadaan demam karena reaksi berat  pada tipe I, reaksi ringan, berat tipe II morbus hansen. Lemah karena adanya gangguan saraf tepi motorik.
a.      Sistem penglihatan
Adanya gangguan fungsi saraf tepi sensorik, kornea mata anastesi sehingga reflek kedip berkurang jika terjadi infeksi mengakibatkan kebutaan, dan saraf tepi motorik terjadi kelemahan mata akan lagophthalmos jika ada infeksi akan buta. Pada morbus hansen tipe II reaksi berat, jika terjadi peradangan pada organ-organ tubuh akan mengakibatkan irigocyclitis. Sedangkan pause basiler jika ada bercak pada alis mata maka alis mata akan rontok.
b.      Sistem pernafasan
Klien dengan morbus hansen hidungnya seperti pelana dan terdapat gangguan pada tenggorokan.
c.       Sistem Persyarafan
Kerusakan Fungsi Sensorik.  Kelainan fungsi sensorik ini menyebabkan terjadinya kurang/ mati rasa. Alibat kurang/ mati rasa pada telapak tangan dan kaki dapat terjadi luka, sedang pada kornea mata mengkibatkan kurang/ hilangnya reflek kedip.
d.      Sistem musculoskeletal
Adanya gangguan fungsi saraf tepi motorik adanya kelemahan atau kelumpuhan otot tangan dan kaki, jika dibiarkan akan atropi.
e.       Sistem Integumen.
Terdapat kelainan berupa hipopigmentasi (seperti panu), bercak eritem (kemerah-merahan), infiltrat (penebalan kulit), nodul (benjolan). Jika ada kerusakan fungsi otonom terjadi gangguan kelenjar keringat, kelenjar minyak dan gangguan sirkulasi darah sehingga kulit kering, tebal, mengeras dan pecah-pecah. Rambut: sering didapati kerontokan jika terdapat bercak.

3.2         Diagnosa keperawatan
1.      Kerusakan integritas kulit (00046) b/d perubahan turgor kulit dan perubahan pigmentasi.
2.      Hambatan mobilitas fisik (00085) b/d penurunan kekuatan otot,pembatasan gerak dan     gangguan muskuloskalatal.
3.      Gangguan citra tubuh (00118) b/d penyakit dan biofisik.

3.3         Rencana tindakan

No
Diagnosa
Tujuan & Kh
Intervensi
Rasional
1
Kerusakan integritas kulit (00046)
Definisi :
Perubahan/gangguan epidermis dan/ atau dermis.
Faktor berhubungan:
·         perubahan turgor kulit
·         perubahan   pigmentasi.
Batasan karakteristik:
·         Gangguan permukaan kulit
Setelah di berikan asuhan keperwatan selama 3x24 jam di harapkan  gangguan pada kulit berkurang.

Criteria hasil :
·         Gangguan pada permukaan kulit kembali normal atau menghilang.
1.      Kaji adanya kemerahan,pembengkakan ,atau tanda-tanda dehisensasi atau evisersi pada area insisi.
2.      Kaji adanya luka terhadap karakteristik,lokasi,luas dan kedalaman.
3.      Lakukan perawatan luka atau perawatan kulit secara rutin.

4.      Lakukan perawatan ulkus kulit.

5.      Ajarkan cara perawatan luka termasuk tanda dan gejala infeksi.






6.      Rujuk keperawat terapi untuk mendapatkan bantuan dalam menentukan pengkajian, penentuan derajat luka, dandokumentasi perawatan luka atau kerusakan kulit.
1.Untuk mengetahui adanya kemarahan pada kulit.


2. Untuk mencegah terjadinya infeksi.

3.   Dapat membantu penyembuhan luka.

4.Mencegah munculnya komlpikas
             
 5.Agar pasien dan keluarga dapat mengetahui adanya tanda-tanda infeksi

6. Untuk mendapakan perawatan lebih lanjut.

2
Hambatan mobilitas
fisik (00085)
Definisi : Keterbatasan pada pergarakan fisik tubuh atau satu lebih ekstremitas secara mandiri dan terarah.

Faktor berhubungan:
·         penurunan kekuatan otot
·         pembatasan gerak dan    
·         gangguan muskuloskalatal.
Batasan karakteristik:
·         keterbatasan melakuakan aktivitas.




Setelah di berikan asuhan keperwatan selama 3x24 jam di harapkan  maslah klien teratasi.
Kriteri hasil :
·         Klien kembali mampu melakukan aktivitasnya.





1.      Kaji kebutuhan terhadap bantuan pelayanan kesehatan.
2.      Ajarkan dan dukung pasien dalam latihan ROM aktif dan pasif  untuk mempertahankan dan meningkatkan kekuatan dan ketahanan otot.
3.      Intruksikan dan dukung pasien untuk menggunakan trapeze atau pemberat untuk meningkatkan serta mempertahaankan ketahanan ekstremitas atas.
4.      Gunakan ahli terapi  fisik dan okupasi sebagai suatu sumber untuk mempertahankan atau maningkatkan  mobilitas.
1.   Untuk mendapatkan perawatan.

2.   Untuk mempertahankan ketahananotot.






3.   Agar pasien dapat mempertahankan kekuatan ekstremitas atas.






4.   Untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut dan mempertahankan mobilitas.
3
Gangguan citra
tubuh (00118)
Definisi:
Konfusi dan gambaran mental tentang diri fisik individu.
Faktor berhubungan:
·         penyakit
·         biofisik.
karakteristik :
·     perasaan negative tentang tubuh.
·     Perubahan dalam keterlibatan social.


Setelah di berikan asuhan keperwatan selama 3x24 jam di harapkan  kondisi  tubuh dapat befungsi secara optimal
Criteria hasil :
·      Klien menyatakan penerimaan situasi  diri.
·      Memasukkan perubahan dalam konsep diri tanpa harga diri negatif

1.      Kaji dan dokumentasikan respons verbal dan nonverbal pasien terhadap tubuh pasien.
2.      Bantu pasien untuk secara bertahap menjadi terbiasa dengan perubahan tubuhnya.
3.      Beri dorongan pada pasin untuk mempertahankan kebiasaan berhias sehari-hari yang rutin dilakukan.
4.      Ajarkan tentang cara merawat dan perawatn diri, termasuk komplikasi medis.
5.      Rujuk ke layanan social untuk merencanakan perawatan dengan pasien  dan keluarga.
1.      Untuk mengetahui keadaan pasien.



2.      Agar klien dapat menerima keadaanya yang sekarang.

3.      Dapat mempertahankan kabeasaan klien sehari-hari.

4.      Agar pasien mengerti mengenai cara perawatan diri.


5.      Untuk mendapatkan pengobatan .

3.4         Implamentasi
Implementasi disesuaikan dengan intervensi pada rencana intervensi
3.5         Evaluasi
1.      Kerusakan integritas kulit dapat teratasi
2.      Hambatan mobilitas dapat teratasi
3.      Gangguan citra tubuh dapat teratasi.


BAB  IV
PENUTUP
4.1         Kesimpulan
Morbus Hansen adalah penyakit infeksi yang kronis, disebabkan oleh Mikrobakterium leprae yang obligat intra seluler yang menyerang syaraf perifer, kulit, mukosa traktus respiratorik bagian Atas kemudian menyerang organ-organ lain kecuali susunan saraf pusat.
Kusta adalah penyakit yang menahun dan disebabkan oleh kuman kusta (mikobakterium leprae) yang menyerang syaraf tepi, kulit dan jaringan tubuh lainnya. (Depkes RI, 1998).
Kusta merupakan penyakit yang banyak menyerang kulit dan syaraf. Kusta atau yang di kenal juga dengan Leprosy/hansen’s Disiase, dapat menyebabkan gangguan pada kulit, mati rasa, dan kelumpuhan pada tangan dan kaki. Selain itu, kusta dapat menterang sistim pernapasan atas, mata, dan membrane selaput lendir. Kusta dapat menular melalaui kontak kulit dengan penderita atau melalui bersin

4.2         Saran
Dengan disusunnya makalah ini kami mengharapkan kepada semua pembaca agar dapat memahami apa yang telah tertulis dalam makalah ini sehingga sedikit banyak bisa menambah pengetahuan pembaca. Di samping itu kami juga mengharapkan saran dan kritik dari para pembaca sehingga kami  bisa berorientasi lebih baik pada makalah kami selanjutnya.





DAFTAR PUSTAKA

NANDA 2012-2014. Diagnosis keperawatan Definisi dan Klasifikasi. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Judithy M. Wilkinson. Nancy R. Ahern (2011). Buku saku keperawatan. Diagnosa NANDA, Intervensi NIC. Kriteria hasil NOC. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Doenges marilynn (2000), Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta
Anonim, 2011, Asuhan keperawatan Morbus Hansen, 28 September 2015file:///C:/Documents/sistem%20muskuloskeletal/MORBUS%20HANSEN/askep-morbus-hansen.html
Rafimerpati, 2013, Asuhan keperawatan Morbus Hansen, 28 September 2015file:///C:/Documents/sistem%20muskuloskeletal/MORBUS%20HANSEN%20Kusta%20Puskesmas%20_%20merpatisepuluh.htm


Kusta (Morbus hansen)

BAB I PENDAHULUAN 1.1          Latar belakan g Kusta merupakan penyakit yang banyak menyerang kulit dan syaraf. Kusta atau yang d...