Tugas kelompok
Mata kuliah : Sistem Sonsori Persepsi
Nama dosen : Ns. Haikal Alpin S.kep, CWCCA
MAKALAH
SISTEM SONSORI PERSEPSI
( SINUSITIS )
DISUSUN
OLEH
KELOMPOK
I
|
1. Ahmad
Risal
|
6. Maaureen Batseba Philipus
|
|
2. Andi
Aswandi
|
7. Masrandi Ekram
|
|
3. Adris
Bari
|
8. Nuraini Burhan
|
|
4. Betjie
Sinamona
|
9. Samsu alang
|
|
5. Bonifilio
Mantur
|
10. Umiati S. Bakar
|
PROGRAN STUDI ILMU KEPERAWATAN
STIKES GRAHA EDUKASI MAKASSAR
TAHUN AKADEMIK
2014/2015
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami
panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan inayah-Nya sehingga
makalah ini dapat terselesaikan guna memenuhi salah satu tugas kami sebagai mahasiswa S1 keperawatan, stikes
graha edukasi makassar.
Adapun judul makalah
ini yaitu Sistem sensori persepsi “ Sinusitis ”.
Penulis menyadari atas kekurangan kemampuan penulis
dalam pembuatan makalah ini, sehingga akan menjadi suatu kehormatan besar bagi
penulis apabila mendapatkan kritikan dan saran yang membangun agar makalah ini
selanjutnya akan lebih baik dan sempurna serta komprehensif.
Pada kesempatan ini
kami, tak lupa penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya pula
kepada :
1. Ns.
Haikal Alpin S.kep, CWCCA. Selaku dosen pembimbing kami.
2. Semua
anggota kelompok 1 atas waktunya dalam pembuatan makalah ini.
Demikian akhir kata dari penulis, semoga makalah ini bermanfaat bagi semua
pihak dan pembelajaran budaya khususnya dalam segi teoritis sehingga dapat
membuka wawasan ilmu pengetahuan serta akan menghasilkan yang lebih baik di
masa yang akan datang.
DAFTAR
ISI
Sampul......................................................................................................................... i
Kata
pengantar............................................................................................................ ii
Daftar isi.................................................................................................................... iii
BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar
belakang................................................................................................ 1
1.2 Rumusan
masalah........................................................................................... 2
1.3 Tujuan............................................................................................................. 2
1.4 Manfaat........................................................................................................... 2
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi............................................................................................................. 3
2.2 Etiologi............................................................................................................. 3
2.3 Patofisiologi..................................................................................................... 4
2.4 Manifestasi
Klinik............................................................................................ 6
2.5 Pemeriksaan
penunjang.................................................................................... 6
2.6 Penatalaksanaan............................................................................................... 7
2.7 Komplikasi....................................................................................................... 8
2.8 Penyimpangan
KDM..................................................................................... 10
BAB III. ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Pengkajian..................................................................................................... 11
3.2 Diagnosa
keperawatan.................................................................................. 12
3.3 Rencana
tindakan.......................................................................................... 12
3.4 Implamentasi................................................................................................. 14
3.5 Evaluasi......................................................................................................... 14
BAB IV. PENUTUP
4.1.Kesimpulan
................................................................................................... 15
4.2.Saran ............................................................................................................. 15
Daftar pustaka........................................................................................................ 16
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
belakang
Sinusitis
merupakan penyakit yang sangat lazim diderita di seluruh dunia, hampir menimpa
kebanyakan penduduk Asia. Penderita sinusitis bisa dilihat dari ibu jari bagian
atas yang kempot. Sinusitis dapat menyebabkan seseorang menjadi sangat sensitif
terhadap beberapa bahan, termasuk perubahan cuaca (sejuk), pencemaran alam
sekitar, dan jangkitan bakteri. Gejala yang mungkin terjadi pada sinusitis
adalah bersin-bersin terutama di waktu pagi, rambut rontok, mata sering gatal,
kaki pegal-pegal, cepat lelah dan asma. Jika kondisi ini berkepanjangan akan
meimbulkan masalah keputihan bagi perempuan, atau ambeien (gangguan prostat)
bagi laki-laki.
Menurut
Lucas seperti yang di kutip Moh. Zaman, etiologi sinusitis sangat kompleks,
hanya 25% disebabkan oleh infeksi, sisanya yang 75% disebabkan oleh alergi dan
ketidakseimbangan pada sistim saraf otonom yang menimbulkan perubahan-perubahan
pada mukosa sinus. Suwasono dalam penelitiannya pada 44 penderita sinusitis
maksila kronis mendapatkan 8 di antaranya (18,18%) memberikan tes kulit positif
dan kadar IgE total yang meninggi. Terbanyak pada kelompok umur 21-30 tahun
dengan frekuensi antara laki-laki dan perempuan seimbang. Hasil positif pada
tes kulit yang terbanyak adalah debu rumah (87,75%), tungau (62,50%) dan
serpihan kulit manusia (50%).
Sebagian
besar kasus sinusitis kronis terjadi pada pasien dengan sinusitis akut yang
tidak respon atau tidak mendapat terapi. Peran bakteri sebagai dalang
patogenesis sinusitis kronis saat ini sebenarnya masih dipertanyakan. Sebaiknya
tidak menyepelekan pilek yang terus menerus karena bisa jadi pilek yang tak
kunjung sembuh itu bukan sekadar flu biasa.
Oleh
karena faktor alergi merupakan salah satu penyebab timbulnya sinusitis, salah
satu cara untuk mengujinya adalah dengan tes kulit epidermal berupa tes kulit
cukit (Prick test, tes tusuk) di mana tes ini cepat, simpel, tidak
menyakitkan, relatif aman dan jarang menimbulkan reaksi anafilaktik. Uji cukit
(tes kulit tusuk) merupakan pemeriksaan yang paling peka untuk reaksi-reaksi
yang diperantarai oleh IgE dan dengan pemeriksaan ini alergen penyebab dapat
ditentukan.
1.2
Rumusan
masalah
1.2.1
Apa definisi dari sinusitis?
1.2.2
Apa manifestasi klinis dari
sinusitis?
1.2.3
Bagaimana etiologi dari sinusitis?
1.2.4
Bagaimana patofisiologi dari
sinusitis?
1.2.5
Apa saja pemeriksaan diagnostic
yang dapat dilakukan pada penderita sinusitis?
1.2.6
Bagaimana penatalaksanaan dari
sinusitis?
1.2.7
Apa saja komplikasi dari sinusitis?
1.2.8
Bagaimana asuhan keperawatan yang
harus dilakukan pada penderita
1.3
Tujuan
1.3.1
Dapat memahami definisi sinusitis.
1.3.2
Dapat mengetahui manifestasi klinis
dari sinusitis.
1.3.3
Dapat mengetahui etiologi dari
sinusitis.
1.3.4
Dapat memahami patofisiologi dari
sinusitis.
1.3.5
Dapat memahami pemeriksaan
diagnostic yang perlu dilakukan pada penderita sinusitis.
1.3.6
Dapat mengetahui penatalaksanaan
dari sinusitis.
1.3.7
Dapat mengetahui komplikasi dari
sinusitis.
1.3.8
Dapat memberikan asuhan keperawatan
yang sesuai pada penderita sinusitis.
1.4
Manfaat
Dengan adanya
makalah ini, diharapkan mahasiswa mampu memahami dan membuat asuhan keperawatan
pada klien dengan sinusitis, serta mampu mengimplementasikannya dalam proses
keperawatan.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1
Definisi
Sinusitis
merupakan penyakit yang sering ditemukan dalam praktik dokter sehari-hari,
bahkan dianggap sebagai salah satu penyebab gangguan kesehatan tersering di
seluruh dunia. Sinusitis didefinisikan sebagai inflamasi mukosa sinus
paranasal. Umumnya disertai atau dipicu oleh rhinitis sehingga sering disebut
rinosinusitis. Penyebab utamanya adalah selesma (common cold) yang merupakan
infeksi virus, yang selanjutnya dapat diikuti oleh infeksi bakteri.
Bila
mengenai beberapa sinus disebut multisinusitis, sedangkan bila mengenai semua
sinus paranasal disebut pansinusitis. Yang paling sering terkena ialah sinus
etmoid dan maksila, sedangkan sinus frontal lebih jarang dan sinus sphenoid
lebih jarang lagi. Sinus maksila disebut juga antrum Highmore, letaknya dekat
akar gigi rahang atas, maka infeksi gigi mudah menyebar ke sinus, disebut
sinusitis dentogen.
Sinusitis dapat berbahaya karena
menyebabkan komplikasi ke orbita dan intracranial, serta menyebabkan
peningkatan serangan asma yang sulit diobati.
Sinusitis sendiri dapat dibedakan
menjadi 2 jenis, yaitu
1.
Sinusitis akut : Suatu
proses infeksi di dalam sinus yang berlansung selama 3 minggu.
Macam-macam sinusitis akut, yaitu sinusitis maksila
akut, sinusitis emtmoidal akut, sinus frontal akut, dan sinus sphenoid akut.
1.
Sinusitis kronis : Suatu proses infeksi di dalam sinus
yang berlansung selama 3-8 minggu tetapi dapat juga berlanjut sampai
berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.
2.2
Etiologi
2.1.1
Pada Sinusitis Akut, yaitu :
1.
Infeksi virus
Sinusitis akut bisa terjadi setelah adanya infeksi virus pada
saluran pernafasan bagian atas (misalnya Rhinovirus, Influenza
virus, dan Parainfluenza virus).
2. Bakteri
Di dalam tubuh manusia terdapat beberapa jenis bakteri yang
dalam keadaan normal tidak menimbulkan penyakit (misalnya Streptococcus
pneumoniae, Haemophilus influenzae). Jika sistem pertahanan tubuh
menurun atau drainase dari sinus tersumbat akibat pilek atau infeksi virus
lainnya, maka bakteri yang sebelumnya tidak berbahaya akan berkembang biak dan
menyusup ke dalam sinus, sehingga terjadi infeksi sinus akut.
3.
Infeksi jamur
Infeksi jamur bisa menyebabkan
sinusitis akut pada penderita gangguan sistem kekebalan, contohnya jamur
Aspergillus.
1.
Peradangan menahun pada saluran hidunng
Pada
penderita rhinitis alergi dan juga penderita rhinitis vasomotor.
1. Septum nasi
yang bengkok
2.
Tonsilitis yg kronik.
2.1.2
Pada Sinusitis Kronik, yaitu
1. Sinusitis
akut yang sering kambuh atau tidak sembuh.
2. Alergi
3. Karies
dentis ( gigi geraham atas )
4. Septum nasi
yang bengkok sehingga menggagu aliran mucosa.
5. Benda asing
di hidung dan sinus paranasal
6. Tumor di
hidung dan sinus paranasal.
2.3
Patofisiolgi
Kesehatan
sinus dipengaruhi oleh patensi ostium-ostium sinus dan lancarnya klirens
mukosiliar (mucociliary clearance) di dalam KOM. Mukus juga mengandung
substansi antimicrobial dan zat-zat yang berfungsi sebagai mekanisme pertahanan
tubuh terhadap kuman yang masuk bersama udara pernafasan.
Organ-organ
yang membentuk KOM letaknya berdekatan dan bila terjadi edema, mukosa yang
berhadapan akan saling bertemu sehingga silia tidak dapat bergerak dan ostium
tersumbat. Akibatnya terjadi tekanan negative di dalam ronga sinus yang
menyebabkan terjadinya transudasi, mula-mula serous. Kondisi ini biasa dianggap
sebagai rinosinusitis non-bacterial dan biasanya sembuh dalam beberapa hari
tanpa pengobatan.
Bila kondisi
ini menetap, secret yang terkumpul dalam sinus merupakan media baik untuk
tumbuhnya dan multiplikasi bakteri. Secret menjadi purulen. Keadaan ini disebut
sebagai rinosinusitis akut bacterial dan memerlukan terapi antibiotic.
Jika terapi
tidak berhasil (misalnya karena ada factor predisposisi), inflamasi berlanjut,
terjadi hipoksia dan bacteri anaerob berkembang. Mukosa makin membengkak dan
ini merupakan rantai siklus yang terus berputar sampai akhirnya perubahan
mukosa menjadi kronik yaitu hipertrofi, polipoid atau pembentukan polip dan
kista. Pada keadaan ini mungkin diperlukan tindakan operasi.
Klasifikasi
dan mikrobiologi: Consensus international tahun 1995 membagi rinosinusitis
hanya akut dengan batas sampai 8 minggu dan kronik jika lebih dari 8 minggu.
Consensus
tahun 2004 membagi menjadi akut dengan batas sampai 4 minggu, subakut antara 4
minggu sampai 3 bulan dan kronik jika lebih dari 3 bulan.
Sinusitis
kronik dengan penyebab rinogenik umumnya merupakan lanjutan dari sinusitis akut
yang tidak terobati secara adekuat. Pada sinusitis kronik adanya factor
predisposisi harus dicari dan di obati secara tuntas.
Menurut
berbagai penelitian, bacteri utama yang ditemukan pada sinusitis akut adalah
streptococcus pneumonia (30-50%). Hemopylus influenzae (20-40%) dan moraxella
catarrhalis (4%). Pada anak, M.Catarrhalis lebih banyak di temukan (20%).
Pada
sinusitis kronik, factor predisposisi lebih berperan, tetapi umumnya bakteri
yang ada lebih condong ka rarah bakteri negative gram dan anaerob.
2.4
Manifestasi Klinis
2.4.1
Sinusitis maksila akut
Gejala :
Demam, pusing, ingus kental di hidung, hidung tersumbat,m nyeri tekan, ingus
mengalir ke nasofaring, kental kadang-kadang berbau dan bercampur darah.
2.4.2
Sinusitis etmoid akut
Gejala :
Sekret kental di hidung dan nasofaring, nyeri di antara dua mata, dan
pusing
2.4.3
Sinusitis frontal akut
Gejala :
Demam,sakit kepala yang hebat pada siang hari, tetapi berkurang setelah sore
hari, sekret kental dan penciuman berkurang.
2.4.4
Sinusitis sphenoid akut
Gejala :
Nyeri di bola mata, sakit kepala, dan terdapat sekret di nasofaring
2.4.5
Sinusitis Kronis
Gejala
: Flu yang sering kambuh, ingus kental dan kadang-kadang berbau,selalu terdapat
ingus di tenggorok, terdapat gejala di organ lain misalnya rematik, nefritis,
bronchitis, bronkiektasis, batuk kering, dan sering demam.
2.5
Pemeriksaan penunjang
Diagnosis ditegakkan berdasarkan
anamnesis pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
Pemeriksaan fisik dengan rinoskopi
anterior dan posterior, pemeriksaan naso-endoskopi sangat dianjurkan untuk
diagnosis yang lebih tepat dan dini. Tanda khas ialah adanya pus di meatus
medius (pada sinusistis maksila dan etmoid anterior dan frontal) atau di meatus
superior (pada sinusitis etmoid posterior dan sphenoid).
Pada rinosinusitis akut, mukosa
edema dan hiperemis. Pada anak sering ada pembengkakan dan kemerahan di daerah
kantus medius.
Pemerikasaan pembantu yang penting
adalh foto polos atau CT scan. Foto polos posisi Waters, PA dan lateral,
umumnya hanya mampu menilai kondisi sinus-sinus besar seperti sinus maksila dan
frontal. Kelainan akan terlihat perselubungan, batas udara, cairan (air fluid
level) atau penebalan mukosa.
CT scan sinus merupakan golg
standard diagnosis sinusitis karena mampu manila anatomi hidung dan sinus,
adanya penyakit dalam hidung dan sinus secacra keseluruhan dan perluasannya.
Namun karena mahal hanya dikerjakan sebagai penunjang diagnosis sinusistis
kronik yang tidak membaik dengan pengobatan atau pra-operasi sebagai panduan
operator saat melakukan operasi sinus.
Pada pemeriksaan transiluminasi
sinus yang sakit akan menjadi suram atau gelap. Pemeriksaan ini sudah jarang
digunakan karena sangat terbatas kegunaannya.
Pemeriksaan mikrobiologik dan tes
resistensi dilakukan dengan mengambil secret dari meatus medius/superior, untuk
mendapat antibiotic yang tepat guna. Lebih baik lagi bila diambil secret yang
keluar dari pungsi sinus maksila.
Sinuskopi
dilakukan dengan pungsi menembus dinding medial sinus maksila melalui meatus
inferior, dengan alat endoskop bisa dilihat kondisi sinus maksila yang
sebenarnya, selanjutnya dapat dilakukan irigasi sinus untuk terapi.
2.6
Penatalaksanaan
Tujuan terapi sinusitis ialah:
1. Mempercepat
penyembuhan
2. Mencegah
komplikasi
3. Mencegah
perubahan menjadi kronik
Prinsip pengobatan ialah membuka
sumbatan di KOM sehinggan drenase dan ventilasi sinus-sinus pulih secara alami.
Antibiotik dan dekongestan merupakan
terapi pilihan pada sinusitis akut bacterial, untuk menghilangkan infeksi dan
pembengkakan maukosa serta membuka sumbatan ostium sinus. Antibiotik yang
dipilih adalah golongan penisilin seperti amoksilin. Jika diperkirakan kuman
telah resisten atau memproduksi beta-laktamase, maka dapat diberikan
amoksilin-klavulanat atau jenis sefalosporin generasi ke-2. Pada sinusitis
antibiotic diberikan selama 10-14 hari meskipun gejala klinik sudah hilang.
Pada sinusitis kronik diberikan antibiotic yang sesuai untuk kuman negative
gram dan anaerob.
Selain dekongestan oral dan topical,
terapi lain dapat diberikan jika diperlukan, seperti analgetik, mukolitik,
teroid oral/topical, pencucian rongga hidung dengan NaCl atau pemanasan
(diatermi). Antihistamin tidak rutin diberikan, karena sifat antikolinergiknya
dapat menyebabkan secret jadi lebih kental. Bila ada alergi berat sebaiknya
diberikan antihistamin generasi ke-2. Irigasi sinus maksila atau Proetz
displacement therapy juga merupakan terapi tambahan yang bermanfaat.
Imunoterapi dapat dipertimbangkan jika pasien menderita kelainan alergi yang
berat.
Tindakan operasi. Bedah sinus
endoskopi fungsional (BSEF/FESS) merupakan operasi terkini untuk sinusitis
kronik yang memerlukan operasi. Tindakan ini telah menggantikan hampir semua
jenis bedah sinus terdahulu karena memberikan hasil yang lebih memuaskan dan
tindakan ringan dan tidak radikal. Indikasinya berupa: sinusitis kronik yang
tidak membaik setelah terapi adekuat; sinusitis kronik disertai kista atau
kelainan yang irreversible; polip ekstensif, adanya komplikasi sinusitis serta
sinusitis jamur
2.7
Komplikasi
Komplikais sinusitis telah menurun
secara nyata sejak ditemukannya antibiotic. Komplikasi berat biasanya terjadi
pada sinusitis akut atau pada sinusitis kronik dengan eksaserbasi akut, berupa
komplikasi orbita atau intracranial.
Kelainan orbita disebabkan oleh
sinus paranasal yang berdekatan dengan mata (orbita). Yang paling sering adalah
sinusitis etmoid, kemudian sinusitis frontal dan maksila. Penyebaran infeksi
terjadi melalui tromboflebitis dan perkontinuitatum. Kelainan yang dapat timbul
ialah edema palpebra, selulitis orbita, asbes subperiostal, abses orbita dan
selanjutnya dapat terjadi thrombosis sinus kavernosus. Kelainan Intrakranial.
Dapat berupa meningitis, abses ekstradural atau subdural, abses otak dan
thrombosis sinus kavernosus.
Komplikasi juga dapat terjadi
padasinusitis kronis berupa: Osteomielitis dan abses suberiostal. Paling
sering timbul akibat sinusitis frontal dan biasanya ditemukan pada anak-anak.
Pada osteomielitis sinus maksila dapat timbul fistula oroantral atau fistula
pada pipi.
Kelainan paru, seperti bronchitis
kronik dan bronkiektasis. Adanya kelainan sinus paranasal disertai dengan
kelainan paru ini disebut sinobronkitis. Selain itu dapat juga menyebabkan
kambuhnya asma bronchial yang sukar dihilangkan sebalum sinusitisnya
disembuhkan.
2.8
Penyimpangan KDM
( ETIOLOGI )
Infeksi
virus oleh akseserbasi rinitis alergi
Infeksi
traktus respiratorius atas
Implamasi,
edema, membran mukosa hidung
|
Tidak
bisa mencium Magrofag
menangkap benda asing
Aroma makanan Yang masuk kedalam tubuh
Nafsu
makan menurun Merangsang
pengeluaran
Nutrisi tidak Pelepasan
Histamin,
terpenuhi
dengan baik Bradikinin,
Prostaglanding
Peningkatan Set. Pain
|
Suhu tubuh meningkat
|
||||
BAB
III
ASUHAN
KEPERAWATAN
3.1
Pengkajian
1.
Identitas / Data demografi
Berisi nama, usia, jenis kelamin,
pekerjaan yang sering terpapar sinar matahari secara langsung, tempat tinggal
sebagai gambaran kondisi lingkungan dan keluarga, dan keterangan lain
mengenai identitas pasien.
2. Aktivitas
Gejala : Perasaan tidak enak
(malaise). Tanda : ataksia, kelumpuhan, gerakan involunter.
3. Sirkulasi
Gejala : Adanya riwayat
kardiopatologi : endokarditis dan PJK. Tanda : tekanan darah meningkat, nadi
menurun, dan tekanan nadi berat, taikardi, disritmia.
4. Eliminasi
Tanda : Inkontinensi dan atau retensi.
5. Makan
Gejala : Kehilangan nafsu makan,
sulit menelan. Tanda : anoreksia, muntah, turgor kulit jelek dan membran mukosa
kering.
6. Higiene
Tanda : Ketergantungan terhadap semua
kebutuhan perawatan diri.
7. Neurosensori
Gejala : Sakit kepala, parestesia,
terasa kaku pada persarafan yang terkena, kehilangan sensasi, hiperalgesia,
kejang, diplopia, fotofobia, ketulian dan halusinasi penciuman.
Tanda : letargi sampai kebingungan
berat hingga koma, delusi dan halusinasi, kehilangan memori, afasia,anisokor,
nistagmus,ptosis, kejang umum/lokal, hemiparese, tanda brudzinki positif dan
atau kernig positif, rigiditas nukal,
babinski positif,reflek abdominal menurun dan reflek kremastetik hilang pada
laki-laki.
8. Nyeri/keamanan
Gejala : sakit kepala (berdenyut
hebat, frontal). Tanda : gelisah, menangis.
9. Pernafasan
Gejala : riwayat infeksi sinus atau
paru. Tanda : peningkatan kerja pernafasan.
3.2
Diagnosa
keperawatan
1. Nyeri
akut ( 00132 ) berhubungan dengan tekanan sinus sekunder terhadap
peradanggan sinus paranasal pada kepala, tenggorokan
2. Hipetermi
( 00007 ) berhubungan dengan reaksi
infeksi
3. Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh (00002)berhubungan dengan ketidakmampuan
untuk mengabsorpsi nutrien.
3.3
Rencana
tindakan
|
No
|
Diagnosa
Keperawatan
|
Tujuan
/Kriteria Hasil
|
Intervensi
|
Rasional
|
|
1.
(604)
|
Nyeri
akut ( 00132 ) berhubungan dengan tekanan sinus sekunder terhadap
peradanggan sinus paranasal pada kepala tenggorokan.
Definisi :
pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan yang muncul akibat
kerusakan jaringan yang aktual dan potensial.
Ditandai
dengan batasan karakteristik:
DS :
o Klien
mengeluh nyeri kepala.
DO :
o
Klien nampak gelisah
|
Setelah dilakukan asuhan keperawatan
selama 3 x 24 jam, diharapkan rasa nyeri berkurang, dengan kriteria hasil :
o Klien terlihat rileks
o Klien mengatakan nyeri
berkurang/hilan
o Skala nyeri 0-1
|
1. Kaji derajat nyeri setiap hari.
2. Observasi
tanda-tanda vital, keluhan klien serta skala nyeri Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi.
3. Berikan pendidikan kesehatan mengenai
hal-hal yang dapat mengurangi bertambahnya nyeri
4. Lakukan tindakan kolaboratif untuk pemberian
obat analgesic.
|
1.
Untuk mengetahui skala nyeri pada klien.
2.
Observasi dilakukan untuk memastikan bahwa nyeri
berkurang yang ditandai dengan RR dalam skala normal
3.
Untuk mengurangi rasa nyeri.
4.
Obat analgesic dapat menurunkan atau menghilangkan
rasa nyeri.
|
|
2.
(593)
|
Hipetermi
( 00007 ) berhubungan dengan reaksi
infeksi
Definisi :
Peningkatan suhu tubuh diatas kisaran normal
Ditandai
dengan batasan karakteristik:
DS :
o Klien
mengeluh sering demam
DO :
o
Klien nampak panas dingin
o
Klien nampak menggigil.
|
Setelah dilakukan tindakan
kepeerawatan selama 3x24 jam ,klien
dapat menunjukkan termoregulasi dibuktikan dengan ktriteria hasil :
o Suhu tubuh
36,5-37,5 C
o Kulit
hangat dan lembab, membran mukosa lembab
|
1. Pantau hidrasi (misalnya turgor
kulit, kelembapan membran mukosa )
2. Monitoring
perubahan suhu tubuh.
3. Monitoring
perubahan suhu tubuh
4. Berikan
antipiretik
|
1. Untuk mengetahui perubahan turgor
kulit dan membran mukosa
2. Suhu tubuh
harus dipantau secara efektif guna mengetahui perkembangan dan kemajuan dari
pasien.
3. Dapat
membantu mengurangi demam.
4. Mengurangi
demam dengan aksi sentralnya pada hipotalamus, meskipun demam mungkin dapat
berguna dalam membatasi pertumbuhan organisme dan autodestruksi dari sel-sel
terinfeksi.
|
|
3.
(251)
|
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh (00002)berhubungan dengan ketidakmampuan untuk mengabsorpsi nutrien.
Defenisi :
Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi
kebutuhan metabolik
Faktor
yang berhubungan :
Ketidakmampuan
untuk mengabsorpsi nutrien
Ditandai
dengan batasan karakteristik :
DS
:
-
Klien mengatakan nafsu makan
menurun
-
Klien mengatakan Ketidakmampuan untuk makan karena distress pernapasan.
DO:
-
Kelemahan otot yang berfungsi
untuk menelan atau mengunyah
-
Kurangnya minat terhadap makanan
|
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam ,ketidakseimbangan nutrisi
dapat teratasi dengan kriteria hasil :
Klien dapat mempertahankan massa
tubuh dan berat badan dalam rentang normal
|
Pengkajian
:
1. Pantau kandungan nutrisi dan
kalori pada catatan asupan
Tindakan mandiri :
2. Ketahui makanan kesukaan pasien
3. Timbang pasien pada interval yang
tepat
Penyuluhan :
4. Ajarkan pasien/ keluarga tentang
makanan bergizi dan tidak mahal .
Kolaboratif :
5. Rujuk ke dokter untuk menentukan
penyebab gangguan nutrsi
|
1. Untuk mengetahui asupan nutrisi
dan kalori dari klien
2. Untuk mengetahui makanan yang
disukai klien
3. Untuk mengetahui massa tubug dan
berat badan klien
4. Agar klien dapat mengerti tentang
makanan yang bergizi yang baik untuk kesehatan
5. Untuk mengetahui penyebab gangguan
nutrisi
|
3.4
Implamentasi
Implementasi
disesuaikan dengan intervensi pada rencana intervensi
3.5
Evaluasi
3.5.1
Rasa nyeri dapat berkurang/hilang.
3.5.2
Hipetermi dapat teratasi.
3.5.3
Nutrisi klien dapat terpenuhi secara
edukuat.
BAB IV
PENUTUP
4.1
Kesimpulan
Sinusitis
merupakan penyakit inflamasi mukosa sinus paranasal yang sering ditemukan dalam
praktik dokter sehari-hari, bahkan dianggap sebagai salah satu penyebab
gangguan kesehatan tersering di seluruh dunia. Ada empat pasang sinus
paranasal, mulai dari yang terbesar yaitu sinus maksila, sinus frontal, sinus
etmoid dan sinus sfenoid kanan dan kiri. Semua sinus mempunyai muara (ostium)
ke dalam rongga hidung. Infeksi virus ini, dapat dipengaruhi oleh lingkungan
yang berpolusi, udara dingin dan kering serta kebiasaan merokok. Keadaan ini
lama-lama menyebabkan perubahan mukosa dan merusak silia. Dalam Consensus
International tahun 1995 membagi sinusitis hanya akut dengan batas sampai 8
minggu yang kebanyakan disebabkan oleh streptococcus pneumonia
(30-50%) dan kronik yang lebih disebabkan oleh bakteri gram negative dan
anaerob jika lebih dari 8 minggu.
4.2
Saran
Banyak
komplikasi yang terjadi pada penderita sinusitis, yakni menyebabkan komplikasi
ke orbita dan intracranial, juga dapat menyebabkan peningkatan serangan asma
yang sulit diobati. Namun komplikasi ini dapat menurun dengan pemberian
antibiotic dan dekongestan sejak dini (awal terjangkitnya sinusitis) untuk
mempercepat penyembuhan, mencegah komplikasi, dan perubahan menjadi kronik.
DAFTAR
PUSTAKA
NANDA 2012-2014. Diagnosis keperawatan Definisi dan Klasifikasi. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Judithy M. Wilkinson. Nancy R. Ahern
(2011). Buku saku keperawatan. Diagnosa
NANDA, Intervensi NIC. Kriteria hasil NOC. Penerbit
Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Doenges
marilynn (2000), Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta
Very good idea you've shared here, from here I can be a very valuable new experience. all things that are here will I make the source of reference, thank you friends.
BalasHapusOBAT BATUK
OBAT KOLESTEROL
OBAT ASMA
OBAT AMBEIEN
all must have a problem, and if you're looking for the best solutions visit Obat Sinusitis Kronis Tradisional Harga terjangkau 100% Ampuh dari Herbal Alami
BalasHapusGood Idea this blog is verry nice, Thanks for information and good Site and The best Author
BalasHapusObat Hernia Anak
Obat Hidrokel Anak
Cara Menyembuhkan Hidrokel
Baja Ringan Tangerang
Penjual Baja Ringan di Tangerang
Puisi : Kurikulum Kelas Tiga
Asuhan Keperawatan Syndrome Dyspepsia
60 Kata-Kata Mutiara Gusmus