Sabtu, 21 Maret 2015

Askep Sinusitis



Tugas kelompok
Mata kuliah              : Sistem Sonsori Persepsi
Nama dosen             : Ns. Haikal Alpin S.kep, CWCCA




MAKALAH
SISTEM SONSORI PERSEPSI

( SINUSITIS )

DISUSUN OLEH
KELOMPOK I
1.      Ahmad Risal
6.    Maaureen Batseba Philipus
2.      Andi Aswandi
7.    Masrandi Ekram
3.      Adris Bari
8.    Nuraini Burhan
4.      Betjie Sinamona
9.    Samsu alang
5.      Bonifilio Mantur
10.  Umiati S. Bakar

PROGRAN STUDI ILMU KEPERAWATAN
STIKES GRAHA EDUKASI MAKASSAR
TAHUN AKADEMIK 2014/2015


KATA PENGANTAR


Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan inayah-Nya sehingga makalah ini dapat terselesaikan guna memenuhi salah satu tugas kami sebagai mahasiswa S1 keperawatan, stikes graha edukasi makassar.
Adapun judul makalah ini yaitu Sistem sensori persepsi “ Sinusitis ”. Penulis menyadari atas kekurangan kemampuan penulis dalam pembuatan makalah ini, sehingga akan menjadi suatu kehormatan besar bagi penulis apabila mendapatkan kritikan dan saran yang membangun agar makalah ini selanjutnya akan lebih baik dan sempurna serta komprehensif.
Pada kesempatan ini kami, tak lupa penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya pula kepada :
1.    Ns. Haikal Alpin S.kep, CWCCA. Selaku dosen pembimbing kami.
2.    Semua anggota kelompok 1 atas waktunya dalam pembuatan makalah ini.
Demikian akhir kata dari penulis, semoga makalah ini bermanfaat bagi semua pihak dan pembelajaran budaya khususnya dalam segi teoritis sehingga dapat membuka wawasan ilmu pengetahuan serta akan menghasilkan yang lebih baik di masa yang akan datang.





DAFTAR ISI
Sampul......................................................................................................................... i
Kata pengantar............................................................................................................ ii
Daftar isi.................................................................................................................... iii
BAB I. PENDAHULUAN
1.1  Latar belakang................................................................................................ 1
1.2  Rumusan masalah........................................................................................... 2
1.3  Tujuan............................................................................................................. 2
1.4  Manfaat........................................................................................................... 2
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1  Definisi............................................................................................................. 3
2.2  Etiologi............................................................................................................. 3
2.3  Patofisiologi..................................................................................................... 4
2.4  Manifestasi Klinik............................................................................................ 6
2.5  Pemeriksaan penunjang.................................................................................... 6
2.6  Penatalaksanaan............................................................................................... 7
2.7  Komplikasi....................................................................................................... 8
2.8  Penyimpangan KDM..................................................................................... 10
BAB III. ASUHAN KEPERAWATAN
3.1  Pengkajian..................................................................................................... 11
3.2  Diagnosa keperawatan.................................................................................. 12
3.3  Rencana tindakan.......................................................................................... 12
3.4  Implamentasi................................................................................................. 14
3.5  Evaluasi......................................................................................................... 14
BAB IV. PENUTUP
4.1.Kesimpulan ................................................................................................... 15
4.2.Saran ............................................................................................................. 15
Daftar pustaka........................................................................................................ 16












BAB I
PENDAHULUAN
1.1         Latar belakang
Sinusitis merupakan penyakit yang sangat lazim diderita di seluruh dunia, hampir menimpa kebanyakan penduduk Asia. Penderita sinusitis bisa dilihat dari ibu jari bagian atas yang kempot. Sinusitis dapat menyebabkan seseorang menjadi sangat sensitif terhadap beberapa bahan, termasuk perubahan cuaca (sejuk), pencemaran alam sekitar, dan jangkitan bakteri. Gejala yang mungkin terjadi pada sinusitis adalah bersin-bersin terutama di waktu pagi, rambut rontok, mata sering gatal, kaki pegal-pegal, cepat lelah dan asma. Jika kondisi ini berkepanjangan akan meimbulkan masalah keputihan bagi perempuan, atau ambeien (gangguan prostat) bagi laki-laki.
Menurut Lucas seperti yang di kutip Moh. Zaman, etiologi sinusitis sangat kompleks, hanya 25% disebabkan oleh infeksi, sisanya yang 75% disebabkan oleh alergi dan ketidakseimbangan pada sistim saraf otonom yang menimbulkan perubahan-perubahan pada mukosa sinus. Suwasono dalam penelitiannya pada 44 penderita sinusitis maksila kronis mendapatkan 8 di antaranya (18,18%) memberikan tes kulit positif dan kadar IgE total yang meninggi. Terbanyak pada kelompok umur 21-30 tahun dengan frekuensi antara laki-laki dan perempuan seimbang. Hasil positif pada tes kulit yang terbanyak adalah debu rumah (87,75%), tungau (62,50%) dan serpihan kulit manusia (50%).
Sebagian besar kasus sinusitis kronis terjadi pada pasien dengan sinusitis akut yang tidak respon atau tidak mendapat terapi. Peran bakteri sebagai dalang patogenesis sinusitis kronis saat ini sebenarnya masih dipertanyakan. Sebaiknya tidak menyepelekan pilek yang terus menerus karena bisa jadi pilek yang tak kunjung sembuh itu bukan sekadar flu biasa.
Oleh karena faktor alergi merupakan salah satu penyebab timbulnya sinusitis, salah satu cara untuk mengujinya adalah dengan tes kulit epidermal berupa tes kulit cukit (Prick test, tes tusuk) di mana tes ini cepat, simpel, tidak menyakitkan, relatif aman dan jarang menimbulkan reaksi anafilaktik. Uji cukit (tes kulit tusuk) merupakan pemeriksaan yang paling peka untuk reaksi-reaksi yang diperantarai oleh IgE dan dengan pemeriksaan ini alergen penyebab dapat ditentukan. 
1.2         Rumusan masalah
1.2.1        Apa definisi dari sinusitis?
1.2.2        Apa manifestasi klinis dari sinusitis?
1.2.3        Bagaimana etiologi dari sinusitis?
1.2.4        Bagaimana patofisiologi dari sinusitis?
1.2.5        Apa saja pemeriksaan diagnostic yang dapat dilakukan pada penderita sinusitis?
1.2.6        Bagaimana penatalaksanaan dari sinusitis?
1.2.7        Apa saja komplikasi dari sinusitis?
1.2.8        Bagaimana asuhan keperawatan yang harus dilakukan pada penderita
1.3         Tujuan
1.3.1        Dapat memahami definisi sinusitis.
1.3.2        Dapat mengetahui manifestasi klinis dari sinusitis.
1.3.3        Dapat mengetahui etiologi dari sinusitis.
1.3.4        Dapat memahami patofisiologi dari sinusitis.
1.3.5        Dapat memahami pemeriksaan diagnostic yang perlu dilakukan pada penderita sinusitis.
1.3.6        Dapat mengetahui penatalaksanaan dari sinusitis.
1.3.7        Dapat mengetahui komplikasi dari sinusitis.
1.3.8        Dapat memberikan asuhan keperawatan yang sesuai pada penderita sinusitis.
1.4         Manfaat
Dengan adanya makalah ini, diharapkan mahasiswa mampu memahami dan membuat asuhan keperawatan pada klien dengan sinusitis, serta mampu mengimplementasikannya dalam proses keperawatan.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1         Definisi
Sinusitis merupakan penyakit yang sering ditemukan dalam praktik dokter sehari-hari, bahkan dianggap sebagai salah satu penyebab gangguan kesehatan tersering di seluruh dunia. Sinusitis didefinisikan sebagai inflamasi mukosa sinus paranasal. Umumnya disertai atau dipicu oleh rhinitis sehingga sering disebut rinosinusitis. Penyebab utamanya adalah selesma (common cold) yang merupakan infeksi virus, yang selanjutnya dapat diikuti oleh infeksi bakteri.
Bila mengenai beberapa sinus disebut multisinusitis, sedangkan bila mengenai semua sinus paranasal disebut pansinusitis. Yang paling sering terkena ialah sinus etmoid dan maksila, sedangkan sinus frontal lebih jarang dan sinus sphenoid lebih jarang lagi. Sinus maksila disebut juga antrum Highmore, letaknya dekat akar gigi rahang atas, maka infeksi gigi mudah menyebar ke sinus, disebut sinusitis dentogen.
Sinusitis dapat berbahaya karena menyebabkan komplikasi ke orbita dan intracranial, serta menyebabkan peningkatan serangan asma yang sulit diobati.
Sinusitis sendiri dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu 
1.      Sinusitis akut     : Suatu proses infeksi di dalam sinus yang berlansung selama 3 minggu.
Macam-macam sinusitis akut, yaitu sinusitis maksila akut, sinusitis emtmoidal akut, sinus frontal akut, dan sinus sphenoid akut.
1.      Sinusitis kronis : Suatu proses infeksi di dalam sinus yang berlansung selama 3-8 minggu tetapi dapat juga berlanjut sampai berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.





2.2         Etiologi
2.1.1        Pada Sinusitis Akut, yaitu :
1.      Infeksi virus
            Sinusitis akut bisa terjadi setelah adanya infeksi virus pada saluran pernafasan bagian atas (misalnya Rhinovirus, Influenza virus, dan Parainfluenza virus).
2.      Bakteri
            Di dalam tubuh manusia terdapat beberapa jenis bakteri yang dalam keadaan normal tidak menimbulkan penyakit (misalnya Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae). Jika sistem pertahanan tubuh menurun atau drainase dari sinus tersumbat akibat pilek atau infeksi virus lainnya, maka bakteri yang sebelumnya tidak berbahaya akan berkembang biak dan menyusup ke dalam sinus, sehingga terjadi infeksi sinus akut.
3.      Infeksi jamur
Infeksi jamur bisa menyebabkan sinusitis akut pada penderita gangguan sistem kekebalan, contohnya jamur Aspergillus.
1.      Peradangan menahun pada saluran hidunng
Pada penderita rhinitis alergi dan juga penderita rhinitis vasomotor.
1.      Septum nasi yang bengkok
2.      Tonsilitis yg kronik.
2.1.2        Pada Sinusitis Kronik, yaitu
1.      Sinusitis akut yang sering kambuh atau tidak sembuh.
2.      Alergi
3.      Karies dentis ( gigi geraham atas )
4.      Septum nasi yang bengkok sehingga menggagu aliran mucosa.
5.      Benda asing di hidung dan sinus paranasal
6.      Tumor di hidung dan sinus paranasal.
2.3         Patofisiolgi
Kesehatan sinus dipengaruhi oleh patensi ostium-ostium sinus dan lancarnya klirens mukosiliar (mucociliary clearance) di dalam KOM. Mukus juga mengandung substansi antimicrobial dan zat-zat yang berfungsi sebagai mekanisme pertahanan tubuh terhadap kuman yang masuk bersama udara pernafasan.
Organ-organ yang membentuk KOM letaknya berdekatan dan bila terjadi edema, mukosa yang berhadapan akan saling bertemu sehingga silia tidak dapat bergerak dan ostium tersumbat. Akibatnya terjadi tekanan negative di dalam ronga sinus yang menyebabkan terjadinya transudasi, mula-mula serous. Kondisi ini biasa dianggap sebagai rinosinusitis non-bacterial dan biasanya sembuh dalam beberapa hari tanpa pengobatan.
Bila kondisi ini menetap, secret yang terkumpul dalam sinus merupakan media baik untuk tumbuhnya dan multiplikasi bakteri. Secret menjadi purulen. Keadaan ini disebut sebagai rinosinusitis akut bacterial dan memerlukan terapi antibiotic.
Jika terapi tidak berhasil (misalnya karena ada factor predisposisi), inflamasi berlanjut, terjadi hipoksia dan bacteri anaerob berkembang. Mukosa makin membengkak dan ini merupakan rantai siklus yang terus berputar sampai akhirnya perubahan mukosa menjadi kronik yaitu hipertrofi, polipoid atau pembentukan polip dan kista. Pada keadaan ini mungkin diperlukan tindakan operasi.
Klasifikasi dan mikrobiologi: Consensus international tahun 1995 membagi rinosinusitis hanya akut dengan batas sampai 8 minggu dan kronik jika lebih dari 8 minggu.
Consensus tahun 2004 membagi menjadi akut dengan batas sampai 4 minggu, subakut antara 4 minggu sampai 3 bulan dan kronik jika lebih  dari 3 bulan.
Sinusitis kronik dengan penyebab rinogenik umumnya merupakan lanjutan dari sinusitis akut yang tidak terobati secara adekuat. Pada sinusitis kronik adanya factor predisposisi harus dicari dan di obati secara tuntas.
Menurut berbagai penelitian, bacteri utama yang ditemukan pada sinusitis akut adalah streptococcus pneumonia (30-50%). Hemopylus influenzae (20-40%) dan moraxella catarrhalis (4%). Pada anak, M.Catarrhalis lebih banyak di temukan (20%).
Pada sinusitis kronik, factor predisposisi lebih berperan, tetapi umumnya bakteri yang ada lebih condong ka rarah bakteri negative gram dan anaerob.
2.4         Manifestasi Klinis
2.4.1        Sinusitis maksila akut
Gejala : Demam, pusing, ingus kental di hidung, hidung tersumbat,m nyeri tekan, ingus mengalir ke nasofaring, kental kadang-kadang berbau dan bercampur darah.
2.4.2        Sinusitis etmoid akut
Gejala : Sekret kental di hidung dan  nasofaring, nyeri di antara dua mata, dan pusing
2.4.3        Sinusitis frontal akut
Gejala : Demam,sakit kepala yang hebat pada siang hari, tetapi berkurang setelah sore hari, sekret kental dan penciuman berkurang.
2.4.4        Sinusitis sphenoid akut  
Gejala : Nyeri di bola mata, sakit kepala, dan terdapat sekret di nasofaring
2.4.5        Sinusitis Kronis
Gejala  : Flu yang sering kambuh, ingus kental dan kadang-kadang berbau,selalu terdapat ingus di tenggorok, terdapat gejala di organ lain misalnya rematik, nefritis, bronchitis, bronkiektasis, batuk kering, dan sering demam.
2.5         Pemeriksaan penunjang
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
Pemeriksaan fisik dengan rinoskopi anterior dan posterior, pemeriksaan naso-endoskopi sangat dianjurkan untuk diagnosis yang lebih tepat dan dini. Tanda khas ialah adanya pus di meatus medius (pada sinusistis maksila dan etmoid anterior dan frontal) atau di meatus superior (pada sinusitis etmoid posterior dan sphenoid).
Pada rinosinusitis akut, mukosa edema dan hiperemis. Pada anak sering ada pembengkakan dan kemerahan di daerah kantus medius.
Pemerikasaan pembantu yang penting adalh foto polos atau CT scan. Foto polos posisi Waters, PA dan lateral, umumnya hanya mampu menilai kondisi sinus-sinus besar seperti sinus maksila dan frontal. Kelainan akan terlihat perselubungan, batas udara, cairan (air fluid level) atau penebalan mukosa.
CT scan sinus merupakan golg standard diagnosis sinusitis karena mampu manila anatomi hidung dan sinus, adanya penyakit dalam hidung dan sinus secacra keseluruhan dan perluasannya. Namun karena mahal hanya dikerjakan sebagai penunjang diagnosis sinusistis kronik yang tidak membaik dengan pengobatan atau pra-operasi sebagai panduan operator saat melakukan operasi sinus.
Pada pemeriksaan transiluminasi sinus yang sakit akan menjadi suram atau gelap. Pemeriksaan ini sudah jarang digunakan karena sangat terbatas kegunaannya.
Pemeriksaan mikrobiologik dan tes resistensi dilakukan dengan mengambil secret dari meatus medius/superior, untuk mendapat antibiotic yang tepat guna. Lebih baik lagi bila diambil secret yang keluar dari pungsi sinus maksila.
Sinuskopi dilakukan dengan pungsi menembus dinding medial sinus maksila melalui meatus inferior, dengan alat endoskop bisa dilihat kondisi sinus maksila yang sebenarnya, selanjutnya dapat dilakukan irigasi sinus untuk terapi.
2.6         Penatalaksanaan
Tujuan terapi sinusitis ialah:
1.      Mempercepat penyembuhan
2.      Mencegah komplikasi
3.      Mencegah perubahan menjadi kronik
Prinsip pengobatan ialah membuka sumbatan di KOM sehinggan drenase dan ventilasi sinus-sinus pulih secara alami.
Antibiotik dan dekongestan merupakan terapi pilihan pada sinusitis akut bacterial, untuk menghilangkan infeksi dan pembengkakan maukosa serta membuka sumbatan ostium sinus. Antibiotik yang dipilih adalah golongan penisilin seperti amoksilin. Jika diperkirakan kuman telah resisten atau memproduksi beta-laktamase, maka dapat diberikan amoksilin-klavulanat atau jenis sefalosporin generasi ke-2. Pada sinusitis antibiotic diberikan selama 10-14 hari meskipun gejala klinik sudah hilang. Pada sinusitis kronik diberikan antibiotic yang sesuai untuk kuman negative gram dan anaerob.
Selain dekongestan oral dan topical, terapi lain dapat diberikan jika diperlukan, seperti analgetik, mukolitik, teroid oral/topical, pencucian rongga hidung dengan NaCl atau pemanasan (diatermi). Antihistamin tidak rutin diberikan, karena sifat antikolinergiknya dapat menyebabkan secret jadi lebih kental. Bila ada alergi berat sebaiknya diberikan antihistamin generasi ke-2. Irigasi sinus maksila atau Proetz displacement therapy juga merupakan terapi tambahan yang bermanfaat. Imunoterapi dapat dipertimbangkan jika pasien menderita kelainan alergi yang berat.
Tindakan operasi. Bedah sinus endoskopi fungsional (BSEF/FESS) merupakan operasi terkini untuk sinusitis kronik yang memerlukan operasi. Tindakan ini telah menggantikan hampir semua jenis bedah sinus terdahulu karena memberikan hasil yang lebih memuaskan dan tindakan ringan dan tidak radikal. Indikasinya berupa: sinusitis kronik yang tidak membaik setelah terapi adekuat; sinusitis kronik disertai kista atau kelainan yang irreversible; polip ekstensif, adanya komplikasi sinusitis serta sinusitis jamur
2.7         Komplikasi
Komplikais sinusitis telah menurun secara nyata sejak ditemukannya antibiotic. Komplikasi berat biasanya terjadi pada sinusitis akut atau pada sinusitis kronik dengan eksaserbasi akut, berupa komplikasi orbita atau intracranial.
Kelainan orbita disebabkan oleh sinus paranasal yang berdekatan dengan mata (orbita). Yang paling sering adalah sinusitis etmoid, kemudian sinusitis frontal dan maksila. Penyebaran infeksi terjadi melalui tromboflebitis dan perkontinuitatum. Kelainan yang dapat timbul ialah edema palpebra, selulitis orbita, asbes subperiostal, abses orbita dan selanjutnya dapat terjadi thrombosis sinus kavernosus. Kelainan Intrakranial. Dapat berupa meningitis, abses ekstradural atau subdural, abses otak dan thrombosis sinus kavernosus.
Komplikasi juga dapat terjadi padasinusitis kronis berupa:  Osteomielitis dan abses suberiostal. Paling sering timbul akibat sinusitis frontal dan biasanya ditemukan pada anak-anak. Pada osteomielitis sinus maksila dapat timbul fistula oroantral atau fistula pada pipi.
Kelainan paru, seperti bronchitis kronik dan bronkiektasis. Adanya kelainan sinus paranasal disertai dengan kelainan paru ini disebut sinobronkitis. Selain itu dapat juga menyebabkan kambuhnya asma bronchial yang sukar dihilangkan sebalum sinusitisnya disembuhkan.
                                        


2.8         Penyimpangan KDM
( ETIOLOGI )

Infeksi virus oleh akseserbasi rinitis alergi
Infeksi traktus respiratorius atas
Implamasi, edema, membran mukosa hidung
                                                           
                                          Implamasi pada sinus prontalis               Peradangan
Nyeri Akut

 
Sekret terakumulasi dihidung         Produksi sekret meningkat
Hidung tersumbat                           Akumulasi sekret
Penciuman terganggu                Infeksi saluran pernapasan atas
Tidak bisa mencium             Magrofag menangkap benda asing
  Aroma makanan                     Yang masuk kedalam tubuh
 
Nafsu makan menurun                   Merangsang pengeluaran
mediator kimia


 
    Nutrisi tidak                                   Pelepasan Histamin,
terpenuhi dengan baik                    Bradikinin, Prostaglanding








 
Peningkatan Set. Pain
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
 
Hipatalamus


 
Suhu tubuh meningkat








Hipetermi

 
 




BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
3.1         Pengkajian
1.      Identitas / Data demografi
Berisi nama, usia, jenis kelamin, pekerjaan yang sering terpapar sinar matahari secara langsung, tempat tinggal sebagai gambaran kondisi lingkungan dan keluarga,  dan keterangan lain mengenai identitas pasien.
2.      Aktivitas
Gejala : Perasaan tidak enak (malaise). Tanda : ataksia, kelumpuhan, gerakan involunter.  
3.      Sirkulasi
Gejala : Adanya riwayat kardiopatologi : endokarditis dan PJK. Tanda : tekanan darah meningkat, nadi menurun, dan tekanan nadi berat, taikardi, disritmia.
4.      Eliminasi
Tanda : Inkontinensi dan atau retensi.
5.      Makan
Gejala : Kehilangan nafsu makan, sulit menelan. Tanda : anoreksia, muntah, turgor kulit jelek dan membran mukosa kering.
6.      Higiene
Tanda : Ketergantungan terhadap semua kebutuhan perawatan diri.
7.      Neurosensori
Gejala : Sakit kepala, parestesia, terasa kaku pada persarafan yang terkena, kehilangan sensasi, hiperalgesia, kejang, diplopia, fotofobia, ketulian dan halusinasi penciuman.
Tanda : letargi sampai kebingungan berat hingga koma, delusi dan halusinasi, kehilangan memori, afasia,anisokor, nistagmus,ptosis, kejang umum/lokal, hemiparese, tanda brudzinki positif dan atau kernig positif,  rigiditas nukal, babinski positif,reflek abdominal menurun dan reflek kremastetik hilang pada laki-laki.
8.      Nyeri/keamanan
Gejala : sakit kepala (berdenyut hebat, frontal). Tanda : gelisah, menangis.
9.      Pernafasan
Gejala : riwayat infeksi sinus atau paru. Tanda : peningkatan kerja pernafasan.

3.2         Diagnosa keperawatan
1.      Nyeri akut ( 00132 ) berhubungan dengan tekanan sinus sekunder terhadap peradanggan sinus paranasal pada kepala, tenggorokan
2.      Hipetermi ( 00007 ) berhubungan dengan  reaksi infeksi
3.      Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh (00002)berhubungan dengan ketidakmampuan untuk mengabsorpsi nutrien.
3.3         Rencana tindakan
No
Diagnosa Keperawatan
Tujuan /Kriteria Hasil
Intervensi
Rasional

1.
(604)

Nyeri akut ( 00132 ) berhubungan dengan tekanan sinus sekunder terhadap peradanggan sinus paranasal pada kepala tenggorokan.
Definisi : pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan yang muncul akibat kerusakan jaringan yang aktual dan potensial.
Ditandai dengan batasan karakteristik:
DS :
o    Klien mengeluh nyeri kepala.
DO :
o    Klien nampak gelisah



Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam, diharapkan rasa nyeri berkurang, dengan kriteria hasil :
o  Klien terlihat rileks
o  Klien mengatakan nyeri berkurang/hilan
o  Skala nyeri 0-1


1.       Kaji derajat nyeri setiap hari.

2.       Observasi tanda-tanda vital, keluhan klien serta skala nyeri Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi.
3.       Berikan pendidikan kesehatan mengenai hal-hal yang dapat mengurangi bertambahnya nyeri
4.       Lakukan tindakan kolaboratif untuk pemberian obat analgesic.


1.       Untuk mengetahui skala nyeri pada klien.
2.       Observasi dilakukan untuk memastikan bahwa nyeri berkurang yang ditandai dengan RR dalam skala normal

3.       Untuk mengurangi rasa nyeri.







4.       Obat analgesic dapat menurunkan atau menghilangkan rasa nyeri.

2.
(593)

Hipetermi ( 00007 ) berhubungan dengan  reaksi infeksi
Definisi : Peningkatan suhu tubuh diatas kisaran normal
Ditandai dengan batasan karakteristik:
DS :
o    Klien mengeluh sering demam
DO :
o    Klien nampak panas dingin
o    Klien nampak menggigil.


Setelah dilakukan tindakan kepeerawatan  selama 3x24 jam ,klien dapat menunjukkan termoregulasi dibuktikan dengan ktriteria hasil :
o   Suhu tubuh 36,5-37,5 C
o   Kulit hangat dan lembab, membran mukosa lembab


1.     Pantau hidrasi (misalnya turgor kulit,  kelembapan membran mukosa )
2.     Monitoring perubahan suhu tubuh.



3.     Monitoring perubahan suhu tubuh
4.     Berikan antipiretik


1.    Untuk mengetahui perubahan turgor kulit dan membran mukosa

2.    Suhu tubuh harus dipantau secara efektif guna mengetahui perkembangan dan kemajuan dari pasien.
3.    Dapat membantu mengurangi demam.

4.    Mengurangi demam dengan aksi sentralnya pada hipotalamus, meskipun demam mungkin dapat berguna dalam membatasi pertumbuhan organisme dan autodestruksi dari sel-sel terinfeksi.


3.
(251)

Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh (00002)berhubungan dengan ketidakmampuan untuk mengabsorpsi nutrien.
Defenisi :
Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik
Faktor yang berhubungan :
Ketidakmampuan untuk mengabsorpsi nutrien
Ditandai dengan batasan karakteristik :
DS :
-        Klien mengatakan nafsu makan menurun
-        Klien mengatakan Ketidakmampuan untuk makan karena distress pernapasan.
DO:
-        Kelemahan otot yang berfungsi untuk menelan atau mengunyah
-        Kurangnya minat terhadap makanan

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam ,ketidakseimbangan nutrisi dapat teratasi dengan kriteria hasil :
Klien dapat mempertahankan massa tubuh dan berat badan dalam rentang normal

Pengkajian :
1.     Pantau kandungan nutrisi dan kalori pada catatan asupan
Tindakan mandiri :
2.     Ketahui makanan kesukaan pasien

3.     Timbang pasien pada interval yang tepat
Penyuluhan :
4.     Ajarkan pasien/ keluarga tentang makanan bergizi dan tidak mahal .
Kolaboratif :
5.     Rujuk ke dokter untuk menentukan penyebab gangguan nutrsi


1.   Untuk mengetahui asupan nutrisi dan kalori dari klien

2.   Untuk mengetahui makanan yang disukai klien
3.   Untuk mengetahui massa tubug dan berat badan klien
4.   Agar klien dapat mengerti tentang makanan yang bergizi yang baik untuk kesehatan
5.   Untuk mengetahui penyebab gangguan nutrisi

3.4         Implamentasi
Implementasi disesuaikan dengan intervensi pada rencana intervensi
3.5         Evaluasi
3.5.1        Rasa nyeri dapat berkurang/hilang.
3.5.2        Hipetermi dapat teratasi.
3.5.3        Nutrisi klien dapat terpenuhi secara edukuat.


BAB  IV
PENUTUP
4.1         Kesimpulan
Sinusitis merupakan penyakit inflamasi mukosa sinus paranasal yang sering ditemukan dalam praktik dokter sehari-hari, bahkan dianggap sebagai salah satu penyebab gangguan kesehatan tersering di seluruh dunia. Ada empat pasang sinus paranasal, mulai dari yang terbesar yaitu sinus maksila, sinus frontal, sinus etmoid dan sinus sfenoid kanan dan kiri. Semua sinus mempunyai muara (ostium) ke dalam rongga hidung. Infeksi virus ini, dapat dipengaruhi oleh lingkungan yang berpolusi, udara dingin dan kering serta kebiasaan merokok. Keadaan ini lama-lama menyebabkan perubahan mukosa dan merusak silia. Dalam Consensus International tahun 1995 membagi sinusitis hanya akut dengan batas sampai 8 minggu yang kebanyakan disebabkan oleh streptococcus pneumonia  (30-50%) dan kronik yang lebih disebabkan oleh bakteri gram negative dan anaerob jika lebih dari 8 minggu.
4.2         Saran
Banyak komplikasi yang terjadi pada penderita sinusitis, yakni menyebabkan komplikasi ke orbita dan intracranial, juga dapat menyebabkan peningkatan serangan asma yang sulit diobati. Namun komplikasi ini dapat menurun dengan pemberian antibiotic dan dekongestan sejak dini (awal terjangkitnya sinusitis) untuk mempercepat penyembuhan, mencegah komplikasi, dan perubahan menjadi kronik.











DAFTAR PUSTAKA
NANDA 2012-2014. Diagnosis keperawatan Definisi dan Klasifikasi. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Judithy M. Wilkinson. Nancy R. Ahern (2011). Buku saku keperawatan. Diagnosa NANDA, Intervensi NIC. Kriteria hasil NOC. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Doenges marilynn (2000), Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta



 



3 komentar:

Kusta (Morbus hansen)

BAB I PENDAHULUAN 1.1          Latar belakan g Kusta merupakan penyakit yang banyak menyerang kulit dan syaraf. Kusta atau yang d...