Minggu, 13 Agustus 2017

Asuhan keperawatan Demam Berdarah (DBD)



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. Konsep Medis
1.1.        Definisi
        Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypty (Christantie Efendy,1995).
      Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang terdapat pada anak dan orang dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan nyeri sendi yang disertai ruam atau tanpa ruam. DHF sejenis virus yang tergolong arbo virus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypty (betina) (Seoparman , 1990).
      Dari beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypty yang terdapat pada anak dan orang dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan nyeri sendi yang disertai ruam atau tanpa ruam.


1.2.        Etiologi
      Sekurang-kurangnya ada empat tipe antigenik virus dengue yang berbeda. Lagipula, tiga virus yang dibawa arthopoda (arbo) lain menyebabkan penykit demam serupa atau identik ruam. Dengue 1 dan 2 ditemukan di Irian ketika berlangsungnya perang dunia ke II, sedangkan dengue 3 dan 4 ditemukan pada saat wabah di Filipina tahun 1953-1954. Virus dengue berbentuk batang, bersifat termoragil, sensitif terhadap in aktivitas oleh diatiter dan natrium diaksikolat, stabil pada suhu 70oC. Keempat serotif tersebut telah di temukan pula di Indonesia dengan serotif ke 3 sebagai serotif yang paling banyak.
1.3.        Manifestasi Klinis
a.        Demam tinggi selama 5 – 7 hari
b.        Mual, muntah, tidak ada nafsu makan, diare, konstipasi.
c.         Perdarahan terutama perdarahan bawah kulit, ptechie, echymosis, hematoma.
d.        Epistaksis, hematemisis, melena, hematuri.
e.         Nyeri otot, tulang sendi, abdoment, dan ulu hati.
f.          Sakit kepala.
g.        Pembengkakan sekitar mata.
h.        Pembesaran hati, limpa, dan kelenjar getah bening.
i.          Tanda-tanda renjatan (sianosis, kulit lembab dan dingin, tekanan darah menurun, gelisah, capillary refill lebih dari dua detik, nadi cepat dan lemah).

Kriteria DBD menurut WHO (WHO, 1997) :
1.      Klinis :
Ø  Demam tinggi mendadak, tanpa sebab yang jelas, berlangsung terus-menerus selama 2-7 hari
Ø  Terdapat manifestasi perdarahan : RL tes positif, petekie, ekimosis, epistaksis, perdarahan gusi, hematemesis, melena.
Ø  Pembesaran hati / hepatomegali
Ø  Syok
2.      Laboratorium :
Ø  Trombositopenia (100.000 mm³  atau kurang)
Ø  Hemokonsentrasi : peningkatan hematokrit 20 % menurut standar umur dan jenis kelamin.






Derajat DBD 

Derajat I
:
Demam disertai uji tourniquet positif
Derajat II
:
Derajat I disertai perdarahan spontan
Derajat III
:
Derajat II disertai kegagalan sirkulasi / syok (hipotensi, akral dingin, tekanan nadi < 20 mmHg)
Derajat IV
:
Derajat III disertai syok yang berat (profound syok) : nadi tidak teraba, tekanan darah  tidak terukur

1.4.        Patofisiologi
      Virus akan masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk aedes aegypty dan kemudian akan bereaksi dengan antibody dan terbentuklah kompleks virus-antibody. Dalam sirkulasi akan mengaktivasi system komplemen. Akibat aktivasi C3 dan C5 akan dilepas C3a dan C5a,dua peptida yang berdaya untuk melepaskan histamine dan merupakan mediator kuat sebagai factor meningkatnya permeabilitas dinding pembuluh darah dan menghilangkan plasma melalui endotel dinding itu.
      Terjadinya trobositopenia, menurunnya fungsi trombosit dan menurunnya faktor koagulasi (protombin dan fibrinogen) merupakan factor penyebab terjadinya perdarahan hebat , terutama perdarahan saluran gastrointestinal pada DHF.
       Yang menentukan beratnya penyakit adalah meningginya permeabilitas dinding pembuluh darah , menurunnya volume plasma , terjadinya hipotensi , trombositopenia dan diathesis hemorrhagic , renjatan terjadi secara akut.
       Nilai hematokrit meningkat bersamaan dengan hilangnya plasma melalui endotel dinding pembuluh darah. Dan dengan hilangnya plasma klien mengalami hipovolemik. Apabila tidak diatasi bisa terjadi anoxia jaringan, acidosis metabolic dan kematian.
           Fase-fase pada DBD :
1.      Fase Inkubasi : 9-11 hari
2.      Fase Akut       : hari ke 1-3
3.      Fase Kritis     : hari 4-6
4.      Fase Penyembuhan : hari 7-10                                                                                                            
    Apabila setelah hari ke 7 masih terjadi kenaikan suhu badan perlu dipikirkan 3 hal :
1.      Proses pirogen : karena infuse terlalu lama
2.      Proses alergi
3.      Proses infeksi

1.5.        Pemeriksaan Penunjang
1.      AT dan Hmt serial, Hb, Gol darah, CT, BT
2.      Ro thorak : adakah efusi pleura
3.      USG : kelainan vesika felea

1.6.        Komplikasi
Adapun komplikasi dari penyakit demam berdarah diantaranya :
a.        Perdarahan luas.
b.        Shock atau renjatan.
c.         Effuse pleura
d.        Penurunan kesadaran.





1.7.        Penatalaksanaan medis
a. Tirah baring
b. Pemberian makanan lunak .
c. Pemberian cairan melalui infus.
    Pemberian cairan intra vena (biasanya ringer lactat, nacl) ringer lactate merupakan cairan intra vena yang paling sering digunakan , mengandung Na + 130 mEq/liter , K+ 4 mEq/liter, korekter basa 28 mEq/liter , Cl 109 mEq/liter dan Ca = 3 mEq/liter.
d. Pemberian obat-obatan: antibiotic, antipiretik,
e. Anti konvulsi jika terjadi kejang
f.  Monitor tanda-tanda vital ( T,S,N,RR).
g.  Monitor adanya tanda-tanda renjatan
h.  Monitor tanda-tanda perdarahan lebih lanjut
i.   Periksa HB,HT, dan Trombosit setiap hari.

















2.            Konsep Medis
2.1.        Pengkajian

a.  Identitas : umur, alamat  (daerah endemis ?, lingkungan rumah / sekolah ada yang terkena DB ?)
b.  Riwayat Kesehatan 
1)  Keluhan utama (keluhan yang dirasakan pasien saat pengkajian) : panas, muntah, epistaksis, perdarahan gusi   
2)  Riwayat kesehatan sekarang (riwayat penyakit yang diderita pasien saat masuk rumah sakit) : kapan mulai panas ?
3)  Riwayat kesehatan yang lalu (riwayat penyakit yang sama atau penyakit lain yang pernah diderita oleh pasien) 
4)  Riwayat kesehatan keluarga (riwayat penyakit yang sama atau penyakit lain yang pernah diderita oleh anggota keluarga yang lain baik bersifat genetik atau tidak)
5)  Riwayat tumbuh kembang : adakah keterlambatan tumbuh kembang ?
6)  Riwayat imunisasi
c.  Pemeriksaan Fisik
1)      Keadaan umum : kesadaran, vital sign, status nutrisi (berat badan, panjang badan, usia)
2)      Pemeriksaan persistem
a)      Sistem persepsi sensori :
Ø  Penglihatan : edema palpebra, air mata ada / tidak, cekung / normal
Ø  Pengecapan : rasa haus meningkat/tidak, lidah lembab / kering
b)      Sistem persyarafan : kesadaran, menggigil, kejang, pusing
c)      Sistem pernafasan : epistaksis, dispneu, kusmaul, sianosis, cuping hidung, odem pulmo, krakles
d)     Sistem kardiovaskuler : takikardi, nadi lemah dan cepat / tak teraba, kapilary refill lambat, akral hangat / dingin, epistaksis, sianosis perifer, nyeri dada
e)      Sistem gastrointestinal :
Ø  Mulut : membran mukosa lembab / kering, perdarahan gusi
Ø  Perut  : turgor ?, kembung / meteorismus, distensi,    nyeri, asites, lingkar perut ?
Ø  Informasi tentang tinja : warna (merah, hitam), volume, bau, konsistensi,  darah,  melena
f)       Sistem integumen : RL test (+) ?, petekie, ekimosis, kulit kering / lembab, perdarahan bekas tempat injeksi ?
g)      Sistem perkemihan : bak 6 jam terakhir, oliguria  / anuria


2.2.        Diagnosa Keperawatan
1)   Hipertermi berhubungan dengan peningkatan metabolic, dehidrasi,  viremia  
2)   PK: Syok Hipovolemia b.d dengan kebocoran plasma, perdarahan, 
3)   Takut b.d prosedur pengambilan darah (cek AT dan Hmt serial), hospitalisasi.
4)   Defisit self care b.d kelemahan, sesak nafas.
5)   Cemas orang tua b.d perkembangan penyakit anaknya

2.3.        Rencana Keperawatan
1.
Hipertermi b.d, pening-katan metabolik, viremia

Batasan karakteristik :
-          Suhu tubuh > nor-mal
-          Kejang
-          Takikardi
-          Respirasi meningkat
-          Diraba hangat
-          Kulit memerah

Setelah dilakukan tindak-an perawatan selama … X 24 jam suhu badan pasien normal,  dengan kriteria :

Termoregulasi (0800)
-          Suhu kulit normal
-          Suhu badan 35,9˚C-  37,3˚C
-          Tidak ada sakit kepa-la / pusing
-          Tidak ada nyeri otot
-          Tidak ada perubahan warna kulit
-          Nadi, respirasi dalam     batas normal
-          Hidrasi adequate
-          Pasien menyatakan   nyaman
-          Tidak menggigil
-          Tidak iritabel / gra-gapan /   kejang

Pengaturan Panas (3900)
1.       Monitor suhu sesuai kebutuhan
2.       Monitor  tekanan darah, nadi dan respirasi
3.       Monitor suhu dan warna kulit
4.       Monitor dan laporkan tanda dan gejala  hipertermi
5.       Anjurkan intake cairan dan nutrisi yang adekuat
6.       Ajarkan klien bagaimana mencegah panas yang    tinggi
7.       Berikan obat antipiretik
8.       Berikan obat  untuk mencegah atau me-ngontrol  menggigil

Pengobatan Panas (3740)
1.       Monitor suhu sesuai kebutuhan
2.       Monitor IWL
3.       Monitor suhu dan warna kulit
4.       Monitor tekanan darah, nadi dan respirasi
5.       Monitor derajat penurunan kesadaran
6.       Monitor kemampuan aktivitas
7.       Monitor leukosit, hematokrit, Hb
8.       Monitor intake dan output
9.       Monitor adanya aritmia jantung
10.    Dorong peningkatan intake cairan
11.    Berikan cairan intravena
12.    Tingkatkan sirkulasi udara dengan kipas angin
13.    Dorong atau lakukan oral hygiene
14.    Berikan obat antipiretik untuk mencegah klien menggigil / kejang
15.    Berikan obat antibiotic untuk mengobati penyebab demam
16.    Berikan oksigen
17.    Kompres dingin diselangkangan, dahi dan aksila.
18.    Anjurkan klien untuk tidak memakai selimut 
19.    Anjurkan klien memakai   baju berbahan dingin, tipis dan menyerap keringat

Manajemen Lingkungan (6480)
1.       Berikan ruangan sendiri sesuai indikasi
2.       Berikan tempat tidur dan kain / linen yang bersih  dan nyaman
3.       Batasi pengunjung

Mengontrol Infeksi (6540)
1.       Anjurkan klien untuk mencuci tangan sebelum makan
2.       Gunakan sabun untuk mencuci tangan
3.       Cuci tangan sebelum dan sesudah me-lakukan  kegiatan perawatan klien
4.       Ganti tempat infuse dan bersihkan sesuai dengan  SOP
5.       Berikan perawatan kulit di area yang odem
6.       Dorong klien untuk cukup istirahat
7.       Lakukan pemasangan infus dengan teknik aseptik    
8.       Anjurkan klien minum antibiotik sesuai advis dokter                                                                                                                                                                                                                                                            
2.
PK: Syok hipovolemia b.d kebocoran plasma, perdarahan , dehidrasi









Setelah dilakukan tindak-an / penanganan   selama 1 jam   diharapkan klien mempunyai perfusi yang adekuat, dengan criteria :

Kriteria hasil :
-          Amplitudo nadi perifer  meningkat
-          Pengisian kapiler singkat (< 2 detik)
-          Tekanan darah dalam rentang normal
-          CVP > atau = 5 cm H2O
-          Frekuensi jantung teratur
-          Berorientasi terhadap waktu, tempat, dan orang
-          Keluaran urin > atau = 30 ml/jam
-          Akral hangat
-          Nadi teraba
-          Membran mukosa lembab
-          Turgor kulit normal
-          Berat badan stabil dan dalam batas normal
-          Kelopak mata tidak cekung
-          Tidak demam
-          Tidak ada rasa haus yang sangat
-          Tidak ada napas pen-dek /kusmaul

1.       Kaji dan catat status perfusi perifer. Laporkan temuan bermakna : ekstremitas dingin dan pucat, penurunan amplitude nadi, pengisian kapiler lambat.
2.       Pantau tekanan darah pada interval sering ; waspadai pada pembacaan lebih dari 20 mmHg di bawah rentang normal klien atau indicator lain dari hipotensi : pusing, perubahan mental, keluaran urin menurun.
3.       Bila hipotensi terjadi, tempatkan klien pada posisi telentang untuk meningkatkan aliran balik vena. Ingat bahwa tekanan darah > atau = 80/60 mmHg untuk perfusi koroner dan arteri ginjal yang adekuat.
4.       Pantau CVp (bila jalur dipasang) untuk menentukan keadekuatan aliran balik vena dan volume darah; 5-10  cm H2O biasanya dianggap rentang yang adekuat. Nilai mendekati 0 menunjukkan hipovolemia, khususnya bila terkait dengan keluaran urin menurun, vasokonstriksi, dan peningkatan frekuensi jantung yang ditemukan pada hipovolemia.
5.       Observasi terhadap indicator perfusi serebral menurun : gelisah, konfusi, penurunan tingkat kesadaran. Bila indicator positif terjadi, lindungi klien dari cidera dengan meninggikan pengaman tempat tidur dan menempatkan tempat tidur pada posisi paling rendah. Reorientasikan klien sesuai indikasi.
6.       Pantau terhadap indicator perfusi arteri koroner menurun : nyeri dada, frekuensi jantung tidak teratur.
7.       Pantau hasil laboratorium terhadap BUN (>20 mg/dl) dan kreatinin (>1,5 mg/dl) meninggi ; laporkan peningkatan.
8.       Pantau nilai elektrolit terhadap bukti ketidak seimbangan , terutama Natrium (>147 mEq/L) dan Kalium (>5 mEq/L). Waspadai tanda hiperkalemia : kelemahan otot, hiporefleksia, frekuensi jantung tidak teratur. Juga pantau tanda hipernatremia, retensi cairan dan edema.
9.       Berikan cairan sesuai program untuk meningkatkan volume vaskuler. Jenis dan jumlah cairan tergantung pada jenis syok dan situasi klinis klien : RL, Asering
10.    Siapkan untuk pemindahan klien ke ICU/PICU
(Keperawatan Medical Bedah : Swearingen : 1996)
3.








































Takut b.d prosedur pe-ngambilan darah, hos-pitalisasi, pengalaman / lingkungan yang kurang bersahabat. (00148)

Batasan karakteristik :
-          Panik
-          Teror
-          Perilaku menghindar atau menyerang
-          Impulsif
-          Nadi,  respirasi,  TD sistolik meningkat
-          Anoreksia
-          Mual, muntah
-          Pucat
-          Stimulus sebagai ancaman
-          Lelah
-          Otot tegang
-          Keringat meningkat
-          Gempar
-          Ketegangan me-ningkat
-          Menyatakan takut
-          Menangis
-          Protes
-          Melarikan diri









Setelah dilakukan tindak-an keperawatan selama … X 24 jam rasa takut klien berkurang, dengan criteria :

Fear control (1404) :
-          Klien tidak menye-rang atau menghin-dari sumber yang menakutkan
-          Klien menggunakan teknik relaksasi   un-tuk mengurangi takut
-          Klien mampu meng-ontrol respon takut
-          Klien tidak melarika diri
-          Durasi takut menu-run
-          Klien kooperatif saat dilakukan perawatan dan pengobatan

Anxiety control (1402)
-          Tidur pasien adekuat
-          Tidak ada manifes-tasi fisik
-          Tidak ada manifes--tasi perilaku
-          Klien mau berinter-aksi sosial











Coping enhancement  (5230)
1.       Kaji respon takut klien : data objektif dan subyektif
2.       Jelaskan klien / keluarga tentang proses penyakit
3.       Terangkan klien / keluarga tentang semua pemeriksaan dan pengobatan
4.       Sampaikan sikap empati (diam, mem-berikan sentuhan, mengijinkan menangis, berbicara dll)
5.       Dorong orang tua untuk selalu menemani anak
6.       Berikan pilihan yang realistic tentang aspek perawatan
7.       Dorong klien untuk melakukan aktifitas social dan komunitas
8.       Dorong penggunaan sumber spiritual
Anxiety Reduction (5820)
1.       Jelaskan semua prosedur termasuk pe-rasaan yang mungkin dialami selama menjalani prosedur
2.       Berikan objek yang memberikan rasa aman
3.       Berbicara dengan pelan dan tenang
4.       Membina hubungan saling percaya
5.       Jaga peralatan pengobatan di luar penglihatan pasien
6.       Dengarkan klien dengan penuh perhatian
7.       Ciptakan suasana saling percaya
8.       Dorong klien mengungkapkan perasaan, persepsi klien dan takut secara verbal
9.       Berikan aktivitas/peralatan yang meng-hibur untuk mengurangi ketegangan
10.    Anjurkan klien menggunakan teknik relaksasi
11.    Anjurkan orang tua untuk membawakan mainan kesukaan dari rumah
12.    Mengusahakan untuk tidak mengulang pengambilan darah
13.    Libatkan orang tua dalam perawatan dan pengobatan
14.    Berikan lingkungan yang tenang, batasi pengunjung
4.
Defisit self care berhu-bungan dengan kelemah-an
NOC:
Perawatan diri :
(mandi, Makan Toiletting, berpakaian)
Setelah diberi motivasi perawatan selama ….x 24  jam, klien mengerti cara memenuhi ADL secara bertahap sesuai kemam-puan, dengan indicator :
·     Mengerti secara seder-hana cara  mandi, ma-kan, toileting, dan ber-pakaian serta mau men-coba secara aman tanpa cemas
·     Klien mau berpartisipasi dengan senang hati tanpa keluhan dalam me-menuhi ADL
NIC: Membantu perawatan diri klien Mandi dan toiletting
Aktifitas:
1.     Tempatkan alat-alat mandi ditempat yang mudah dikenali dan mudah dijangkau klien
2.     Libatkan klien dan dampingi
3.     Berikan bantuan selama klien masih mampu mengerjakan sendiri
NIC: ADL Berpakaian
Aktifitas:
1.     Informasikan pada Klien dalam memilih pakaian selama perawatan
2.     Sediakan pakaian di tempat yg mudah di jangkau
3.     Bantu berpakaian yang sesuai
4.     Jaga privcy klien
5.     Berikan pakaian pribadi yg digemari dan sesuai

NIC: ADL Makan
1.     Anjurkan duduk dan berdo’a bersama teman
2.     Dampingi saat makan
3.     Bantu jika klien belum mampu dan beri contoh
4.     Beri rasa nyaman saat makan
5.
Cemas orang tua b.d perkembangan  penyakit anaknya (perdarahan, lemah, rewel, sesak na-fas, gelisah)

Batasan karakteristik :
-          Orang tua sering bertanya
-          Orang tua meng-ungkapkan perasaan cemas
-          Khawatir
-          Kewaspadaan me-ningkat
-          Mudah tersinggung
-          Gelisah
-          Wajah tegang, me-merah
-          Kecenderungan me-nyalahkan orang lain

Setelah dilakukan tindak-an keperawatan selama         … X pertemuan kece-masan  orang tua  berku-rang, dengan kriteria :

Anxiety control (1402)
-          Tidur   adekuat
-          Tidak ada manifest-tasi fisik
-          Tidak ada manifest-tasi perilaku
-          Mencari informasi untuk mengurangi cemas
-          Menggunakan teknik relaksasi untuk me-ngurangi cemas
-          Berinteraksi social

Aggression Control (1401)
-          Menghindari kata yang meledak-ledak
-          Menghindari perila-ku yang merusak
-          Mampu mengontrol verbal

Coping (1302)
-          Mampu mengidenti-fikasi pola koping yang efektif dan tidak efektif
-          Mampu mengontrol verbal
-          Melaporkan stress / cemasnya berkurang
-          Mengungkapkan me-nerima keadaan
-          Mencari informasi berkaitan dengan pe-nyakit dan pengo-batan
-          Memanfaatkan du-kungan social
-           
Anxiety control (1402)
-          Tidur   adekuat
-          Tidak ada manifest-tasi fisik
-          Tidak ada manifest-tasi perilaku
-          Mencari informasi untuk mengurangi cemas
-          Menggunakan teknik relaksasi untuk me-ngurangi cemas
-          Berinteraksi social

Aggression Control (1401)
-          Menghindari kata yang meledak-ledak
-          Menghindari perila-ku yang merusak
-          Mampu mengontrol verbal

Coping (1302)
-          Mampu mengidenti-fikasi pola koping yang efektif dan ti-dak efektif
-          Mampu mengontrol verbal
-          Melaporkan stress / cemasnya berkurang
-          Mengungkapkan me-nerima keadaan
-          Mencari informasi berkaitan dengan pe-nyakit dan pengo-batan
-          Memanfaatkan du-kungan sosial


Coping enhancement  (5230)
1.       Kaji respon cemas orang tua
2.       Jelaskan orang tua tentang proses penyakit anaknya
3.       Jelaskan orang tua tentang prosedur pemeriksaan, perawatan dan pengobatan
4.       Beritahu dan jelaskan setiap perkem-bangan penyakit anaknya
5.       Dorong penggunaan sumber spiritual

Anxiety Reduction (5820)
1         Jelaskan semua prosedur termasuk pera-saan yang mungkin dialami selama men-jalani prosedur
2         Berikan objek yang dapat memberikan ra-sa aman
3         Berbicara dengan pelan dan tenang
4         Membina hubungan saling percaya
5         Dengarkan   dengan penuh perhatian
6         Ciptakan suasana saling percaya
7         Dorong orang tua mengungkapkan pera-saan, persepsi dan cemas secara verbal
8         Berikan peralatan / aktivitas yang  meng-hibur untuk mengurangi ketegangan
9         Anjurkan untuk menggunakan teknik re-laksasi
10     Berikan lingkungan yang tenang, batasi pengunjung

2.4.        Implementasi
Implementasi di sesuaikan dengan intervensi yang ada.


2.5.        Evaluasi
    Evaluasi perkembangan kesehatan pasien dapat dilihat dari hasilnya, tujuannya adalah untuk mengetahui sejauh mana tujuan keperawatan dapat dicapai dan memberikan umpan balik terhadap asuhan keperawatan yang telah diberikan.


BAB III
PENUTUP
1.            Kesimpulan
Banyak cara untuk menurunkan insiden terjadinya DBD. Karena vektor dari DBD adalah nyamuk Aedes a, maka ada beberapa hal yang sebaiknya dilaksanakan untuk memutuskan rantai penyakit:
1.  Tanpa insektisida:
a.   menguras bak mandi,tempayan,drum,dll minimal seminggu sekali.
b.   menutup penampungan air rapat- rapat.
c.   membersihkan pekarangan dari kaleng bekas,botol bekas yang memungkinkan nyamuk bersarang.
2.   dengan insektisida:
a. malathion untuk membunuh nyamuk dewasa: biasanya dengan fogging/pengasapan.
b. abate untuk membunuh jentik nyamuk denan cara ditabur pada bejana- bejana tempat penampungan air bersih dengan dosis 1 gram Abate SG 1% per 10 liter air.

2.            Saran
     Penulis berharap semoga penyusunan makalah tentang Askep DBD ini dapat memberikan ilmu dan pengetahuan dalam bidang pendidikan dan praktik keperawatan. Dan juga dengan makalah ini dapat menjadi acuan untuk tindakan proses keperawatan.




DAFTAR PUSTAKA

Anonim.2012.asuhan keperawatan klien dengan demam di akses pada tanggal 24 september 2013

Anonim.2012.asuhan keperawatan anak dengan dhf diakses  pada tanggal 24 september 2013

Anonim.asuhan keperawatan klien dengan demam berdarah dengue dbd dengue hemoragik fever dhf aplikasi nanda noc nic di akses pada tanggal 24 september 2013


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kusta (Morbus hansen)

BAB I PENDAHULUAN 1.1          Latar belakan g Kusta merupakan penyakit yang banyak menyerang kulit dan syaraf. Kusta atau yang d...