BAB II
1. Konsep Medis
1.1.
Definisi
Dengue haemorhagic fever (DHF)
adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue sejenis virus yang tergolong
arbovirus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes
aegypty (Christantie Efendy,1995).
Dengue haemorhagic fever (DHF)
adalah penyakit yang terdapat pada anak dan orang dewasa dengan gejala utama
demam, nyeri otot dan nyeri sendi yang disertai ruam atau tanpa ruam. DHF
sejenis virus yang tergolong arbo virus dan masuk kedalam tubuh penderita
melalui gigitan nyamuk aedes aegypty (betina) (Seoparman , 1990).
Dari beberapa pengertian di atas
maka dapat disimpulkan bahwa dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit
yang disebabkan oleh virus dengue sejenis virus yang tergolong arbovirus dan
masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypty yang
terdapat pada anak dan orang dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan
nyeri sendi yang disertai ruam atau tanpa ruam.
1.2.
Etiologi
Sekurang-kurangnya ada empat tipe antigenik virus dengue
yang berbeda. Lagipula, tiga virus yang dibawa arthopoda (arbo) lain
menyebabkan penykit demam serupa atau identik ruam. Dengue 1 dan 2 ditemukan di
Irian ketika berlangsungnya perang dunia ke II, sedangkan dengue 3 dan 4
ditemukan pada saat wabah di Filipina tahun 1953-1954. Virus dengue berbentuk
batang, bersifat termoragil, sensitif terhadap in aktivitas oleh diatiter dan
natrium diaksikolat, stabil pada suhu 70oC. Keempat serotif tersebut telah di
temukan pula di Indonesia dengan serotif ke 3 sebagai serotif yang paling
banyak.
1.3.
Manifestasi Klinis
a. Demam tinggi selama 5 – 7 hari
b. Mual, muntah, tidak ada nafsu makan,
diare, konstipasi.
c.
Perdarahan
terutama perdarahan bawah kulit, ptechie, echymosis, hematoma.
d. Epistaksis, hematemisis, melena,
hematuri.
e.
Nyeri otot,
tulang sendi, abdoment, dan ulu hati.
f.
Sakit kepala.
g. Pembengkakan sekitar mata.
h. Pembesaran hati, limpa, dan kelenjar
getah bening.
i.
Tanda-tanda
renjatan (sianosis, kulit lembab dan dingin, tekanan darah menurun, gelisah,
capillary refill lebih dari dua detik, nadi cepat dan lemah).
Kriteria DBD menurut WHO (WHO, 1997)
:
1.
Klinis :
Ø Demam tinggi mendadak, tanpa sebab
yang jelas, berlangsung terus-menerus selama 2-7 hari
Ø Terdapat manifestasi perdarahan : RL
tes positif, petekie, ekimosis, epistaksis, perdarahan gusi, hematemesis,
melena.
Ø Pembesaran hati / hepatomegali
Ø Syok
2.
Laboratorium :
Ø Trombositopenia (100.000 mm³ atau kurang)
Ø Hemokonsentrasi : peningkatan
hematokrit 20 % menurut standar umur dan jenis kelamin.
Derajat DBD
|
Derajat I
|
:
|
Demam disertai uji tourniquet
positif
|
|
Derajat II
|
:
|
Derajat I disertai perdarahan
spontan
|
|
Derajat III
|
:
|
Derajat II disertai kegagalan
sirkulasi / syok (hipotensi, akral dingin, tekanan nadi < 20 mmHg)
|
|
Derajat IV
|
:
|
Derajat III disertai syok yang
berat (profound syok) : nadi tidak teraba, tekanan darah tidak terukur
|
1.4.
Patofisiologi
Virus akan masuk ke dalam tubuh
melalui gigitan nyamuk aedes aegypty dan kemudian akan bereaksi dengan antibody
dan terbentuklah kompleks virus-antibody. Dalam sirkulasi akan mengaktivasi
system komplemen. Akibat aktivasi C3 dan C5 akan dilepas C3a dan C5a,dua
peptida yang berdaya untuk melepaskan histamine dan merupakan mediator kuat
sebagai factor meningkatnya permeabilitas dinding pembuluh darah dan
menghilangkan plasma melalui endotel dinding itu.
Terjadinya trobositopenia,
menurunnya fungsi trombosit dan menurunnya faktor koagulasi (protombin dan
fibrinogen) merupakan factor penyebab terjadinya perdarahan hebat , terutama
perdarahan saluran gastrointestinal pada DHF.
Yang menentukan beratnya penyakit
adalah meningginya permeabilitas dinding pembuluh darah , menurunnya volume
plasma , terjadinya hipotensi , trombositopenia dan diathesis hemorrhagic ,
renjatan terjadi secara akut.
Nilai hematokrit meningkat bersamaan
dengan hilangnya plasma melalui endotel dinding pembuluh darah. Dan dengan
hilangnya plasma klien mengalami hipovolemik. Apabila tidak diatasi bisa
terjadi anoxia jaringan, acidosis metabolic dan kematian.
Fase-fase pada DBD :
1.
Fase Inkubasi : 9-11 hari
2.
Fase Akut : hari
ke 1-3
3.
Fase Kritis : hari 4-6
4.
Fase Penyembuhan : hari 7-10
Apabila setelah hari ke 7 masih
terjadi kenaikan suhu badan perlu dipikirkan 3 hal :
1.
Proses pirogen : karena infuse terlalu lama
2.
Proses alergi
3.
Proses infeksi
1.5.
Pemeriksaan Penunjang
1. AT
dan Hmt serial, Hb, Gol darah, CT, BT
2. Ro
thorak : adakah efusi pleura
3. USG
: kelainan vesika felea
1.6.
Komplikasi
Adapun komplikasi dari penyakit demam berdarah
diantaranya :
a. Perdarahan
luas.
b. Shock atau
renjatan.
c.
Effuse pleura
d. Penurunan
kesadaran.
1.7.
Penatalaksanaan medis
a. Tirah baring
b. Pemberian makanan lunak .
c. Pemberian cairan melalui infus.
Pemberian
cairan intra vena (biasanya ringer lactat, nacl) ringer lactate merupakan
cairan intra vena yang paling sering digunakan , mengandung Na + 130 mEq/liter
, K+ 4 mEq/liter, korekter basa 28 mEq/liter , Cl 109 mEq/liter dan Ca = 3
mEq/liter.
d. Pemberian obat-obatan: antibiotic, antipiretik,
e. Anti konvulsi
jika terjadi kejang
f. Monitor tanda-tanda vital ( T,S,N,RR).
g. Monitor adanya tanda-tanda renjatan
h. Monitor
tanda-tanda perdarahan lebih lanjut
i. Periksa HB,HT,
dan Trombosit setiap hari.
2.
Konsep Medis
2.1.
Pengkajian
a. Identitas : umur, alamat (daerah endemis ?, lingkungan rumah / sekolah
ada yang terkena DB ?)
b. Riwayat Kesehatan
1) Keluhan
utama (keluhan yang dirasakan pasien saat pengkajian) : panas, muntah,
epistaksis, perdarahan gusi
2) Riwayat
kesehatan sekarang (riwayat penyakit yang diderita pasien saat masuk rumah
sakit) : kapan mulai panas ?
3) Riwayat kesehatan yang lalu (riwayat
penyakit yang sama atau penyakit lain yang pernah diderita oleh pasien)
4) Riwayat
kesehatan keluarga (riwayat penyakit yang sama atau penyakit lain yang pernah
diderita oleh anggota keluarga yang lain baik bersifat genetik atau tidak)
5) Riwayat
tumbuh kembang : adakah keterlambatan tumbuh kembang ?
6)
Riwayat imunisasi
c. Pemeriksaan
Fisik
1)
Keadaan umum : kesadaran, vital sign, status nutrisi (berat badan, panjang
badan, usia)
2)
Pemeriksaan persistem
a)
Sistem persepsi sensori :
Ø Penglihatan : edema palpebra, air
mata ada / tidak, cekung / normal
Ø Pengecapan : rasa haus
meningkat/tidak, lidah lembab / kering
b)
Sistem persyarafan : kesadaran, menggigil, kejang, pusing
c)
Sistem pernafasan : epistaksis, dispneu, kusmaul, sianosis, cuping hidung, odem
pulmo, krakles
d) Sistem
kardiovaskuler : takikardi, nadi lemah dan cepat / tak teraba, kapilary refill
lambat, akral hangat / dingin, epistaksis, sianosis perifer, nyeri dada
e)
Sistem gastrointestinal :
Ø Mulut : membran mukosa lembab /
kering, perdarahan gusi
Ø Perut : turgor ?, kembung / meteorismus,
distensi, nyeri, asites, lingkar perut
?
Ø Informasi tentang tinja : warna
(merah, hitam), volume, bau, konsistensi,
darah, melena
f)
Sistem integumen : RL test (+) ?, petekie, ekimosis, kulit kering / lembab,
perdarahan bekas tempat injeksi ?
g)
Sistem perkemihan : bak 6 jam terakhir, oliguria / anuria
2.2.
Diagnosa Keperawatan
1) Hipertermi
berhubungan dengan peningkatan metabolic, dehidrasi, viremia
2) PK: Syok Hipovolemia
b.d dengan kebocoran plasma, perdarahan,
3) Takut
b.d prosedur pengambilan darah (cek AT dan Hmt serial), hospitalisasi.
4) Defisit self care
b.d kelemahan, sesak nafas.
5) Cemas orang tua b.d
perkembangan penyakit anaknya
2.3.
Rencana
Keperawatan
|
1.
|
Hipertermi b.d, pening-katan
metabolik, viremia
Batasan karakteristik :
-
Suhu tubuh > nor-mal
-
Kejang
-
Takikardi
-
Respirasi meningkat
-
Diraba hangat
-
Kulit memerah
|
Setelah dilakukan tindak-an perawatan selama … X 24 jam
suhu badan pasien normal, dengan
kriteria :
Termoregulasi (0800)
-
Suhu kulit normal
-
Suhu badan 35,9˚C- 37,3˚C
-
Tidak ada sakit kepa-la / pusing
-
Tidak ada nyeri otot
-
Tidak ada perubahan warna kulit
-
Nadi, respirasi dalam batas normal
-
Hidrasi adequate
-
Pasien menyatakan nyaman
-
Tidak menggigil
-
Tidak iritabel / gra-gapan / kejang
|
Pengaturan Panas (3900)
1. Monitor suhu sesuai
kebutuhan
2. Monitor tekanan darah, nadi dan respirasi
3. Monitor suhu dan
warna kulit
4. Monitor dan
laporkan tanda dan gejala hipertermi
5. Anjurkan intake
cairan dan nutrisi yang adekuat
6. Ajarkan klien
bagaimana mencegah panas yang tinggi
7. Berikan obat
antipiretik
8. Berikan obat untuk mencegah atau me-ngontrol menggigil
Pengobatan Panas (3740)
1.
Monitor suhu sesuai kebutuhan
2. Monitor IWL
3. Monitor suhu dan
warna kulit
4. Monitor tekanan
darah, nadi dan respirasi
5. Monitor derajat
penurunan kesadaran
6. Monitor kemampuan
aktivitas
7. Monitor leukosit,
hematokrit, Hb
8. Monitor intake dan
output
9. Monitor adanya
aritmia jantung
10. Dorong peningkatan intake cairan
11. Berikan cairan intravena
12. Tingkatkan sirkulasi udara dengan
kipas angin
13. Dorong atau lakukan oral hygiene
14. Berikan obat antipiretik untuk
mencegah klien menggigil / kejang
15. Berikan obat antibiotic untuk
mengobati penyebab demam
16. Berikan oksigen
17. Kompres dingin diselangkangan, dahi
dan aksila.
18. Anjurkan klien untuk tidak memakai
selimut
19. Anjurkan klien memakai baju berbahan dingin, tipis dan menyerap
keringat
Manajemen Lingkungan (6480)
1. Berikan ruangan
sendiri sesuai indikasi
2. Berikan tempat
tidur dan kain / linen yang bersih dan
nyaman
3. Batasi pengunjung
Mengontrol Infeksi (6540)
1. Anjurkan klien
untuk mencuci tangan sebelum makan
2. Gunakan sabun untuk
mencuci tangan
3. Cuci tangan sebelum
dan sesudah me-lakukan kegiatan
perawatan klien
4. Ganti tempat infuse
dan bersihkan sesuai dengan SOP
5. Berikan perawatan
kulit di area yang odem
6. Dorong klien untuk
cukup istirahat
7. Lakukan pemasangan
infus dengan teknik aseptik
8. Anjurkan klien
minum antibiotik sesuai advis dokter
|
|
2.
|
PK: Syok hipovolemia b.d kebocoran
plasma, perdarahan , dehidrasi
|
Setelah dilakukan tindak-an / penanganan selama 1 jam diharapkan klien mempunyai perfusi yang
adekuat, dengan criteria :
Kriteria hasil :
-
Amplitudo nadi perifer
meningkat
-
Pengisian kapiler singkat (< 2 detik)
-
Tekanan darah dalam rentang normal
-
CVP > atau = 5 cm H2O
-
Frekuensi jantung teratur
-
Berorientasi terhadap waktu, tempat, dan orang
-
Keluaran urin > atau = 30 ml/jam
-
Akral hangat
-
Nadi teraba
-
Membran mukosa lembab
-
Turgor kulit normal
-
Berat badan stabil dan dalam batas normal
-
Kelopak mata tidak cekung
-
Tidak demam
-
Tidak ada rasa haus yang sangat
-
Tidak ada napas pen-dek /kusmaul
|
1. Kaji dan catat status perfusi perifer. Laporkan temuan
bermakna : ekstremitas dingin dan pucat, penurunan amplitude nadi, pengisian
kapiler lambat.
2. Pantau tekanan
darah pada interval sering ; waspadai pada pembacaan lebih dari 20 mmHg di
bawah rentang normal klien atau indicator lain dari hipotensi : pusing,
perubahan mental, keluaran urin menurun.
3. Bila hipotensi
terjadi, tempatkan klien pada posisi telentang untuk meningkatkan aliran
balik vena. Ingat bahwa tekanan darah > atau = 80/60 mmHg untuk perfusi
koroner dan arteri ginjal yang adekuat.
4. Pantau CVp (bila
jalur dipasang) untuk menentukan keadekuatan aliran balik vena dan volume
darah; 5-10 cm H2O biasanya dianggap
rentang yang adekuat. Nilai mendekati 0 menunjukkan hipovolemia, khususnya
bila terkait dengan keluaran urin menurun, vasokonstriksi, dan peningkatan
frekuensi jantung yang ditemukan pada hipovolemia.
5. Observasi terhadap
indicator perfusi serebral menurun : gelisah, konfusi, penurunan tingkat
kesadaran. Bila indicator positif terjadi, lindungi klien dari cidera dengan
meninggikan pengaman tempat tidur dan menempatkan tempat tidur pada posisi
paling rendah. Reorientasikan klien sesuai indikasi.
6. Pantau terhadap
indicator perfusi arteri koroner menurun : nyeri dada, frekuensi jantung
tidak teratur.
7. Pantau hasil
laboratorium terhadap BUN (>20 mg/dl) dan kreatinin (>1,5 mg/dl)
meninggi ; laporkan peningkatan.
8. Pantau nilai
elektrolit terhadap bukti ketidak seimbangan , terutama Natrium (>147
mEq/L) dan Kalium (>5 mEq/L). Waspadai tanda hiperkalemia : kelemahan
otot, hiporefleksia, frekuensi jantung tidak teratur. Juga pantau tanda
hipernatremia, retensi cairan dan edema.
9. Berikan cairan
sesuai program untuk meningkatkan volume vaskuler. Jenis dan jumlah cairan
tergantung pada jenis syok dan situasi klinis klien : RL, Asering
10. Siapkan untuk pemindahan klien ke
ICU/PICU
(Keperawatan Medical Bedah :
Swearingen : 1996)
|
|
3.
|
Takut b.d prosedur pe-ngambilan
darah, hos-pitalisasi, pengalaman / lingkungan yang kurang bersahabat.
(00148)
Batasan karakteristik :
-
Panik
-
Teror
-
Perilaku menghindar atau menyerang
-
Impulsif
-
Nadi, respirasi, TD sistolik meningkat
-
Anoreksia
-
Mual, muntah
-
Pucat
-
Stimulus sebagai ancaman
-
Lelah
-
Otot tegang
-
Keringat meningkat
-
Gempar
-
Ketegangan me-ningkat
-
Menyatakan takut
-
Menangis
-
Protes
-
Melarikan diri
|
Setelah dilakukan tindak-an keperawatan selama … X 24 jam
rasa takut klien berkurang, dengan criteria :
Fear control (1404) :
-
Klien tidak menye-rang atau menghin-dari sumber yang menakutkan
-
Klien menggunakan teknik relaksasi
un-tuk mengurangi takut
-
Klien mampu meng-ontrol respon takut
-
Klien tidak melarika diri
-
Durasi takut menu-run
-
Klien kooperatif saat dilakukan perawatan dan pengobatan
Anxiety control (1402)
-
Tidur pasien adekuat
-
Tidak ada manifes-tasi fisik
-
Tidak ada manifes--tasi perilaku
-
Klien mau berinter-aksi sosial
|
Coping enhancement (5230)
1. Kaji respon takut
klien : data objektif dan subyektif
2. Jelaskan klien /
keluarga tentang proses penyakit
3. Terangkan klien /
keluarga tentang semua pemeriksaan dan pengobatan
4. Sampaikan sikap
empati (diam, mem-berikan sentuhan, mengijinkan menangis, berbicara dll)
5. Dorong orang tua
untuk selalu menemani anak
6. Berikan pilihan
yang realistic tentang aspek perawatan
7. Dorong klien untuk
melakukan aktifitas social dan komunitas
8. Dorong penggunaan
sumber spiritual
Anxiety Reduction (5820)
1. Jelaskan semua
prosedur termasuk pe-rasaan yang mungkin dialami selama menjalani prosedur
2. Berikan objek yang
memberikan rasa aman
3. Berbicara dengan
pelan dan tenang
4. Membina hubungan
saling percaya
5. Jaga peralatan
pengobatan di luar penglihatan pasien
6. Dengarkan klien
dengan penuh perhatian
7. Ciptakan suasana
saling percaya
8. Dorong klien
mengungkapkan perasaan, persepsi klien dan takut secara verbal
9. Berikan
aktivitas/peralatan yang meng-hibur untuk mengurangi ketegangan
10. Anjurkan klien menggunakan teknik
relaksasi
11. Anjurkan orang tua untuk membawakan
mainan kesukaan dari rumah
12. Mengusahakan untuk tidak mengulang
pengambilan darah
13. Libatkan
orang tua dalam perawatan dan pengobatan
14.
|
|
4.
|
Defisit self care berhu-bungan
dengan kelemah-an
|
NOC:
Perawatan diri :
(mandi, Makan Toiletting, berpakaian)
Setelah diberi motivasi perawatan selama ….x 24 jam, klien mengerti cara memenuhi ADL
secara bertahap sesuai kemam-puan, dengan indicator :
· Mengerti secara seder-hana cara mandi, ma-kan, toileting, dan ber-pakaian
serta mau men-coba secara aman tanpa cemas
· Klien mau berpartisipasi dengan senang hati tanpa
keluhan dalam me-menuhi ADL
|
NIC: Membantu perawatan diri klien Mandi dan toiletting
Aktifitas:
1. Tempatkan alat-alat mandi ditempat yang mudah dikenali
dan mudah dijangkau klien
2.
Libatkan klien dan dampingi
3. Berikan bantuan selama klien masih mampu mengerjakan
sendiri
NIC: ADL Berpakaian
Aktifitas:
1.
Informasikan pada Klien dalam memilih pakaian selama
perawatan
2.
Sediakan pakaian di tempat yg mudah di jangkau
3.
Bantu berpakaian yang sesuai
4.
Jaga privcy klien
5. Berikan pakaian pribadi yg digemari dan sesuai
NIC: ADL Makan
1. Anjurkan duduk dan berdo’a bersama teman
2.
Dampingi saat makan
3. Bantu jika klien belum mampu dan beri contoh
4. Beri rasa nyaman saat makan
|
|
5.
|
Cemas orang tua b.d
perkembangan penyakit anaknya
(perdarahan, lemah, rewel, sesak na-fas, gelisah)
Batasan karakteristik :
-
Orang tua sering bertanya
-
Orang tua meng-ungkapkan perasaan cemas
-
Khawatir
-
Kewaspadaan me-ningkat
-
Mudah tersinggung
-
Gelisah
-
Wajah tegang, me-merah
-
Kecenderungan me-nyalahkan orang lain
|
Setelah dilakukan tindak-an
keperawatan selama … X
pertemuan kece-masan orang tua berku-rang, dengan kriteria :
Anxiety control (1402)
-
Tidur adekuat
-
Tidak ada manifest-tasi fisik
-
Tidak ada manifest-tasi perilaku
-
Mencari informasi untuk mengurangi cemas
-
Menggunakan teknik relaksasi untuk me-ngurangi cemas
-
Berinteraksi social
Aggression Control (1401)
-
Menghindari kata yang meledak-ledak
-
Menghindari perila-ku yang merusak
-
Mampu mengontrol verbal
Coping (1302)
-
Mampu mengidenti-fikasi pola koping yang efektif dan tidak efektif
-
Mampu mengontrol verbal
-
Melaporkan stress / cemasnya berkurang
-
Mengungkapkan me-nerima keadaan
-
Mencari informasi berkaitan dengan pe-nyakit dan pengo-batan
-
Memanfaatkan du-kungan social
-
Anxiety control (1402)
-
Tidur adekuat
-
Tidak ada manifest-tasi fisik
-
Tidak ada manifest-tasi perilaku
-
Mencari informasi untuk mengurangi cemas
-
Menggunakan teknik relaksasi untuk me-ngurangi cemas
-
Berinteraksi social
Aggression Control (1401)
-
Menghindari kata yang meledak-ledak
-
Menghindari perila-ku yang merusak
-
Mampu mengontrol verbal
Coping (1302)
-
Mampu mengidenti-fikasi pola koping yang efektif dan ti-dak efektif
-
Mampu mengontrol verbal
-
Melaporkan stress / cemasnya berkurang
-
Mengungkapkan me-nerima keadaan
-
Mencari informasi berkaitan dengan pe-nyakit dan pengo-batan
-
Memanfaatkan du-kungan sosial
|
Coping enhancement (5230)
1. Kaji respon cemas
orang tua
2. Jelaskan orang tua
tentang proses penyakit anaknya
3. Jelaskan orang tua
tentang prosedur pemeriksaan, perawatan dan pengobatan
4. Beritahu dan
jelaskan setiap perkem-bangan penyakit anaknya
5. Dorong penggunaan
sumber spiritual
Anxiety Reduction (5820)
1 Jelaskan
semua prosedur termasuk pera-saan yang mungkin dialami selama men-jalani
prosedur
2 Berikan
objek yang dapat memberikan ra-sa aman
3
Berbicara dengan pelan dan tenang
4 Membina
hubungan saling percaya
5
Dengarkan dengan penuh perhatian
6 Ciptakan
suasana saling percaya
7 Dorong
orang tua mengungkapkan pera-saan, persepsi dan cemas secara verbal
8 Berikan
peralatan / aktivitas yang meng-hibur
untuk mengurangi ketegangan
9 Anjurkan
untuk menggunakan teknik re-laksasi
10 Berikan lingkungan yang tenang,
batasi pengunjung
|
2.4.
Implementasi
Implementasi di
sesuaikan dengan intervensi yang ada.
2.5.
Evaluasi
Evaluasi perkembangan
kesehatan pasien dapat dilihat dari hasilnya, tujuannya adalah untuk mengetahui
sejauh mana tujuan keperawatan dapat dicapai dan memberikan umpan balik
terhadap asuhan keperawatan yang telah diberikan.
BAB
III
PENUTUP
1.
Kesimpulan
Banyak cara
untuk menurunkan insiden terjadinya DBD. Karena vektor dari DBD adalah nyamuk
Aedes a, maka ada beberapa hal yang sebaiknya dilaksanakan untuk memutuskan
rantai penyakit:
1. Tanpa
insektisida:
a. menguras bak
mandi,tempayan,drum,dll minimal seminggu sekali.
b. menutup
penampungan air rapat- rapat.
c. membersihkan
pekarangan dari kaleng bekas,botol bekas yang memungkinkan nyamuk bersarang.
2.
dengan
insektisida:
a. malathion untuk
membunuh nyamuk dewasa: biasanya dengan fogging/pengasapan.
b. abate untuk
membunuh jentik nyamuk denan cara ditabur pada bejana- bejana tempat
penampungan air bersih dengan dosis 1 gram Abate SG 1% per 10 liter air.
2.
Saran
Penulis
berharap semoga penyusunan makalah tentang Askep DBD ini dapat memberikan ilmu dan pengetahuan
dalam bidang pendidikan dan praktik keperawatan. Dan juga dengan makalah ini
dapat menjadi acuan untuk tindakan proses keperawatan.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim.2012.asuhan
keperawatan klien dengan demam di akses pada tanggal 24 september 2013
Anonim.2012.asuhan keperawatan anak dengan dhf
diakses pada tanggal 24 september 2013
Anonim.asuhan keperawatan klien dengan demam berdarah
dengue dbd dengue hemoragik fever dhf aplikasi nanda noc nic di akses pada
tanggal 24 september 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar