BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Derajat kesehatan salah satunya
didukung dengan kaum wanita yang memperhatikan kesehatan reproduksi karena hal
tersebut berdampak pada berbagai aspek kehidupan. Salah satu masalah kesehatan
pada kaum wanita yang insidensinya terus meningkat adalah mioma uteri. Mioma
uteri menempati urutan kedua setelah kanker serviks berdasarkan jumlah angka
kejadian penyakit. Penyebab pasti mioma uteri belum diketahui secara pasti,
diduga merupakan penyakit multifaktor karena memiliki banyak faktor dan
resikonya meningkat seiiring dengan bertambahnya usia.
Penelitian Marino (2004) di Italia
melaporkan 73 kasus mioma uteri dari 341 wanita terjadi pada usia 30-60 tahun
dengan prevalensi 21,4%. Penelitian Boynton (2005) di Amerika melaporkan 7.466
kasus mioma uteri dari 827.348 wanita usia 25-42 tahun dengan prevalensi 0,9%.
Penelitian Pradhan (2006) di Nepal melaporkan 137 kasus mioma uteri dari 1.712
kasus ginekologi dengan prevalensi 8%. Penelitian Okizei O (2006) di Nigeria
(Departement of Gynecology, University of Nigeria Teaching Hospital Enugu)
melaporkan mioma uteri 190 diantara 1.938 kasus ginekologi dengan prevalensi
9.8%. Penelitian Rani Akhil Bhat (2006) di India (Departement of Obstetric and
Gynecology, Kasturba Medical College and Hospital) terdapat 150 kasus mioma
uteri, dan 77 kasus terjadi pada wanita umur 40-49 tahun dengan prevalensi 51%,
dan 45 kasus terjadi pada wanita umur lebih dari 50 tahun dengan prevalensi
30%.
Berdasarkan multifaktor tersebut,
kewaspadaan wanita terhadap resiko mioma uteri sangat dibutuhkan. Dalam hal ini
peran perawat berpengaruh dalam menjawab kebutuhan klien dengan mioma uteri.
Yaitu memberikan asuhan keperawatan yang tepat pada klien dengan mioma uteri
serta menjalankan fungsi perannya sebagai health educator.
Mioma uteri atau juga dikenal dengan
leiomioma uteri atau fibromioma uteri fibroid adalah tumor jinak rahim yang
paling sering didapatkan pada wanita. Mioma uteri merupakan tumor paling umum
pada traktus genitalis. Leiomioma berasal dari sel otot polos rahim dan pada
beberapa kasus berasal dari otot polos pembuluh darah rahim. (Derek, 2002).
Untuk menahan ovum yang telah dibuahi
selama perkembangan. Sebutir ovum, sesudat keluar dari ovarium, diantarkan
melalui tuba uterina ke uterus. Endometrium disiapkan untuk penerimaan ovum
yang telah dibuahi itu dan ovum itu sekarang tertanam di dalamnya. Sewaktu
hamil, yang secara normal berlangsung selama kira-kira 40 minggu, uterus
bertambah besar, dindingnya menjadi tipis tetapi lebih kuat dan membesar sampai
keluar pelvis masuk ke dalam rongga ebdomen pada masa pertumbuhan fetus.
Pada waktu saatnya tiba dan mulas
tanda melahirkan mulai, uterus berkontraksi secara ritmis dan mendorong bayi
dan plasenta keluar kemudian kembali ke ukuran normalnya melalui proses yang
dikenal sebagai involusi.
1.2 Rumusan masalah
Berdasarkan
latar belakang yang sudah dikemukakan diatas, adapun rumusan masalah yang
muncul pada pembuatan Asuhan
keperawatan ini ini
adalah sebagai berikut :
1. Bagaimanakah
konsep medis dan kosep
keperawatan dari penyakit mioma uteri.
1.3
Tujuan
Berdasarkan rumusan
masalah yang sudah dirumuskan diatas, adapun tujuan dari pembuatan askep ini berupa tujuan umum dan tujuan khusus yaitu
sebagi berikut:
1. Agar
mahasiswa dapat mengetahui tentang konsep medis dan konsep keperawatan pada
penyakit mioma uteri.
1.4
Manfaat
Adapun manfaat yang
ingin dicapai setelah membahas askep
ini,
diharapkan mahasiswa mampu sebagai berikut :
1.
Mengetahuikonsep medis dan
konsep keperawatan pada penyakit mioma uteri.
BAB
II
KONSEP MEDIS
2.1 Anatomi dan
Fisiologi
Uterus adalah organ yang tebal, berotot, berbentuk buah pir, terletak di
dalam pelvis, antara rektum di belakang dan kandung kencing di depan. Ototnya
disebut miometrium dan selaput lendir yang melapisi sebelah dalamnya disebut
endometrium. Letak uterus sedikit anteflexi pada bagian lehernya dan anteversi
(meliuk agak memutar ke depan) dengan fundusnya terletak di atas kandung
kencing. Panjang uterus adalah 5 sampai 8 cm dan beratnya 30 sampai 60
gram. Uterus terbagi atas 3 bagian berikut:
1. Fundus,
bagian cembung di atas muara tuba uterine
2. Badan
uterus, melebar dari fundus ke servix, sedangkan antara badan dan servix
terdapat istmus
3. Bagian bawah
yang sempit pada uterus disebut servix
Dinding rahim yang terdiri dari segi lapisan yaitu:
1. Lapisan
serosa (lapisan peritonium) di luar
2. Lapisan otot
(lapisan miometrium) di tengah
3. Lapisan
mukosa (lapisan endometrium) di dalam
Ligamentum teres uteri ada dua buah, di sebelah kiri
dan di sebelah kanan sebuah. Terdiri atas jaringan ikat dan otot, berisi
pembuluh darah dan ditutupi peritonum. Ligamen ini berjalan dari sudut atas
uterus ke depan dan ke samping, melalui anulus inguinalis profundus ke kanalis
inguinalis. Setiap ligamen panjangnya 10 sampai 12,5 cm.
Fungsi Uterus
Untuk menahan ovum yang telah
dibuahi selama perkembangan. Sebutir ovum, sesudat keluar dari ovarium,
diantarkan melalui tuba uterina ke uterus. Endometrium disiapkan untuk
penerimaan ovum yang telah dibuahi itu dan ovum itu sekarang tertanam di
dalamnya. Sewaktu hamil, yang secara normal berlangsung selama kira-kira 40
minggu, uterus bertambah besar, dindingnya menjadi tipis tetapi lebih kuat dan
membesar sampai keluar pelvis masuk ke dalam rongga ebdomen pada masa
pertumbuhan fetus.
Pada waktu saatnya tiba dan mulas
tanda melahirkan mulai, uterus berkontraksi secara ritmis dan mendorong bayi
dan plasenta keluar kemudian kembali ke ukuran normalnya melalui proses yang
dikenal sebagai involusi.
2.2 Definisi
Mioma uteri
adalah neoplasma jinak yang berasal dari otot uterus dan jaringan ikat yang
menumnpang, sehingga dalam kepustakaan dikenal dengan istilah Fibromioma,
leiomioma, atau fibroid (Mansjoer, 2007).
Mioma Uteri
adalah suatu tumor jinak, berbatas tegas, tidak berkapsul, yang berasal dari
otot polos dan jaringan ikat fibrous. Biasa juga disebut fibromioma uteri,
leiomioma uteri atau uterine fibroid. Tumor jinak ini merupakan neoplasma jinak
yang paling sering ditemukan pada traktus genitalia wanita,terutama wanita usai
produktif. Walaupun tidak sering, disfungsi reproduksi yang dikaitkan dengan
mioma mencakup infertilitas, abortus spontan, persalinan prematur, dan
malpresentasi (Crum, 2003).
2.3 Klasifikasi
Mioma umumnya digolongkan berdasarkan lokasi dan ke arah
mana mereka tumbuh. Klasifikasinya
sebagai berikut :
1.
Mioma
intramural : merupakan mioma yang paling banyak ditemukan. Sebagian besar tumbuh di antara lapisan uterus yang
paling tebal dan paling tengah, yaitu miometrium.
2. Mioma subserosa : merupakan mioma yang tumbuh keluar dari
lapisan uterus yang paling luar, yaitu serosa dan tumbuh ke arah rongga
peritonium. Jenis mioma ini bertangkai (pedunculated) atau memiliki dasar
lebar. Apabila terlepas dari induknya dan
berjalan-jalan atau dapat menempel dalam rongga peritoneum disebut wandering/parasitic
fibroid
Ditemukan kedua terbanyak.
3. Mioma submukosa : merupakan mioma yang tumbuh dari
dinding uterus paling dalam sehingga menonjol ke dalam uterus. Jenis ini juga
dapat bertangkai atau berdasarkan lebar. Dapat tumbuh bertangkai menjadi polip,
kemudian dilahirkan melalui saluran serviks, yang disebut mioma geburt (Chelmow, 2005)
2.4 Etiologi
1. Peningkatan
reseptor estrogen-progesteron pada jaringan mioma uteri mempengarui
pertumbuhan tumor
2. Faktor
predisposisi yang bersifat herediter, telah diidentifikasi kromosom yang
membawa 145 gen yang diperkirakan berpengaruh pada pertumbuhan fibroid.
Sebagian ahli mengatakan bahwa fibroid uteri diwariskan dari gen sisi paternal.
```
3. Mioma biasanya
membesar pada saat kehamilan dan mengecil setelah menopause jarang ditemukan
sebelum menarke (Crum, 2005).
Faktor
Risiko terjadinya mioma uteri yaitu:
1. Usia
penderita
Mioma uteri ditemukan sekitar 20% pada
wanita usia reproduksi dan sekitar 40%-50% pada wanita usia di atas 40 tahun
(Suhatno, 2007). Mioma uteri jarang ditemukan sebelum menarke (sebelum
mendapatkan haid). Sedangkan pada wanita menopause mioma uteri ditemukan
sebesar 10% (Joedosaputro, 2005).
2. Hormon
endogen (Endogenous Hormonal)
Konsentrasi estrogen pada jaringan mioma
uteri lebih tinggi daripada jaringan miometrium normal. (Djuwantono, 2005)
3. Riwayat
Keluarga
Wanita dengan garis keturunan tingkat
pertama dengan penderita mioma uteri mempunyai 2,5 kali kemungkinan untuk
menderita mioma dibandingkan dengan wanita tanpa garis keturunan penderita
mioma uteri. (Parker, 2007)
4.
Indeks Massa Tubuh (IMT)
Obesitas juga berperan dalam terjadinya
mioma uteri. (Parker, 2007)
5.
Makanan
Dilaporkan bahwa daging sapi, daging
setengah matang (red meat), dan daging babi menigkatkan insiden mioma
uteri, namun sayuran hijau menurunkan insiden mioma uteri (Parker, 2007).
6.
Kehamilan
Kehamilan dapat mempengaruhi mioma uteri
karena tingginya kadar esterogen dalam kehamilan dan bertambahnya vaskularisasi
ke uterus. Hal ini mempercepat pembesaran mioma uteri (Manuaba, 2003).
7.
Paritas
Mioma uteri lebih banyak terjadi pada wanita dengan
multipara dibandingkan dengan wanita yang mempunyai riwayat frekuensi
melahirkan 1 (satu) atau 2 (dua) kali (Khashaeva, 1992).
2.5 Patofisiologi
Ammature muscle cell nest
dalam miometrium akan berproliferasi hal tersebut diakibatkan oleh rangsangan
hormon estrogen. ukuran myoma sangat bervariasi. sangat sering ditemukan pada
bagian body uterus (corporeal) tapi dapat juga terjadi pada servik. Tumot subcutan
dapat tumbuh diatas pembuluh darah endometrium dan menyebabkan perdarahan. Bila
tumbuh dengan sangat besar tumor ini dapat menyebabkan penghambat terhadap
uterus dan menyebabkan perubahan rongga uterus. Pada beberapa keadaan tumor
subcutan berkembang menjadi bertangkai dan menonjol melalui vagina atau cervik
yang dapat menyebabkan terjadi infeksi atau ulserasi. Tumor fibroid sangat
jarang bersifat ganas, infertile mungkin terjadi akibat dari myoma yang
mengobstruksi atau menyebabkan kelainan bentuk uterus atau tuba falofii. Myoma
pada badan uterus dapat menyebabkan aborsi secara spontan, dan hal ini
menyebabkan kecilnya pembukaan cervik yang membuat bayi lahir sulit.
2.6 Menifestasi klinis
Gejala yang
timbul sangat tergantung pada tempat mioma, besarnya tumor, perubahan dan
komplikasi yang terjadi. Gejala yang mungkin timbul diantaranya:
1. Perdarahan
abnormal, berupa hipermenore, menoragia dan metroragia. Faktor-faktor yang
menyebabkan perdarahan antara lain:
1. Terjadinya
hiperplasia endometrium sampai adenokarsinoma endometrium karena pengaruh
ovarium
2. Permukaan
endometrium yang lebih luas daripada biasanya
3. Atrofi
endometrium di atas mioma submukosum
4. Miometrium
tidak dapat berkontraksi optimal karena adanya mioma di antara serabut
miometrium
2. Rasa nyeri yang
mungkin timbul karena gangguan sirkulasi darah pada sarang mioma, yang disertai
nekrosis setempat dan peradangan. Nyeri terutama saat menstruasi
3. Pembesaran
perut bagian bawah
4. Uterus membesar
merata
5. Infertilitas
6. Perdarahan
setelah bersenggama
7. Dismenore
8. Abortus
berulang
9. Poliuri,
retention urine, konstipasi serta edema tungkai dan nyeri panggul. (Chelmow, 2005)
2.7 Pemeriksaan
penunjang
Diagnosis
mioma uteri dapat ditegakkan dari:
1. Anamnesis
Dari anamnesis dapat
ditemukan antara lain :
A.
Timbul benjolan diperut
bagian bawah dalam waktu relatif lama.
B.
Kadang-kadang disertai gangguan haid
C.
Nyeri perut bila
terinfeksi, terpuntir mioma bertangkai, atau pecah.
2. Pemeriksaan
fisik
Pemeriksaan fisik dapat
dilakukan dengan cara sebagai berikut :
A.
Pemeriksaan abdomen
1. Uterus
yang membesar dapat dipalpasi pada abdomen
2. Teraba
benjolan tidak teratur, tetap dan lunak
3. Ada
nyeri lepas yang disebabkan oleh perdarahan intraperitoneal
B.
Pemeriksaan pelvis
1. Adanya dilatasi
serviks
2. Uterus
cenderung membesar, tidak beraturan dan berbentuk nodul
3. Pemeriksaan
penunjang
Pemeriksaan penunjang
yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis mioma uteri , sebagai berikut :
A)
Ultra Sonografi (USG),
untuk menentukan jenis tumor, lokasi mioma, ketebalan endometrium dan keadaan
adneksa dalam rongga pelvis. Mioma juga dapat dideteksi dengan Computerized
Tomografi Scanning (CT scan) ataupun Magnetic Resonance
Image ( MRI), tetapi kedua pemeriksaan itu lebih mahal.
B)
Foto Bulk Nier
Oversidth (BNO), Intra Vena Pielografi (IVP)
pemeriksaaan ini penting untuk menilai massa di rongga pelvis serta menilai
fungsi ginjal dan perjalanan ureter.
C)
Histerografi dan
histerokopi untuk menilai pasien mioma submukosa disertai dengan infertilitas.
D)
Laparoskopi untuk
mengevaluasi massa pada pelvis.
E)
Laboratorium: hitung
darah lengkap dan apusan darah, untuk menilai kadar hemoglobin dan hematokrit
serta jumlah leukosit.
F)
Tes kehamilan adalah
untuk tes hormon Chorionic gonadotropin, karena bisa membantu
dalam mengevaluasi suatu pembesaran uterus, apakah oleh karena kehamilan atau
oleh karena adanya suatu mioma uteri yang dapat menyebabkan pembesaran uterus
menyerupai kehamilan.
|
Mioma Uteri
|
.
2.8 Komplikasi
1.
Pertumbuhan
Leiomiosarkoma
Yaitu tumor yang tumbuh dari miometrium, dan merupakan
50 – 70 % dari semua sarkoma uteri. Ini timbul apabila suatu mioma uteri yang
selama beberapa tahun tidak membesar, sekonyong-konyong menjadi besar, apalagi
jika hal itu terjadi sesudah menopause.
2.
Torsi
(putaran tangkai)
Ada kalanya tungkai pada mioma uteri subserosum
mengalami putaran. Kalau proses ini terjadi mendadak, tumor akan mengalami
gangguan sirkulasi akut dengan nekrosis jaringan, dan akan nampak gambaran
klinik dari abdomen akut.
3.
Nekrosis dan
Infeksi
Pada mioma submukosum, yang menjadi polip, ujung tumor
kadang-kadang dapat melalui kanalis servikalis dan dilahirkan di vagina. Dalam
hal ini ada ada kemungkinan gangguan sirkulasi dengan akibat nekrosis dan
infeksi sekunder. (Prawiroharjo, 1996)
2.9 Penatalaksanaan
1.
“ Penanganan mioma menurut usia, paritas, lokasi dan
ukuran tumor “
Penanganan mioma uteri tergantung pada usia, paritas, lokasi dan ukuran tumor, dan terbagi atas :
Penanganan mioma uteri tergantung pada usia, paritas, lokasi dan ukuran tumor, dan terbagi atas :
A. Penanganan
konservatif
Cara
penanganan konservatif dapat dilakukan sebagai berikut :
1) Observasi
dengan pemeriksaan pelvis secara periodik setiap 3-6 bulan.
2) Monitor keadaan Hb
3) Pemberian
zat besi
4) Penggunaan
agonis GnRH untuk mengurangi ukuran mioma
B. Penanganan
operatif
Intervensi
operasi atau pembedahan pada penderita mioma uteri adalah :
1) Perdarahan
uterus abnormal yang menyebabkan penderita anemia
2) Nyeri
pelvis yang hebat
3) Ketidakmampuan
untuk mengevaluasi adneksa (biasanya karena mioma berukuran kehamilan 12 minggu
atau sebesar tinju dewasa)
4) Gangguan buang air kecil (retensi urin)
5) Pertumbuhan mioma setelah menopause
6) Infertilitas
7) Meningkatnya
pertumbuhan mioma (Moore, 2001).
Jenis
operasi yang dilakukan pada mioma uteri dapat berupa :
A)
Miomektomi
Miomektomi adalah
pengambilan sarang mioma tanpa pengangkatan rahim/uterus (Rayburn, 2001). Miomektomi
lebih sering di lakukan pada penderita mioma uteri secara umum. Penatalaksanaan
ini paling disarankan kepada wanita yang belum memiliki keturunan setelah
penyebab lain disingkirkan (Chelmow, 2005).
B)
Histerektomi
Histerektomi adalah
tindakan operatif yang dilakukan untuk mengangkat rahim, baik sebagian
(subtotal) tanpa serviks uteri ataupun seluruhnya (total) berikut serviks uteri
(Prawirohardjo, 2001). Histerektomi dapat dilakukan bila pasien tidak
menginginkan anak lagi, dan pada penderita yang memiliki mioma yang simptomatik
atau yang sudah bergejala. Ada dua cara histerektomi, yaitu :
1. Histerektomi
abdominal, dilakukan bila tumor besar terutama mioma intraligamenter, torsi dan
akan dilakukan ooforektomi
2. Histerektomi
vaginal, dilakukan bila tumor kecil (ukuran < uterus gravid 12 minggu) atau
disertai dengan kelainan di vagina misalnya rektokel, sistokel atau enterokel
(Callahan, 2005).
Kriteria menurut American College of
Obstetricians Gynecologists (ACOG) untuk histerektomi adalah sebagai
berikut:
1)
Terdapatnya 1 sampai 3
mioma asimptomatik atau yang dapat teraba dari luar dan dikeluhkan oleh pasien.
2)
Perdarahan uterus
berlebihan, meliputi perdarahan yang banyak dan bergumpal-gumpal atau
berulang-ulang selama lebih dari 8 hari dan anemia akibat kehilangan darah akut
atau kronis.
3)
Rasa tidak nyaman di
pelvis akibat mioma uteri meliputi nyeri hebat dan akut, rasa tertekan punggung
bawah atau perut bagian bawah yang kronis dan penekanan pada vesika urinaria
mengakibatkan frekuensi miksi yang sering (Chelmow, 2005).
2.
” Penatalaksanaan
mioma uteri pada wanita hamil ”
Selama kehamilan, terapi awal yang memadai
adalah tirah baring, analgesia dan observasi terhadap mioma. Penatalaksanaan
konservatif selalu lebih disukai apabila janin imatur. Seksio sesarea merupakan
indikasi untuk kelahiran apabila mioma uteri menimbulkan kelainan letak janin,
inersia uteri atau obstruksi mekanik.
2.10 Pencegahan
Karena pencegahan lebih baik dari pada mengobati dan adapun cara
pencegahan yang dapat dilakukan antaranya sebagai berikut :
1. Menerapkan pola hidup sehat
2. Pola makan dan pola hidup yang baik
3. Lakukan chek-up medis minimal setahun
sekali untuk ibu-ibu atau wanita yang sudah berhubungan seks. Dengan
pemeriksaan teratur, gejala awal bisa terdeteksi lebih dini.
4. Pada
waktu melakukan pap smear, sebaiknya sekalian di lakukan pemeriksaan
ultrasonografi ( USG) untuk melihat rahim dan indung telur. ” Kalau tidak ada
fasilitas USG, bisa di lakukan pemeriksaan dalam. Dilihat rahimnya bagaimana,
besarnya normal apa enggak, bentuknya konsisten apa engga, indung telur kanan
kiri bagaimana, dan sebagainya. kalau teraba ada massa, harus hati-hati.
BAB
III
KONSEP
KEPERAWATAN
3.1
Pengkajian
Identitas Pasien : nama,umur,jenis kelamin,pendidikan,pekerjaan
Riwayat kesehatan :
A) Keluhan
utama
Klien
biasanya merasakan nyeri panggul kronik. Nyeri bisa terjadi saat menstruasi,
setelah berhbungan seksual, atau ketika terjadi penekanan pada panggul.
Nyeriterjadi karena terpuntirnya mioma yang bertangkai, pelebaran leher rahim
akibat desakan mioma atau degenerasi (kematian sel) dari mioma. pasien biasanya
mengalami perdarahan akibat penekanan pembuluh darah pada area uterus.
Keluhan lain yang dirasakan pasien dapat berupa lemah, lelah dan lesu akibat
perdarahan yang dialami pasien.
B) Riwayat
Kesehatan Dahulu
Menanyakan
adanya riwayat infeksi saluran kemih, infeksi organ lain, riwayat kencing
batu/obstruksi, riwayat konsumsi obat-obatan, jamu, riwayat trauma ginjal,
riwayat penyakit endokrin, riwayat penyakit kardiovaskuler, riwayat darah
tinggi, riwayat kehamilan, riwayat dehidrasi, riwayat trauma.
C)
Riwayat Kesehatan Keluarga
Menanyakan
riwayat polikistik, diabetes, hipertensi, riwayat penyakit ginjal yang lain.
Cantumkan genogram min. tiga generasi.
Pengkajian
pola
1. Pola Eliminasi dan Pertukaran
Gejala
: Perubahan pola BAK, Disuria, adanya penekanan pada uretra, Perubahan pada saat
defikasi, Dispnea
Tanda
: Perubahan
warna urine. Bising usus
Masalah
keperawatan:
·
Gangguan
elminasi urine (00016)
Domain
: 3 (Eliminasi pertukaran)
Kelas
: 1 (Fungsi Urinarius)
·
Konstipasi ( 00011 )
Domain
:
3 (Eliminasi dan Pertukaran)
Kelas
:
4 (Fungsi Gastrointestinal)
2. Pola kenyamanan
Gejala : Nyeri
panggul,
sakit kepala
Tanda : Perilaku
berhati-hati/distraksi, gelisah , wajah meringis , terfokus pada diri sendiri
Masalah keperawatan:
·
Nyeri
Akut (00132)
Domain
12: kenyamanan
Kelas
1 :
kenyamanan fisik
3.
Pola
Koping/Toleransi Stres
Gejala : Cemas
dan takut karena adanyan
hyperplasia pada usus dan perawatan yang lama.
Tanda
: berkeringat , tegang , terlihat takut
Masalah
keperawatan:
·
Ansietas
(00146)
Domain
9 : Koping/Toleransi Stres
Kelas
2 : Respons Koping
4. Pola aktifitas/lstirahat
Gejala
: kelemahan/malaise, Dispnea
Tanda : kelemahan, pasien sering terjaga pada malam hari. Klien sering
merasa sesak napas
Masalah
keperawatan:
·
Intoleransi
aktifitas(00092)
Domain
4 : aktivitas/istirahat
Kelas 1 :
Tidur/Istirahat
·
Ketidakefektifan pola napas (00032)
Domain 4 : aktivitas/istirahat
Kelas 4 : Respon kardiovaskuler/Pulmunal
3.2 Diagnosa
keperawatan
1) Nyeri akut (00132)
berhubungan dengan Pertumbuhan cepat mioma uteri. Ditandai dengan adanya rasa
nyeri pada bagian panggul
2) Gangguan eliminasi urine (00016)
berhubungan dengan adanya penekanan pada kadung kemih ( Uretra ) ditandai dengan adanya rasa nyeri pada saat berkemih
( Disuria )
3) Konstipasi
(00011) nerhubungan dengan adanya penekanan pada rectum.
4) Ketidakefektifan pola napas (00032) berhubungan
dengan adanya penekanan pada diagfragma paru
5) Ansietas (00146) berhubungan dengan perubahan status kesehatan ditandai dengan pasien mengatakan cemas
karena keadaan yang di alami. Pasien terlihat gelisah, wajah pasien terlihat
tegang dan takut serta tentang biaya yang akan dibayar.
6) Gangguan
pola tidur (00198) berhubungan dengan adanuya penekanan pada urat saraf oleh
mioma uteri. Ditandai dengan pasien sering terjaga pada malam hari.
7) Disfungsi seksual ( 00059 ) berhubungan dengan
penurunan libido ditandai dengan penurunan
hormone testoteron
3.3
Rencana intervensi
|
No.
|
Diagnosa Keperawatan
|
Tujuan dan Kriteria Hasi
|
Intervensi
|
Rasional
|
|
1
|
Nyeri akut ( 00132 )
Defenisi :
Pengalam
sensori dan emosional yang kurang menyenangkan yang muncul akibat kerusakan
jaringan.
Faktor yang berhubungan :
Pertumbuhan
cepat mioma uteri
Ditandai dengan batasan
karakteristik :
DS :
-
Klien mengeluh
adanya rasa nyeri pada dareah abdomen bagian bawah dan pinggang.
DO :
-
Ekspresi
wajah tampak meringis.
|
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan nyeri klien dapat
berkurang dibuktikan dengan kriteria
hasil :
- Skala nyeri ( 0-3 )
- Ekspresi wajah Nampak tenang
|
Pengkajian :
1. Kaji skala nyeri klien.
Tindakan Mandiri :
2. Ajarkan dan anjurkan teknik
relaksasi dan distrraksi.
Health Education :
3.
Ajarkan klien atau keluarga untuk melakukan kompres dingin untuk memblok
rasa nyeri.
Kolaboratif :
4. Berikan analgesic sesuai dengan
indikasi
|
1. Untuk mengetahui skala nyeri
klien.
2. Untuk mengurangi rasa nyeri yang
dirasakan klien
3. Agar nyeri yang dirasakn klien
dapat berkurang.
4. Agar masalah nyeri klien dapat
teratasi
|
|
2
|
Gangguan eliminasi urine (00016)
Defenisi :
Disfungsi
pada eliminasi urine
Faktor yang berhubungan :
Penyakit
Ditandai dengan batasan
karakteristik:
DS :
-
Klien
mengeluh kencing berwarna seperti cucian daging
DO :
-
Bising
usus meningkat
-
Klien
merasa kesakitan saat BAK dan BAB.
|
Setelah
dilakukan tindakan keperrawatan selama 3x24 jam diharapkan klien dapat
memperlihatkan eliminasi urine yang baik dibuktikan dengan :
-
Warna urine pasien kembali normal
,
-
Klien
tidak merasa kesakitan saat BAK dan BAB
|
Pengkajian :
1. Pantau
eliminasi urine (frekuensi , bau , volume , warna )
Tindakan Mandiri :
2. Anjurkan
kepada pasien untk banyak mengkonsusmsi air putih
Health Education :
3. Instruksikan
kepada pasien dan keluarga untuk mencatat haluaran urine.
4. Instruksikan
pasien untuk berespon segera terhadap kebutuhan eliminasi
Kolaboratif :
5. Kolaborasi
dengan dokter jika terdapat tanda dan gejala infeksi pada saluran kemih
6. Kolaborasi
dalam pemberian cairan intravena
|
1. Untuk
mengetahui bau , warna , frekuensi dan
volume urine pasien.
2. Untuk
menetralkan warna urine pasien.
3. Agar
pasien dan keluarga juga dapat mengetahui perkembangan eliminasi urine dari
pasien
4. Agar
mempertahankan pola eliminasi urine yang optimum
5. Untuk
mencegah terjadi infeksi saluran kemih lebih dini.
6. Untuk
mengembalikan kenormalan warna urine.
|
|
3
|
Ketidakefektifan
pola napas (00032)
Definisi
:
inspirasi dan/atau ekspirasi yang tidak memberi ventilasi
adekuat.
Faktor yang berhubungan :
Adanya penekanan pada diagfragma
paru
DS :
-
Klien
mengeluh seringkali merasa sesak napas
DO :
- Dispnea
|
Setelah dilakukan
tindakan asuhan keperawatan selama 3x24 jam, pasien akan mempunyai kecepatan
dan irama pernapasan dalam batas normal
Dibuktikan dengan criteria hasil:
-
Klien tidak lagi sesak napas
|
Pengkajian :
1.
Kaji
frekwensi, dan iramja pernapasan klien
Tindakan Mandiri :
2.
Ajarkan
klien tehnik relaksasi napas dalam
Health Education :
3.
Anjurkan
klien untuk rutin berolahraga pada pagi hari.
Kolaboratif :
4.
Kolaborasi dengan dokter jika masalah tidak teratasi
|
1.
Untuk mengetahui frekwensi dan irama pernapasan pada
klien
2.
Agar klien merasa rileks dan dapat mengontrol
pernapasannya.
3.
Agar klien dapat menghirup udara yang segar
4.
Agar klien dapat diberikan tindakan medis lanjutan.
|
3.4 Implamentasi
Implamentasi disesuaikan dengan intervensi yang ada
3.5 Evaluasi
Semua masalah dapat teratasi J
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Mioma
uteri atau juga dikenal dengan leiomioma uteri atau fibromioma uteri fibroid
adalah tumor jinak rahim yang paling sering didapatkan pada wanita. Pengecilan
tumor sementara menggunakan obat- obatan GnRH analog dapat dilakukan, akan
tetapi pada wanita dengan hormon yang masih cukup (premenopause), mioma ini
dapat membesar kembali setelah obat-obatan ini dihentikan.
4.2 Saran
Semoga
dengan adanya makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak, dan dapat menjadi
pedoman serta pembelajaran umumnya para mahasiswa keperawatan agar dapat
mnengerti tentang poenyakit mioma uteri dan dapat memberikan tindakan asuhan
keperawatan kepada pasien dengan gangguan sistem reproduksi mioma uteri.
DAFTAR
PUSTAKA
NANDA 2012-2014. Diagnosis keperawatan Definisi dan Klasifikasi. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Judithy M. Wilkinson. Nancy R. Ahern (2011). Buku saku keperawatan. Diagnosa NANDA,
Intervensi NIC. Kriteria hasil NOC. Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Jakarta.
Doenges
marilynn (2000), Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta
Pearce,
Evelyn C. 2000. Anatomi dan Fisiolog untuk Paramedis Edisi Barui.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Derek
LJ, 2011. Dasar obstetri dan Genekologi. Edisi Ke – 6.Jakarta:
Hipokkrater
Prawirohardjo,
sarwono. 2002. Edisi Ke-3. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.
Wiknjosastro.
2007. Ilmu Kebidanan . Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo.
Jakarta.
Sastrawinata,
S. 2005. Obstetri Patologi Ilmu Kesehatan Reproduksi. Jakarta: EGC
Tidak ada komentar:
Posting Komentar