Minggu, 13 Agustus 2017

Mioma Uteri Penyakit Sistem Reproduksi



BAB I
PENDAHULUAN
1.1      Latar belakang
Derajat kesehatan salah satunya didukung dengan kaum wanita yang memperhatikan kesehatan reproduksi karena hal tersebut berdampak pada berbagai aspek kehidupan. Salah satu masalah kesehatan pada kaum wanita yang insidensinya terus meningkat adalah mioma uteri. Mioma uteri menempati urutan kedua setelah kanker serviks berdasarkan jumlah angka kejadian penyakit. Penyebab pasti mioma uteri belum diketahui secara pasti, diduga merupakan penyakit multifaktor karena memiliki banyak faktor dan resikonya meningkat seiiring dengan bertambahnya usia.
Penelitian Marino (2004) di Italia melaporkan 73 kasus mioma uteri dari 341 wanita terjadi pada usia 30-60 tahun dengan prevalensi 21,4%. Penelitian Boynton (2005) di Amerika melaporkan 7.466 kasus mioma uteri dari 827.348 wanita usia 25-42 tahun dengan prevalensi 0,9%. Penelitian Pradhan (2006) di Nepal melaporkan 137 kasus mioma uteri dari 1.712 kasus ginekologi dengan prevalensi 8%. Penelitian Okizei O (2006) di Nigeria (Departement of Gynecology, University of Nigeria Teaching Hospital Enugu) melaporkan mioma uteri 190 diantara 1.938 kasus ginekologi dengan prevalensi 9.8%. Penelitian Rani Akhil Bhat (2006) di India (Departement of Obstetric and Gynecology, Kasturba Medical College and Hospital) terdapat 150 kasus mioma uteri, dan 77 kasus terjadi pada wanita umur 40-49 tahun dengan prevalensi 51%, dan 45 kasus terjadi pada wanita umur lebih dari 50 tahun dengan prevalensi 30%.
Berdasarkan multifaktor tersebut, kewaspadaan wanita terhadap resiko mioma uteri sangat dibutuhkan. Dalam hal ini peran perawat berpengaruh dalam menjawab kebutuhan klien dengan mioma uteri. Yaitu memberikan asuhan keperawatan yang tepat pada klien dengan mioma uteri serta menjalankan fungsi perannya sebagai health educator.
Mioma uteri atau juga dikenal dengan leiomioma uteri atau fibromioma uteri fibroid adalah tumor jinak rahim yang paling sering didapatkan pada wanita. Mioma uteri merupakan tumor paling umum pada traktus genitalis. Leiomioma berasal dari sel otot polos rahim dan pada beberapa kasus berasal dari otot polos pembuluh darah rahim. (Derek, 2002).
Untuk menahan ovum yang telah dibuahi selama perkembangan. Sebutir ovum, sesudat keluar dari ovarium, diantarkan melalui tuba uterina ke uterus. Endometrium disiapkan untuk penerimaan ovum yang telah dibuahi itu dan ovum itu sekarang tertanam di dalamnya. Sewaktu hamil, yang secara normal berlangsung selama kira-kira 40 minggu, uterus bertambah besar, dindingnya menjadi tipis tetapi lebih kuat dan membesar sampai keluar pelvis masuk ke dalam rongga ebdomen pada masa pertumbuhan fetus.
Pada waktu saatnya tiba dan mulas tanda melahirkan mulai, uterus berkontraksi secara ritmis dan mendorong bayi dan plasenta keluar kemudian kembali ke ukuran normalnya melalui proses yang dikenal sebagai involusi.
1.2      Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang yang sudah dikemukakan diatas, adapun rumusan masalah yang muncul pada pembuatan Asuhan keperawatan ini  ini adalah sebagai berikut :
1.    Bagaimanakah konsep medis dan kosep keperawatan dari penyakit mioma uteri.

1.3      Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah yang sudah dirumuskan diatas, adapun tujuan dari pembuatan askep ini berupa tujuan umum dan tujuan khusus yaitu sebagi berikut:
1.    Agar mahasiswa dapat mengetahui tentang konsep medis dan konsep keperawatan pada penyakit mioma uteri.
1.4      Manfaat
Adapun manfaat yang ingin dicapai setelah membahas askep ini, diharapkan mahasiswa mampu sebagai berikut :
1.            Mengetahuikonsep medis dan konsep keperawatan pada penyakit mioma uteri.



BAB II
KONSEP MEDIS
2.1      Anatomi dan Fisiologi
Uterus adalah organ yang tebal, berotot, berbentuk buah pir, terletak di dalam pelvis, antara rektum di belakang dan kandung kencing di depan. Ototnya disebut miometrium dan selaput lendir yang melapisi sebelah dalamnya disebut endometrium. Letak uterus sedikit anteflexi pada bagian lehernya dan anteversi (meliuk agak memutar ke depan) dengan fundusnya terletak di atas kandung kencing. Panjang uterus adalah 5 sampai 8 cm dan beratnya 30 sampai 60 gram. Uterus terbagi atas 3 bagian berikut:




     Gambar 1. Anatomi Uterus ( Sumber www.Geogle.com )
1.    Fundus, bagian  cembung di atas muara tuba uterine
2.    Badan uterus, melebar dari fundus ke servix, sedangkan antara badan dan servix terdapat istmus
3.    Bagian bawah yang sempit pada uterus disebut servix
Dinding rahim yang terdiri dari segi lapisan yaitu:
1.    Lapisan serosa (lapisan peritonium) di luar
2.    Lapisan otot (lapisan miometrium) di tengah
3.    Lapisan mukosa (lapisan endometrium) di dalam
Ligamentum teres uteri ada dua buah, di sebelah kiri dan di sebelah kanan sebuah. Terdiri atas jaringan ikat dan otot, berisi pembuluh darah dan ditutupi peritonum. Ligamen ini berjalan dari sudut atas uterus ke depan dan ke samping, melalui anulus inguinalis profundus ke kanalis inguinalis. Setiap ligamen panjangnya 10 sampai 12,5 cm.
Fungsi Uterus
Untuk menahan ovum yang telah dibuahi selama perkembangan. Sebutir ovum, sesudat keluar dari ovarium, diantarkan melalui tuba uterina ke uterus. Endometrium disiapkan untuk penerimaan ovum yang telah dibuahi itu dan ovum itu sekarang tertanam di dalamnya. Sewaktu hamil, yang secara normal berlangsung selama kira-kira 40 minggu, uterus bertambah besar, dindingnya menjadi tipis tetapi lebih kuat dan membesar sampai keluar pelvis masuk ke dalam rongga ebdomen pada masa pertumbuhan fetus.
Pada waktu saatnya tiba dan mulas tanda melahirkan mulai, uterus berkontraksi secara ritmis dan mendorong bayi dan plasenta keluar kemudian kembali ke ukuran normalnya melalui proses yang dikenal sebagai involusi.
2.2      Definisi
Mioma uteri adalah neoplasma jinak yang berasal dari otot uterus dan jaringan ikat yang menumnpang, sehingga dalam kepustakaan  dikenal dengan istilah Fibromioma, leiomioma, atau fibroid (Mansjoer, 2007).
Mioma Uteri adalah suatu tumor jinak, berbatas tegas, tidak berkapsul, yang berasal dari otot polos dan jaringan ikat fibrous. Biasa juga disebut fibromioma uteri, leiomioma uteri atau uterine fibroid. Tumor jinak ini merupakan neoplasma jinak yang paling sering ditemukan pada traktus genitalia wanita,terutama wanita usai produktif. Walaupun tidak sering, disfungsi reproduksi yang dikaitkan dengan mioma mencakup infertilitas, abortus spontan, persalinan prematur, dan malpresentasi (Crum, 2003).
2.3      Klasifikasi
Mioma umumnya digolongkan berdasarkan lokasi dan ke arah mana mereka tumbuh. Klasifikasinya sebagai berikut :
1.    Mioma intramural : merupakan mioma yang paling banyak ditemukan. Sebagian besar tumbuh di antara lapisan uterus yang paling tebal dan paling tengah, yaitu miometrium.
2.    Mioma subserosa : merupakan mioma yang tumbuh keluar dari lapisan uterus yang paling luar, yaitu serosa dan tumbuh ke arah rongga peritonium. Jenis mioma ini bertangkai (pedunculated) atau memiliki dasar lebar. Apabila terlepas dari induknya dan berjalan-jalan atau dapat menempel dalam rongga peritoneum disebut wandering/parasitic fibroid  Ditemukan kedua terbanyak.
3.    Mioma submukosa : merupakan mioma yang tumbuh dari dinding uterus paling dalam sehingga menonjol ke dalam uterus. Jenis ini juga dapat bertangkai atau berdasarkan lebar. Dapat tumbuh bertangkai menjadi polip, kemudian dilahirkan melalui saluran serviks, yang disebut mioma geburt (Chelmow, 2005)

2.4      Etiologi
1.    Peningkatan reseptor estrogen-progesteron pada jaringan mioma uteri  mempengarui pertumbuhan tumor
2.    Faktor predisposisi yang bersifat herediter, telah diidentifikasi kromosom yang membawa 145 gen yang diperkirakan berpengaruh pada pertumbuhan fibroid. Sebagian ahli mengatakan bahwa fibroid uteri diwariskan dari gen sisi paternal. ```
3.    Mioma biasanya membesar pada saat kehamilan dan mengecil setelah menopause jarang ditemukan sebelum menarke (Crum, 2005).
Faktor Risiko terjadinya mioma uteri yaitu:
1.      Usia penderita
Mioma uteri ditemukan sekitar 20% pada wanita usia reproduksi dan sekitar 40%-50% pada wanita usia di atas 40 tahun (Suhatno, 2007). Mioma uteri jarang ditemukan sebelum menarke (sebelum mendapatkan haid). Sedangkan pada wanita menopause mioma uteri ditemukan sebesar 10% (Joedosaputro, 2005).
2.      Hormon endogen (Endogenous Hormonal)
Konsentrasi estrogen pada jaringan mioma uteri lebih tinggi daripada jaringan miometrium normal. (Djuwantono, 2005)
3.      Riwayat Keluarga
Wanita dengan garis keturunan tingkat pertama dengan penderita mioma uteri mempunyai 2,5 kali kemungkinan untuk menderita mioma dibandingkan dengan wanita tanpa garis keturunan penderita mioma uteri. (Parker, 2007)
4.       Indeks Massa Tubuh (IMT)
Obesitas juga berperan dalam terjadinya mioma uteri. (Parker, 2007)
5.      Makanan
Dilaporkan bahwa daging sapi, daging setengah matang (red meat), dan daging babi menigkatkan insiden mioma uteri, namun sayuran hijau menurunkan insiden mioma uteri (Parker, 2007).
6.      Kehamilan
Kehamilan dapat mempengaruhi mioma uteri karena tingginya kadar esterogen dalam kehamilan dan bertambahnya vaskularisasi ke uterus. Hal ini mempercepat pembesaran mioma uteri (Manuaba, 2003).
7.      Paritas
Mioma uteri lebih banyak terjadi pada wanita dengan multipara dibandingkan dengan wanita yang mempunyai riwayat frekuensi melahirkan 1 (satu) atau 2 (dua) kali (Khashaeva, 1992).
2.5      Patofisiologi
Ammature muscle cell nest dalam miometrium akan berproliferasi hal tersebut diakibatkan oleh rangsangan hormon estrogen. ukuran myoma sangat bervariasi. sangat sering ditemukan pada bagian body uterus (corporeal) tapi dapat juga terjadi pada servik. Tumot subcutan dapat tumbuh diatas pembuluh darah endometrium dan menyebabkan perdarahan. Bila tumbuh dengan sangat besar tumor ini dapat menyebabkan penghambat terhadap uterus dan menyebabkan perubahan rongga uterus. Pada beberapa keadaan tumor subcutan berkembang menjadi bertangkai dan menonjol melalui vagina atau cervik yang dapat menyebabkan terjadi infeksi atau ulserasi. Tumor fibroid sangat jarang bersifat ganas, infertile mungkin terjadi akibat dari myoma yang mengobstruksi atau menyebabkan kelainan bentuk uterus atau tuba falofii. Myoma pada badan uterus dapat menyebabkan aborsi secara spontan, dan hal ini menyebabkan kecilnya pembukaan cervik yang membuat bayi lahir sulit.
2.6      Menifestasi klinis
Gejala yang timbul sangat tergantung pada tempat mioma, besarnya tumor, perubahan dan komplikasi yang terjadi. Gejala yang mungkin timbul diantaranya:
1.    Perdarahan abnormal, berupa hipermenore, menoragia dan metroragia. Faktor-faktor yang menyebabkan perdarahan antara lain:
1.    Terjadinya hiperplasia endometrium sampai adenokarsinoma endometrium karena pengaruh ovarium
2.    Permukaan endometrium yang lebih luas daripada biasanya
3.    Atrofi endometrium di atas mioma submukosum
4.    Miometrium tidak dapat berkontraksi optimal karena adanya mioma di antara serabut miometrium

2.    Rasa nyeri yang mungkin timbul karena gangguan sirkulasi darah pada sarang mioma, yang disertai nekrosis setempat dan peradangan. Nyeri terutama saat menstruasi
3.    Pembesaran perut bagian bawah
4.    Uterus membesar merata
5.    Infertilitas
6.    Perdarahan setelah bersenggama
7.    Dismenore
8.    Abortus berulang
9.    Poliuri, retention urine, konstipasi serta edema tungkai dan nyeri panggul. (Chelmow, 2005)
2.7      Pemeriksaan penunjang
Diagnosis mioma uteri dapat ditegakkan dari:
1.    Anamnesis
Dari anamnesis dapat ditemukan antara lain :
A.    Timbul benjolan diperut bagian bawah dalam waktu relatif lama.
B.      Kadang-kadang disertai gangguan haid
C.     Nyeri perut bila terinfeksi, terpuntir mioma bertangkai, atau pecah.
2.    Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
A.    Pemeriksaan abdomen
1.    Uterus yang membesar dapat dipalpasi pada abdomen
2.    Teraba benjolan tidak teratur, tetap dan lunak
3.    Ada nyeri lepas yang disebabkan oleh perdarahan intraperitoneal
B.     Pemeriksaan pelvis
1.    Adanya dilatasi serviks
2.    Uterus cenderung membesar, tidak beraturan dan berbentuk nodul
3.    Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis mioma uteri , sebagai berikut :
A)    Ultra Sonografi (USG), untuk menentukan jenis tumor, lokasi mioma, ketebalan endometrium dan keadaan adneksa dalam rongga pelvis. Mioma juga dapat dideteksi dengan Computerized Tomografi Scanning (CT scan) ataupun Magnetic Resonance Image ( MRI), tetapi kedua pemeriksaan itu lebih mahal.
B)     Foto Bulk Nier Oversidth (BNO), Intra Vena Pielografi (IVP) pemeriksaaan ini penting untuk menilai massa di rongga pelvis serta menilai fungsi ginjal dan perjalanan ureter.
C)     Histerografi dan histerokopi untuk menilai pasien mioma submukosa disertai dengan infertilitas.
D)     Laparoskopi untuk mengevaluasi massa pada pelvis.
E)      Laboratorium: hitung darah lengkap dan apusan darah, untuk menilai kadar hemoglobin dan hematokrit serta jumlah leukosit.
F)      Tes kehamilan adalah untuk tes hormon Chorionic gonadotropin, karena bisa membantu dalam mengevaluasi suatu pembesaran uterus, apakah oleh karena kehamilan atau oleh karena adanya suatu mioma uteri yang dapat menyebabkan pembesaran uterus menyerupai kehamilan.

Mioma Uteri


.






2.8      Komplikasi
1.    Pertumbuhan Leiomiosarkoma
Yaitu tumor yang tumbuh dari miometrium, dan merupakan 50 – 70 % dari semua sarkoma uteri. Ini timbul apabila suatu mioma uteri yang selama beberapa tahun tidak membesar, sekonyong-konyong menjadi besar, apalagi jika hal itu terjadi sesudah menopause.
2.    Torsi (putaran tangkai)
Ada kalanya tungkai pada mioma uteri subserosum mengalami putaran. Kalau proses ini terjadi mendadak, tumor akan mengalami gangguan sirkulasi akut dengan nekrosis jaringan, dan akan nampak gambaran klinik dari abdomen akut.
3.    Nekrosis dan Infeksi
Pada mioma submukosum, yang menjadi polip, ujung tumor kadang-kadang dapat melalui kanalis servikalis dan dilahirkan di vagina. Dalam hal ini ada ada kemungkinan gangguan sirkulasi dengan akibat nekrosis dan infeksi sekunder.  (Prawiroharjo, 1996)
2.9      Penatalaksanaan
1.    “ Penanganan mioma menurut usia, paritas, lokasi dan ukuran tumor “
Penanganan mioma uteri tergantung pada usia, paritas, lokasi dan ukuran tumor, dan terbagi atas :
A.   Penanganan konservatif
Cara penanganan konservatif dapat dilakukan sebagai berikut :
1)    Observasi dengan pemeriksaan pelvis secara periodik setiap 3-6 bulan.
2)     Monitor keadaan Hb
3)    Pemberian zat besi
4)    Penggunaan agonis GnRH untuk mengurangi ukuran mioma
B.   Penanganan operatif
Intervensi operasi atau pembedahan pada penderita mioma uteri adalah :
1)    Perdarahan uterus abnormal yang menyebabkan penderita anemia
2)    Nyeri pelvis yang hebat
3)    Ketidakmampuan untuk mengevaluasi adneksa (biasanya karena mioma berukuran kehamilan 12 minggu atau sebesar tinju dewasa)
4)     Gangguan buang air kecil (retensi urin)
5)     Pertumbuhan mioma setelah menopause
6)    Infertilitas
7)    Meningkatnya pertumbuhan mioma (Moore, 2001).
Jenis operasi yang dilakukan pada mioma uteri dapat berupa :
A)    Miomektomi
Miomektomi adalah pengambilan sarang mioma tanpa pengangkatan rahim/uterus (Rayburn, 2001). Miomektomi lebih sering di lakukan pada penderita mioma uteri secara umum. Penatalaksanaan ini paling disarankan kepada wanita yang belum memiliki keturunan setelah penyebab lain disingkirkan (Chelmow, 2005).
B)    Histerektomi
Histerektomi adalah tindakan operatif yang dilakukan untuk mengangkat rahim, baik sebagian (subtotal) tanpa serviks uteri ataupun seluruhnya (total) berikut serviks uteri (Prawirohardjo, 2001). Histerektomi dapat dilakukan bila pasien tidak menginginkan anak lagi, dan pada penderita yang memiliki mioma yang simptomatik atau yang sudah bergejala. Ada dua cara histerektomi, yaitu :
1.    Histerektomi abdominal, dilakukan bila tumor besar terutama mioma intraligamenter, torsi dan akan dilakukan ooforektomi
2.    Histerektomi vaginal, dilakukan bila tumor kecil (ukuran < uterus gravid 12 minggu) atau disertai dengan kelainan di vagina misalnya rektokel, sistokel atau enterokel (Callahan, 2005).
Kriteria menurut American College of Obstetricians Gynecologists (ACOG) untuk histerektomi adalah sebagai berikut:
1)      Terdapatnya 1 sampai 3 mioma asimptomatik atau yang dapat teraba dari luar dan dikeluhkan oleh pasien.
2)      Perdarahan uterus berlebihan, meliputi perdarahan yang banyak dan bergumpal-gumpal atau berulang-ulang selama lebih dari 8 hari dan anemia akibat kehilangan darah akut atau kronis.
3)      Rasa tidak nyaman di pelvis akibat mioma uteri meliputi nyeri hebat dan akut, rasa tertekan punggung bawah atau perut bagian bawah yang kronis dan penekanan pada vesika urinaria mengakibatkan frekuensi miksi yang sering (Chelmow, 2005).
2.    ” Penatalaksanaan mioma uteri pada wanita hamil ”
Selama kehamilan, terapi awal yang memadai adalah tirah baring, analgesia dan observasi terhadap mioma. Penatalaksanaan konservatif selalu lebih disukai apabila janin imatur. Seksio sesarea merupakan indikasi untuk kelahiran apabila mioma uteri menimbulkan kelainan letak janin, inersia uteri atau obstruksi mekanik.
2.10   Pencegahan
Karena pencegahan lebih baik dari pada mengobati dan adapun cara pencegahan yang dapat dilakukan antaranya sebagai berikut :
1.    Menerapkan pola hidup sehat
2.    Pola makan dan pola hidup yang baik
3.    Lakukan chek-up medis minimal setahun sekali untuk ibu-ibu atau wanita yang sudah berhubungan seks. Dengan pemeriksaan teratur, gejala awal bisa terdeteksi lebih dini. 
4.    Pada waktu melakukan pap smear, sebaiknya sekalian di lakukan pemeriksaan ultrasonografi ( USG) untuk melihat rahim dan indung telur. ” Kalau tidak ada fasilitas USG, bisa di lakukan pemeriksaan dalam. Dilihat rahimnya bagaimana, besarnya normal apa enggak, bentuknya konsisten apa engga, indung telur kanan kiri bagaimana, dan sebagainya. kalau teraba ada massa, harus hati-hati.


BAB III
KONSEP KEPERAWATAN
3.1      Pengkajian
Identitas Pasien : nama,umur,jenis kelamin,pendidikan,pekerjaan
Riwayat kesehatan :
A)   Keluhan utama
Klien biasanya merasakan nyeri panggul kronik. Nyeri bisa terjadi saat menstruasi, setelah berhbungan seksual, atau ketika terjadi penekanan pada panggul. Nyeriterjadi karena terpuntirnya mioma yang bertangkai, pelebaran leher rahim akibat desakan mioma atau degenerasi (kematian sel) dari mioma. pasien biasanya mengalami  perdarahan akibat penekanan pembuluh darah pada area uterus. Keluhan lain yang dirasakan pasien dapat berupa lemah, lelah dan lesu akibat perdarahan yang dialami pasien.
B)   Riwayat Kesehatan Dahulu
Menanyakan adanya riwayat infeksi saluran kemih, infeksi organ lain, riwayat kencing batu/obstruksi, riwayat konsumsi obat-obatan, jamu, riwayat trauma ginjal, riwayat penyakit endokrin, riwayat penyakit kardiovaskuler, riwayat darah tinggi, riwayat kehamilan, riwayat dehidrasi, riwayat trauma.
C)   Riwayat Kesehatan Keluarga
Menanyakan riwayat polikistik, diabetes, hipertensi, riwayat penyakit ginjal yang lain. Cantumkan genogram min. tiga generasi.
Pengkajian pola
1.    Pola Eliminasi dan Pertukaran
Gejala : Perubahan pola BAK, Disuria, adanya penekanan pada uretra, Perubahan pada saat defikasi, Dispnea
Tanda :  Perubahan warna urine. Bising usus
Masalah keperawatan:
·         Gangguan elminasi urine (00016)
Domain   : 3 (Eliminasi pertukaran)
Kelas       : 1 (Fungsi Urinarius)

·         Konstipasi ( 00011 )
Domain   :  3 (Eliminasi dan Pertukaran)
Kelas       :  4 (Fungsi Gastrointestinal)

2.    Pola kenyamanan
Gejala : Nyeri panggul, sakit kepala
Tanda    : Perilaku berhati-hati/distraksi, gelisah , wajah meringis , terfokus pada diri sendiri
Masalah keperawatan:
·         Nyeri Akut (00132)
Domain 12: kenyamanan
Kelas     1 : kenyamanan fisik

3.    Pola Koping/Toleransi Stres
Gejala    : Cemas  dan takut karena adanyan hyperplasia pada usus dan  perawatan yang  lama.
Tanda : berkeringat , tegang , terlihat takut
Masalah keperawatan:
·         Ansietas (00146)
Domain 9 : Koping/Toleransi Stres
Kelas 2 : Respons Koping

4.    Pola aktifitas/lstirahat
Gejala : kelemahan/malaise, Dispnea
Tanda  : kelemahan, pasien sering terjaga pada malam hari. Klien sering merasa sesak napas
Masalah keperawatan:
·         Intoleransi aktifitas(00092)
Domain 4 : aktivitas/istirahat
             Kelas    1 : Tidur/Istirahat

·         Ketidakefektifan pola napas (00032)
             Domain 4 : aktivitas/istirahat
             Kelas    4 : Respon kardiovaskuler/Pulmunal

3.2      Diagnosa keperawatan
1)    Nyeri akut (00132) berhubungan dengan Pertumbuhan cepat mioma uteri. Ditandai dengan adanya rasa nyeri pada bagian panggul
2)    Gangguan eliminasi urine (00016) berhubungan dengan adanya penekanan  pada kadung kemih ( Uretra ) ditandai dengan adanya rasa nyeri pada saat berkemih ( Disuria )
3)    Konstipasi (00011) nerhubungan dengan adanya penekanan pada rectum.
4)    Ketidakefektifan pola napas (00032) berhubungan dengan adanya penekanan pada diagfragma paru
5)    Ansietas (00146) berhubungan dengan perubahan status kesehatan ditandai dengan pasien mengatakan cemas karena keadaan yang di alami. Pasien terlihat gelisah, wajah pasien terlihat tegang dan takut serta tentang biaya yang akan dibayar.
6)    Gangguan pola tidur (00198) berhubungan dengan adanuya penekanan pada urat saraf oleh mioma uteri. Ditandai dengan pasien sering terjaga pada malam hari.
7)    Disfungsi  seksual ( 00059 ) berhubungan dengan penurunan libido ditandai dengan penurunan hormone testoteron









3.3      Rencana intervensi
No.
Diagnosa Keperawatan
Tujuan dan Kriteria Hasi
Intervensi
Rasional

1

Nyeri akut ( 00132 )
Defenisi :
Pengalam sensori dan emosional yang kurang menyenangkan yang muncul akibat kerusakan jaringan.

Faktor yang berhubungan :
Pertumbuhan cepat mioma uteri

Ditandai dengan batasan karakteristik :
DS :
-          Klien mengeluh adanya rasa nyeri pada dareah abdomen bagian bawah  dan pinggang.

DO :
-          Ekspresi wajah tampak meringis.



Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan nyeri klien dapat berkurang  dibuktikan dengan kriteria hasil :

-    Skala nyeri ( 0-3 )
-    Ekspresi wajah Nampak tenang


Pengkajian :
1.    Kaji skala nyeri klien.


Tindakan Mandiri :
2.    Ajarkan dan anjurkan teknik relaksasi dan distrraksi.


Health Education :
3.    Ajarkan klien atau keluarga untuk melakukan kompres dingin untuk memblok rasa nyeri.

Kolaboratif :
4.    Berikan analgesic sesuai dengan indikasi


1.    Untuk mengetahui skala nyeri klien.

2.    Untuk mengurangi rasa nyeri yang dirasakan klien


3.    Agar nyeri yang dirasakn klien dapat berkurang.




4.    Agar masalah nyeri klien dapat teratasi

2

Gangguan eliminasi urine (00016)
Defenisi :
Disfungsi pada eliminasi urine

Faktor yang berhubungan :
Penyakit

Ditandai dengan batasan karakteristik:

DS :
-       Klien mengeluh kencing berwarna seperti cucian daging

DO :
-         Bising usus meningkat
-         Klien merasa kesakitan saat BAK dan BAB.

Setelah dilakukan tindakan keperrawatan selama 3x24 jam diharapkan klien dapat memperlihatkan eliminasi urine yang baik dibuktikan dengan :
-         Warna urine pasien kembali normal ,
-         Klien tidak merasa kesakitan saat BAK dan BAB

Pengkajian :
1.  Pantau eliminasi urine (frekuensi , bau , volume , warna )


Tindakan Mandiri :
2.  Anjurkan kepada pasien untk banyak mengkonsusmsi air putih

Health Education :
3.  Instruksikan kepada pasien dan keluarga untuk mencatat haluaran urine.


4.  Instruksikan pasien untuk berespon segera terhadap kebutuhan eliminasi

Kolaboratif :
5.  Kolaborasi dengan dokter jika terdapat tanda dan gejala infeksi pada saluran kemih
6.  Kolaborasi dalam pemberian cairan intravena


1.    Untuk mengetahui bau , warna , frekuensi  dan volume urine pasien.

2.    Untuk menetralkan warna urine pasien.


3.    Agar pasien dan keluarga juga dapat mengetahui perkembangan eliminasi urine dari pasien
4.    Agar mempertahankan pola eliminasi urine yang optimum

5.    Untuk mencegah terjadi infeksi saluran kemih lebih dini.

6.    Untuk mengembalikan kenormalan warna urine.



3

Ketidakefektifan pola napas (00032)

Definisi :
inspirasi dan/atau ekspirasi yang tidak memberi ventilasi adekuat.

Faktor yang berhubungan :
Adanya penekanan pada diagfragma paru

DS :
-       Klien mengeluh seringkali merasa sesak napas

DO :
-       Dispnea

Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama 3x24 jam, pasien akan mempunyai kecepatan dan irama pernapasan dalam batas normal
Dibuktikan dengan criteria hasil:
-          Klien tidak lagi sesak napas

Pengkajian :
1.    Kaji frekwensi, dan iramja  pernapasan klien




Tindakan Mandiri :
2.    Ajarkan klien tehnik relaksasi napas dalam



Health Education :
3.    Anjurkan klien untuk rutin berolahraga pada pagi hari.

Kolaboratif :
4.    Kolaborasi dengan dokter jika masalah tidak teratasi



1.   Untuk mengetahui frekwensi dan irama pernapasan pada klien


2.   Agar klien merasa rileks dan dapat mengontrol pernapasannya.

3.   Agar klien dapat menghirup udara yang segar



4.   Agar klien dapat diberikan tindakan medis lanjutan.


3.4      Implamentasi
Implamentasi disesuaikan dengan intervensi yang ada
3.5      Evaluasi
Semua masalah dapat teratasi J


BAB  IV
PENUTUP
4.1      Kesimpulan
Mioma uteri atau juga dikenal dengan leiomioma uteri atau fibromioma uteri fibroid adalah tumor jinak rahim yang paling sering didapatkan pada wanita. Pengecilan tumor sementara menggunakan obat- obatan GnRH analog dapat dilakukan, akan tetapi pada wanita dengan hormon yang masih cukup (premenopause), mioma ini dapat membesar kembali setelah obat-obatan ini dihentikan.
4.2      Saran
Semoga dengan adanya makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak, dan dapat menjadi pedoman serta pembelajaran umumnya para mahasiswa keperawatan agar dapat mnengerti tentang poenyakit mioma uteri dan dapat memberikan tindakan asuhan keperawatan kepada pasien dengan gangguan sistem reproduksi mioma uteri.




DAFTAR PUSTAKA

NANDA 2012-2014. Diagnosis keperawatan Definisi dan Klasifikasi. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Judithy M. Wilkinson. Nancy R. Ahern (2011). Buku saku keperawatan. Diagnosa NANDA, Intervensi NIC. Kriteria hasil NOC. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Doenges marilynn (2000), Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta
Pearce, Evelyn C. 2000. Anatomi dan Fisiolog untuk Paramedis Edisi Barui. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Derek LJ, 2011. Dasar obstetri dan Genekologi. Edisi Ke – 6.Jakarta: Hipokkrater 
Prawirohardjo, sarwono. 2002. Edisi Ke-3. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.
Wiknjosastro. 2007. Ilmu Kebidanan . Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo. Jakarta.
Sastrawinata, S. 2005. Obstetri Patologi Ilmu Kesehatan Reproduksi. Jakarta: EGC

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kusta (Morbus hansen)

BAB I PENDAHULUAN 1.1          Latar belakan g Kusta merupakan penyakit yang banyak menyerang kulit dan syaraf. Kusta atau yang d...