Skenario 1
Seorang
laki-laki berusia 65 tahun datang ke
rumah sakit dengan keluhan susah buang air kecil. Pada saat dilakukan
pengkajian klien mengatakan sudah dioperasi pada 1 hari sebelumnya. Namun ,
sebelum dioperasi klien mengatakan pada saat klien ingin BAK susah keluar dan
sangat lama kemudian air kemih yang dikeluarkan sedikit-sedikit dan terasa
perih. Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan kondisi klien tampak lemah
terbaring di tempat tidur dan tampak gelisah dengan nilai GCS (E=4, V=5, dan M=6).
Klien mengatakan nyeri pada bagian suprapubis dengan skala nyeri 5 , seperti
ditusuk-tusuk, klien mengaku nyerinya sedikit berkurang bila posisi tubuhnya
terlentang. Klien tampak terpasang kateter, terpasang infuse pada tangan
sebelah kiri dengan Ringer Laktat 20 tetes/menit, dan terpasang alat monitor
dimana TD = 150/90 mmHg, RR=21 x/menit, HR= 84 x/menit , S=36,90c.
Ada riwayat merokok selama kurang lebih 20 tahun. Namun , semenjak sakit klien
berhenti merokok dan riwayat hipertensi (+).
Langkah 1:
§
Klarifikasi
istilah-istilah penting
1.
GCS (Glasgow Coma Scale) adalah skala
yang dipakai untuk menentukan/menilai tingkat kesadaran pasien, mulai dari
sadar sepenuhnya sampai keadaan koma
2.
Suprapubis : berada diatas tulang pubis
3.
Ringer
laktat adalah larutan steril dari Kalsium klorida, Kalium klorida, Natrium
klorida dan Natrium laktat dalam Air untuk injeksi.
§
Klarifikasi
kata-kata kunci
1.
Seorang
laki-laki berusia 65 tahun
2.
Keluhan
susah buang air kecil
3.
Pada
saat dilakukan pengkajian klien mengatakan sudah dioperasi pada 1 hari
sebelumnya
4.
Sebelum
dioperasi klien mengatakan pada saat klien ingin BAK susah keluar dan sangat
lama kemudian air kemih yang dikeluarkan sedikit-sedikit dan terasa perih
5.
Dari
hasil pemeriksaan fisik didapatkan kondisi klien tampak lemah terbaring di
tempat tidur dan tampak gelisah dengan nilai GCS (E=4, V=5, dan M=6)
6.
Klien
mengatakan nyeri pada bagian suprapubis dengan skala nyeri 5 , seperti
ditusuk-tusuk, klien mengaku nyerinya sedikit berkurang bila posisi tubuhnya
terlentang
7.
Klien
tampak terpasang kateter, terpasang infuse pada tangan sebelah kiri dengan
Ringer Laktat 20 tetes/menit, dan terpasang alat monitor dimana TD = 150/90
mmHg, RR=21 x/menit, HR= 84 x/menit , S=36,90c
8.
Ada
riwayat merokok selama kurang lebih 20 tahun. Namun , semenjak sakit klien
berhenti merokok dan riwayat hipertensi (+)
Langkah 2 :
§
Masalah Utama
Benigna Hiperplasia Prostat
§
Membuat pertanyaan
penting
1.
Mengapa
pada laki-laki umumnya usia diatas 45 tahun sering mengalami penyakit BPH ?
2.
Uraikanlah
mekanisme susah buang air kecil pada kasus Tn. L !
3.
Operasi
apa yang dilakukan pada penderita BPH pada umumnya ?
4.
Bagaimana
interpretasi dari GCS pada kasus Tn.L ?
5.
Uraikan
mekanisme nyeri pada suprapubis ! Samsu Alang
6.
Apa
hubungan anatara nyeri yang diarasakan engan posisi tubuh terlentang ?
7.
Apa
hubungan antara merokok dengan BPH pada kasus !
8.
Apa
hubungan BPH dengan hipertensi ?
9.
Buatlah
pengkajian , analisa data dasar dan diagnose keperawatan ! Andi Aswandi
10. Buatlah renpra pada kasus Tn.L ! Nopi
Dan mauren
Langkah 3 :
Menjawab Pertanyaan Penting
1. Mengapa
pada laki-laki ummnya usia diatas 45 tahun sering mengalami penyakit BPH ?
Jawaban :
Pada
usia terjadi kelemahan umum termasuk kelemahan umum kelemahan pada buli (otot
detrusor) dan penurunan fungsi persarafan. Perubahan karena pengaruh usia tua
menurunkan kemampuan buli dalam mempertahanakan aliran urin pada proses
adaptasi oleh adanya obstruksi karena pembesaran prostat . sehingga menimbulkan
gejala.
2. Uraikanlah
mekanisme susah buang air kecil pada kasus Tn. L !
Jawaban :
Tekanan
pada kandung kemih dan urethra ketika kelenjar prostat mengalami pembesaran dan
menyebabkan penyempitan/tersumbatnya pada urethra sehingga menyebabkan si
penderita susah buang air kecil .
3. Operasi
apa yang dilakukan pada penderita BPH pada umumnya ?
Jawaban :
Operasi
yang bisa dilakukan adalah TURP. TURP
adalah suatu operasi pengangkatan jaringan prostat lewat uretra
menggunakan resektroskop, dimana resektroskop merupakan endoskop dengan tabung
10-3-F untuk pembedahan uretra yang dilengkapi dengan alat pemotong dan counter
yang disambungkan dengan arus listrik. Tindakan ini memerlukan pembiusan umum
maupun spinal dan merupakan tindakan invasive yang masih dianggap aman dan
tingkat morbiditas minimal.
4. Uraikan
mekanisme nyeri pada suprapubis !
Jawaban :
Mekanisme
nyeri pada suprapubis:
Proses menua
Ketidakseimbangan
hormone
Hiperplasia pada
epitel dan stroma pada kelenjar prostat
BPH (benigna
prostat hyperplasia)
Penyempitan
lumen uretra pars prostatika
Bendungan
vesika urinarius
Peningkatan
tekanan intra vesika
Peningkatan
kontraksi otot suprapubik
Tekanan
mekanis , merangsang nosisseptor
Dihantarkan
oleh serabut saraf AB dan serabut saraf C
Nyeri
dipersepsikan
Nyeri
suprapubik
5. Apa
hubungan antara nyeri yang diarasakan engan posisi tubuh terlentang ?
Jawaban :
Tidur telentang dengan kedua lengan berada di samping
umumnya dianggap sebagai posisi tidur terbaik untuk kesehatan tulang belakang
dan leher, asalkan Anda tidak menggunakan terlalu banyak bantal. Posisi ini
sangat bagus untuk menyeimbangkan berat badan Anda serta menjaga organ dalam
tubuh agar tetap selaras. Nyeri leher dan punggung juga bisa dicegah dengan
posisi ini. Lebih ideal lagi bila meletakkan bantal di bawah lutut
sebagai pengganjal untuk membantu menjaga keselarasan punggung. Pada orang
tertentu terutama dengan riwayat sensitif hidung, posisi telentang
cenderung lebih mudah mendengkur dibandingkan orang yang tidur dengan posisi
lain.
6.
Apa hubungan antara merokok dengan BPH
pada kasus !
Jawaban :
Seorang peneliti bernama dr.
Edward harahap,Sp.U mengatakan bahwa banyak racun yang terkandung dalam rokok
dan dampak negatifnya bagi kesehatan.Zat –zat yang terkandung dalam rokok ini
tidak langsung memberikan efek samping, tetapi dampak merokok akan di rasakan
pada saat usia lanjut. Berhubungan dengan kasus yang di alami Tn “L “ Tn L
mepunyai riwayat merokok selama 20 tahun,dan akibat dari merokok ini Tn L
merasakannya di usia tuanya yaitu mengalami susah buang air kecil. Zat yang
terkandung dalam rokok ini mengakibatkan kerusakan atau pembengkakan pada
kelenjar prostat sehingga fungsi prostat terganggu.
7. Apa
hubungan BPH dengan hipertensi ?
Jawaban :
Rokok mengandung
4.000 racun kimia. Salah satu racun yang sangat berbahaya adalah Nikotin.
Nikotin ini akan merusak lapisan dalam dinding arteri, dan juga mengakibatkan
penurunan kerja jantung . Nikotin juga
dapat mengakibatkan penurunan fungsi
ginjal.Salah satu fungsi ginjal adalah memproduksi enzim angiotensinogen
menjadi angiotensin II yang menyebabkan pembuluh darah mengkerut /menjadi keras
dan mengakibatkan terjadinya Hipertensi.
8. Buatlah
pengkajian , analisa data dasar dan diagnose keperawatan !
Jawaban :
§
Pengkajian
Nama :
Tn.L
Umur :
57 thn
Jenis kelamin :Laki-laki
Keluhan utama :
Susah buang air kecil
Diagnosa Medis :
Benigna Prostat Hiperplasia
Riwayat
kesehatan
1.
Riwayat
kesehatan sekarang : Susah buang air kecil. Pada saat
dilakukan pengkajian klien mengatakan sudah dioperasi pada 1 hari sebelumnya
2.
Riwayat
kesehatan dahulu : Namun , sebelum
dioperasi klien mengatakan pada saat klien ingin BAK susah keluar dan sangat
lama kemudian air kemih yang dikeluarkan sedikit-sedikit dan terasa perih
3.
Riwayat
kesehatan keluarga : Ada
riwayat merokok selama kurang lebih 20 tahun. Namun , semenjak sakit klien
berhenti merokok dan riwayat hipertensi (+).
Pemeriksaan
Fisik :
-
Klien
tampak lemah terbaring di tempat tidur dan tampak gelisah dengan nilai GCS
(E=4, V=5, dan M=6)
-
Klien
mengatakan nyeri pada bagian suprapubis dengan skala nyeri 5 , seperti
ditusuk-tusuk, klien mengaku nyerinya sedikit berkurang bila posisi tubuhnya terlentang
-
Klien
tampak terpasang kateter, terpasang infuse pada tangan sebelah kiri dengan
Ringer Laktat 20 tetes/menit, dan terpasang alat monitor
-
TTV
: TD = 150/90 mmHg, RR=21 x/menit, HR= 84 x/menit , S=36,90c
§
Analisa Data Dasar
|
No.
|
Data Fokus
|
Etiologi
|
Masalah Keperawatan
|
|||||||||||||||||||||||||||
|
1.
|
DS :
-
Klien
mengatakan nyeri pada bagian suprapubis, seperti ditusuk-tusuk
-
Klien
mengaku nyerinya sedikit berkurang bila posisi tubuhnya terlentang
DO :
-
Skala
nyeri 5
-
Klien
tampak gelisah
-
TD
= 150/90 mmHg
-
HR=
84 x/menit
|
Proses
menua
Ketidakseimbangan
hormone
Hiperplasia
pada epitel dan stroma pada kelenjar prostat
Penyempitan
lumen uretra pars prostatika
Bendungan
vesika urinarius
Peningkatan
tekanan intra vesika
Peningkatan
kontraksi otot suprapubik
Tekanan
mekanis , merangsang nosisseptor
Pengeluaran
mendiator kimia (Br)
Dihantarkan
oleh serabut saraf AB dan serabut saraf C
Nyeri
dipersepsikan
Nyeri Akut
|
Nyeri akut (00132)
|
|||||||||||||||||||||||||||
|
2.
|
DS :
-
Klien
mengatakan susah buang air kecil
-
Klien
mengatakan pada saat klien ingin BAK susah keluar dan sangat lama kemudian
air kemih yang dikeluarkan sedikit-sedikit dan terasa perih
DO :
-
Klien
terpasang kateter
|
Proses
menua
Ketidakseimbangan
hormone
Hiperplasia
pada epitel dan stroma pada kelenjar prostat
Penyempitan
lumen uretra pars prostatika
Bendungan
vesika urinarius
Peningkatan
tekanan intra vesika
Hipertrofi
otot detrusor , trabekulasi
Terbentuknya
, selula , sekula dan divertikal buli-buli
Lower
urinary tract syndrome
Gangguan
eliminasi urine
|
Ganggaun eliminasi urine (00016)
|
|||||||||||||||||||||||||||
|
3.
|
DS :
DO :
-
Klien
tampak lemah terbaring di tempat tidur
-
Klien
terpasang kateter
-
Terpasang
infuse pada tangan sebelah kiri dengan Ringer Laktat 20 tetes/menit,
-
Terpasang
alat monitor
|
Proses
menua
Ketidakseimbangan
hormone
Hiperplasia
pada epitel dan stroma pada kelenjar prostat
Penyempitan
lumen uretra pars prostatika
Bendungan
vesika urinarius
Tindakan
pembedahan
Terpasang
kateter dan alat monitor
Penurunan
kekuatan otot pasien
Hambatan Mobilitas Fisik
|
Hambatan Mobilitas Fisik (00085)
|
|||||||||||||||||||||||||||
|
|
||||||||||||||||||||||||||||||
§
Diagnose Keperawatan
1.
Nyeri akut (00132) berhubungan dengan agen-agen cedera
fisik ditandai dengan klien mengatakan nyeri pada bagian suprapubis, seperti
ditusuk-tusuk dengan skala nyeri 5
2.
Gangguan eliminasi urine (00016) berhubungan dengan obstruksi anatomik
ditandai dengan klien mengatakan susah buang air kecil. Klien terpasang kateter
3.
Hambatan mobilitas fisik (00085) berhubungan dengan penurunan kekuatan
otot ditandai dengan Klien tampak lemah terbaring di tempat tidur dan klien
terpasang kateter
9. Buatlah
renpra pada kasus Tn.L !
Jawaban
:
|
No.
|
Diagnose Keperawatan
|
Tujuan dan KH
|
Intervensi
|
Rasional
|
|
1.
|
Nyeri akut (00132)
Defenisi :
Pengalaman sensori dan emosi tidak menyenangkan akibat adanya
kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau digambarkan dalam hal
kerusakan sedemikian rupa (internatioanl associaton for the study of pain ) ,
awitan yang tiba-tiba atau lambat dengan intensitas dari ringan hingga berat
, terjadi secara konstan atau berulang tanpa akhir yang dapat dianstipasi
atau diprediksi dan berlangsung < 6
bulan.
Faktor yang
berhubungan :
Agen-agen cedera fisik
Ditandai dengan
batasan karakteristik :
DS :
-
Klien
mengatakan nyeri pada bagian suprapubis, seperti ditusuk-tusuk
-
Klien
mengaku nyerinya sedikit berkurang bila posisi tubuhnya terlentang
DO :
-
Skala
nyeri 5
-
Klien
tampak gelisah
-
TD
= 150/90 mmHg
-
HR=
84 x/menit
Provocating
:
Pasien mengatakan nyeri pada bagian suprapubis
Quality
:
Nyerinya seperti tertusuk-tusuk
Region
:
Viseral ( nyeri pada bagian perut bagian bawah )
Severity
:
Tingkat nyeri yang dirasakan 5 (nyeri sedang)
Time
:
Nyeri
yang dirasakan hilang timbul dan durasi nyerinya cepat sekitar 5 menit dan nyeri terjadi saat mau berkemih
|
Setelah tindakan keperawatan selama 3x 24 jam
diharapkan pasien dapat menunjukkan pengendalian nyeri, dibuktikan dengan
kriteria hasil :
-
Nyeri yang
dirasakan pasien berkurang dengan skala nyeri 1-3
-
Pasien tampak tenang
|
Pengkajian :
1. Kaji
tanda-tanda vital
2. Lakukan
pengkajian nyeri yang komperenshif meliputi lokasi, karakteristik, awitan,
durasi
Tindakan mandiri :
3. Berikan
lingkungan yang tenang dan nyaman .
Penyuluhan :
4. Ajarkan teknik relaksasi napas dalam/
distraksi kepada pasien
5. Berikan
informasi tentang nyeri, seperti penyebab nyeri, berapa lama akan berlangsung
dan antisipasi ketidaknyamanan akibat prosedur
Kolaborasi :
6. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat
analgesik sesuai kebutuhan
|
1. Untuk
mengetahui tanda-tanda vital pasien
2. Untuk
menilai tingkat nyeri pada pasien
3. Untuk
membantu pasien dalam beristirahat
4. Untuk
memberikan rasan nyaman kepada pasien
5. Memberikan
pengetahuan tambahan pada pasien dan keluarganya tentang nyeri
6. untuk
menurunkan nyeria yang dirasakan pasien
|
|
2.
|
Ganggauan Eliminasi Urine (00016)
Defenisi :
Disfungsi pada
eliminasi urine
Faktor yang berhubungan :
Obstruksi
anatomik
Ditandai dengan batasan
karakteristik :
DS :
-
Klien
mengatakan susah buang air kecil
-
Klien
mengatakan pada saat klien ingin BAK susah keluar dan sangat lama kemudian
air kemih yang dikeluarkan sedikit-sedikit dan terasa perih
DO :
-
Klien
terpasang kateter
|
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan eliminasi urine
tidak terganggu
dibuktikan
dengan kriteria hasil :
-
Urine
keluar lancar tidak tersendat-sendat
-
Frekuensi
urine normal
-
Tidak
perih saat berkemih
|
Pengkajian :
1. Pantau eliminasi urine meliputi
frekuensi , konsistensi , bau , volume dan warna
Tindakan Mandiri :
2. Anjurkan pasin untuk megkonsumsi
air putih sebanyak mungkin
Health Education :
3.
Instruksikan kepada pasien dan keluarga untuk mencatat
haluaran urine
4.
Instruksikan pasien untuk berespon segera terhadap
kebutuhan eliminasi
Kolaborasi
:
5. Kolaborasi dalam pemberian terapi
intravena
|
1.
Untuk mengetahui bau , warna , frekuensi dan volume urine pasien
2.
Untuk menetralkan warna urine pasien
3.
Agar pasien dan keluarga juga dapat mengetahui
perkembangan eliminasi urine dari pasien
4.
Agar mempertahankan pola eliminasi urine yang optimum
5.
Untuk mengembalikan kenormalan warna urine
|
|
3.
|
DS :
DO :
-
Klien
tampak lemah terbaring di tempat tidur
-
Klien
terpasang kateter
-
Terpasang
infuse pada tangan sebelah kiri dengan Ringer Laktat 20 tetes/menit,
-
Terpasang
alat monitor
|
Setelah tindakan keperawatan selama 3x 24 jam
diharapkan pasien dapat memperlihatkan mobilitas fisik yang baik , dibuktikan
dengan kriteria hasil :
- Pasien
mampu untuk beraktivitas
- Pasien
dapat membolak-balik tubuh dengan baik
- Pasien
dapat bergerak dengan baik
|
Pengkajian :
1. Pantau proses mobilitas pasien
Tindakan Mandiri :
2. Atur posisi tubuh senyaman
mungkin
Penyululuhan :
3.
Ajarkan
dan dukung pasien dalam latihan ROM aktif dan pasif
Kolaboratif :
4.
Rujuk
ke ahli terapi untuk latihan fisik
|
1.
Untuk
mengetahui mobilisasi fisik pasien
2.
Untuk
memberikan rasa nyaman kepada pasien
3.
Untuk
meningkatkan atau mempertahankan kekuatan
dan ketahanan otot
4.
Untuk
membantu klian dalam meningkatkan pertahanan yang kuat
|
Langkah 4 :
Peta
Konsep Sementara
Langkah
5:
«
Membuat pertanyaan tambahan :
1.
Apa
rasional klien dipasangkan infuse pada tangan sebelahh kiri cairan Rl 20
tts/menit ?
2.
Apa
rasionalnya pasien post op dipasangkan kateter ?
3.
Uraaikan
patomekanisme terjadinnya BAK susah keluar dan sangat lama/ keluar
sedikit-sedikit !
Langkah
6 :
«
Menjawab pertanyaan Tambahan
1. Apa
rasional klien dipasangkan infuse pada tangan sebelah kiri cairan Rl 20
tts/menit ?
Jawaban :
2. Apa
rasionalnya pasien post op dipasangkan kateter ?
Jawaban :
Untuk
mengatasi obstruksi intra vesikal dan untuk mengetahui ada atau tidanya bekuan
darah dalam buli-buli , struktur pascah bedah dan proses inflamasi pada urethra.
3. Uraikan
patomekanisme terjadinnya BAK susah keluar dan sangat lama/ keluar
sedikit-sedikit !
Jawaban :
Mekanisme
terjadinya BAK susah keluar :
Tekanan pada kandung kemih
uretra ketika kelenjar prostat mengalami pembesaran dan menyebabkan penyempitan/
tersumbatnya uretra sehingga menyebabkan BAK susah keluar.
Mekanisme
terjadinya BAK keluar sangat lama :
Tekanan pada kandung kemih
uretra ketika kelenjar prostat mengalami pembesaran dan menyebabkan penyempitan/penyumbatan
saluran kencing bagian bawah inilah yang menyebabkan BAK
keluar sangat lama.
Mekanisme
terjadinya BAK keluar sedikit-sedikit :
Pembesaran prostat dapat
menekan saluran kemih/ uretra dan menutup aliran urine sehingga menyebabkan dinding
kandung kemih mengalami iritasi dan mudah berkontraksi walaupun berisi sedikit
urine inilah yang menyebabkan BAK keluar sedikit-sedikit .
Langkah
7 :
Peta
Konsep Sempurna
SKENARIO 2
Seorang
laki-laki berusia 57 tahun datang ke RS dengan keluhan nyeri pinggang kanan.
Nyeri hilang timbul dan menjalar ke perut dan tidak dipengaruhi mobilitas
fisik. Klien mengaku 4 bulan yang lalu sering mengalami nyeri yang sama dan
nyeri hilang stelah diberikan obat penghilang rasa nyeri dari dokter. Nyeri
dirasakan bertambah berat dalam 2 hari ini dan tidak menghilang dengan obat
yang biasa dimakan. Klien juga mengeluh mual dan muntah sekitar 4-5 kali sejak
1 hari yang lalu dan demam serta air kencingnya keruh dan oliguri (+) dengan
jumlah sekitar 400 ml/24 jam.
Dari
hasil pemeriksaan fisik didapatkan kondisi umum : gelisah dan tampak meringis
dan nyeri kolik (+) , TD = 160/100 mmHg ; HR= 102 x/menit ; RR = 28x menit ;
suhu = 38,70c ; abdomen : inspeksi = flatuensi (+) , palpasi : nyeri
tekan kuadran kanan atas (+) , perkusi : timpani pada abdomen dan nyeri ketok
CVA dextra (+) , auskultasi : bising usus menurun. Pada pemeriksaan lab
didapatkan ; Hb = 14 gr/dl, leukosit = 15.000/mm3, ureum = 24 mg/dl
, creatinin = 2,5 mg/dl.
Pada
pemeriksaan BNO-PIV : tampak bayangan radio opak lumbal III dextra , fungsi
ginjal masih baik namum terdapat hidronefrosis rend extra grade II. Istri klien
mengatakan orang tua klien juga pernah menderita batu ginjal dan riwayat
hipertensi (+).
Langkah 1 :
« Klarifikasi istilah-istilah
penting
1. Oliguri
adalah produksi urin sedikit,
biasanya kurang dari 400 ml / hari pada orang dewasa, dan dapat menjadi salah
satu tanda awal dari gagal ginjal dan masalah urologi lainnya atau penyumbatan
di dalam saluran kemih
2. Nyeri
kolik adalah suatu rasa nyeri perut yang
memelintir dan biasanya hilang timbul . Kolik biasanya diawali rasa nyeri
spasmodik ringan, yang menjadi semakin berat sampai mencapai puncak nyeri , hingga
penderita bergulling-guling.
3. Flatuensi
adalah meningkatnya jumlah
gas dalam saluran pencernaan
4. Timpani
adalah Perut kembung suatu keadaan
mengembangnya rumen akibat terisi oleh gas-gas berlebih. Hal ini tejadi ketika
esovagus mengalami sumbatan sehinggga menghambat pengeluaran gas. Ada kalanya
juga tejadi peut kembung “ Berbuih “ sebagai akibat femantasi yang berjalan tidak normal . produksi gas
yang cepat ( CO2 dan CH4 ) sebagai hasil akhir femantasi akan memicu tejadinya
kembung. Kondisi ini dikaitkan dengan tingginya konsentrasi potein.
5. Nyeri
ketok CVA ( Costovertebral angel )
adalah salah satu dai dua sudut yang menguraikan ruang atas ginjal.
Sudut terbentuk oleh kurva lateal dan kebawah dari tulang rusuk tenadah dari
vertikel dari tulang belakang itu sendi. Nyeri ketok saat di perkusi adalah
umum ditemukan pada hidronefrosis dan inveksi lain dai ginjal dan stuktur lain
yang bedekatan.
6. Kreatinin
adalah unsur pembentuk urine yang normal
, metabolisme protein
7. Pemeriksaan
BNO-PIVadalah salah satu pemeriksaan radiologi
untuk melihat saluran kemih , misalnya dai USG traktus urinaius
8. kesannya
adanya sumbatan dari ureter suspek batu, maka BNOO IVP ini bisa dilakukan
investigasi berikutnya
9. Bayangan
adio Opak adlah bayangan dengan kepadatan yang tingggi akan tampak sebagai
bayangan radiologi ( bewanah lebih putih )
10. lumbal
daeah lumbal merupakan daerah veterbra yang sangat peka terhadap tejadinya nyei pinggang karena
daerah paling besa menerima beban saat
tubuh bergerak dan saat menumpuh
beban berat.
11. Hidronefrosis
rend dextra grade II adalah pembegkakan ginjal yang terjadi akibat sebagai
akumulasi urin disaluran kemih bagian
atas . hal ini biasanya disebabkan adanya penyumbatan disuatu tempat
disepanjang saluran kemih.
« Klarifikasi kata-kata kunci
1. Seorang
laki-laki berusia 57 tahun
2. Keluhan
nyeri pinggang kanan dan nyeri hilang timbul dan menjalar ke perut dan tidak
dipengaruhi mobilitas fisik
3. Klien
mengaku 4 bulan yang lalu sering mengalami nyeri yang sama dan nyeri hilang
stelah diberikan obat penghilang rasa nyeri dari dokter
4. Nyeri
dirasakan bertambah berat dalam 2 hari ini dan tidak menghilang dengan obat
yang biasa dimakan
5. Klien
juga mengeluh mual dan muntah sekitar 4-5 kali sejak 1 hari yang lalu dan demam
serta air kencingnya keruh dan oliguri (+) dengan jumlah sekitar 400 ml/24 jam
6. Dari
hasil pemeriksaan fisik didapatkan kondisi umum : gelisah dan tampak meringis
dan nyeri kolik (+) , TD = 160/100 mmHg ; HR= 102 x/menit ; RR = 28x menit ;
suhu = 38,70c ; abdomen : inspeksi = flatuensi (+) , palpasi : nyeri
tekan kuadran kanan atas (+) ,
perkusi
: timpani pada abdomen dan nyeri ketok CVA dextra (+) , auskultasi : bising
usus menurun. Pada pemeriksaan lab didapatkan ; Hb = 14 gr/dl, leukosit =
15.000/mm3, ureum = 24 mg/dl , creatinin = 2,5 mg/dl.
7. Pada
pemeriksaan BNO-PIV : tampak bayangan radio opak lumbal III dextra , fungsi
ginjal masih baik namum terdapat hidronefrosis rend dextra grade II.
8. Istri
klien mengatakan orang tua klien juga pernah menderita batu ginjal dan riwayat
hipertensi (+).
Langkah 2 :
«
Masalah utama
“Hidronefrosis”
«
Membuat pertanyaan-pertaanyaan penting
1.
Review
konsep medis dan konsep keperawatan hidronefrosis !
2.
Uraikan
mekanisme terjadi nyeri pada pinggang kanan yang menjalar ke perut pada kasus
Tn.L ! Della
3.
Uraikan
mekanisme mual dan muntah pada kasus hidronefrosis ! Yeni
4.
Mengapa
pasien hidronefrosis terjadi demam, air
kencing keruh dan oliguri ? Nopi
5.
Interpretasikan
pemeriksaan fisik inspeksi , perkusi , palpasi dan auskultasi pada kasus ! Umi
Dan samsu
6.
Apa
tujuan pemeriksaan BNO-PIV ? Tina
7. Buatlah pengkajian , analisa data dasar dan
diagnose keperawatan ! Nopi Mauren
8. Buatlah renpra pada kasus Tn.L ! Andi
Langkah 3 :
«
Menjawab Pertanyaan Penting
1. Review
konsep medis dan konsep keperawatan hidronefrosis !
Jawaban :
A.
Definisi
Hidronefrosis adalah
dilatasi pelvis ureter yang dihasilkan oleh obstruksi aliran
keluar urin oleh batu atau kelainan letak arteria yang menekan ureter sehingga
pelvis membesar dan terdapat destruksi progresif jaringan ginjal (Gibson,
2003).
Hidronefrosis
adalah pembesaran ginjal akibat tekanan balik terhadap ginjal
karena aliran air kemih tersumbat.
Hidronefrosis
adalah obstruksi saluran kemih proksimal terhadap kandung kemi yang mengakibatkan
penimbunan cairan bertekanan dalam pelvis ginjal dan ureter serta atrofi pada parenkim ginjal (Price, 2001).
Dalam keadaan normal, air kemih mengalir
dari ginjal dengan tekanan yang sangat rendah. Jika aliran air kemih tersumbat,
air kemih akan mengalir kembali ke dalam tabung-tabung kecil di dalam ginjal (tubulus renalis) dan ke dalam daerah
pusat pengumpulan air kemih (pelvis renalis).
Hal ini akan menyebabkan ginjal menggembung dan menekan
jaringan ginjal yang rapuh. Pada akhirnya, tekanan hidronefrosis yang menetap
dan berat akan merusak jaringan ginjal sehingga secara perlahan ginjal
akan kehilangan fungsinya.
B.
Etiologi
Hidronefrosis biasanya terjadi akibat
adanya sumbatan pada sambungan ureteropelvik (sambungan antara ureter dan
pelvis renalis) yaitu :
a. Kelainan
struktural, misalnya jika masuknya ureter ke dalam pelvis renalis terlalu
tinggi
b. Lilitan
pada sambungan ureteropelvik akibat ginjal bergeser ke bawah
c. Batu
di dalam pelvis renalis
d. Penekanan
pada ureter oleh jaringan fibrosa, arteri atau vena yang letaknya abnormal, dan
tumor.
Hidronefrosis juga bisa terjadi akibat
adanya penyumbatan dibawah sambungan ureteropelvik atau karena arus balik air
kemih dari kandung kemih :
a. Batu
di dalam ureter
b. Tumor
di dalam atau di dekat ureter
c. Penyempitan
ureter akibat cacat bawaan, cedera, infeksi, terapi penyinaran atau pembedahan
d. Kelainan
pada otot atau saraf di kandung kemih atau ureter
e. Pembentukan
jaringan fibrosa di dalam atau di sekeliling ureter akibat pembedahan,
rontgen atau obat-obatan (terutama metisergid)
f.
Ureterokel (penonjolan
ujung bawah ureter ke dalam kandung kemih)
g. Kanker
kandung kemih, leher rahim, rahim, prostat atau organ panggul lainnya
h. Sumbatan
yang menghalangi aliran air kemih dari kandung kemih ke uretraakibat pembesaran
prostat, peradangan atau kanker
i.
Arus balik air kemih dari
kandung kemih akibat cacat bawaan atau cedera
j.
Infeksi saluran kemih
yang berat, yang untuk sementara waktu menghalangikontraksi ureter.
Kadang hidronefrosis terjadi selama
kehamilan karena pembesaran rahim menekan ureter. Perubahan hormonal akan memperburuk
keadaan ini karena mengurangi kontraksi ureter yang secara normal mengalirkan
air kemih ke kandung kemih. Hidronefrosis akan berakhir bila kehamilan
berakhir, meskipun sesudahnya pelvis renalis dan ureter
mungkin tetap agak melebar. Pelebaran pelvis renalis yang berlangsung lama dapat menghalangi kontraksi otot ritmis yang secara normal
mengalirkan air kemih ke kandung kemih. Jaringan fibrosa lalu akan menggantikan
kedudukan
jaringan
otot yang normal di dinding ureter sehingga terjadi kerusakan yang menetap.
C.
Manifestasi
Klinis
Pasien mungkin asimtomatik jika awitan
terjadi secara bertahap. Obstruksi akut dapat menimbulkan rasa sakit dipanggul
dan pinggang. Jika terjadi infeksi majadi suria, menggigil, demam dan nyeri
tekan serta piuria akan terjadi.
Hematuri
dan piuria mungkin juga ada. Jika kedua ginjal kena
maka tanda dan gejala gagal ginjal kronik akan muncul, seperti:
a. Hipertensi
(akibat retensi cairan dan natrium);
b. Gagal
jantung kongestif;
c. Perikarditis
(akibat iritasi oleh toksik uremi);
d. Pruritis
(gatal kulit);
e. Butiran
uremik (kristal urea pada kulit);
f. Anoreksia,
mual, muntah, cegukan;
g. Penurunan
konsentrasi, kedutan otot dan kejang;
h. Amenore,
atrofi testikuler.(Smeltzer dan Bare, 2002)
D.
Patofisiologi
Obstruksi pada aliran normal urin menyebabkan
urin mengalir balik, sehingga tekanan di ginjal meningkat. Jika obstruksi
terjadi di uretra atau kandung kemih, tekanan balik akan mempengaruhi kedua
ginjal, tetapi jika obstruksi terjadi di salah satu ureter akibat adanya batu
atau kekakuan maka hanya satu ginjal saja yang rusak. Obstruksi parsial atau
intermiten dapat disebabkan oleh batu renal yang terbentuk di piala
ginjal tetapi masuk ke ureter dan menghambatnya.
Obstruksi dapat diakibatkan oleh
tumor yang menekan ureter atau berkas jaringan parut akibat abses atau
inflamasi dekat ureter dan menjepit saluran tersebut.
Gangguan dapat sebagai akibat dari
bentuk abnormal di pangkal ureter atau posisi ginjal yang salah, yang menyebabkan
ureter berpilin atau kaku. Pada pria lansia, penyebab tersering adalah obstruksi
uretra pada pintu kandung kemih akibat pembesaran prostat.
Hidronefrosis juga dapat terjadi pada kehamilan akibat pembesaran uterus. Adanya
akumulasi urin di piala ginjal akan menyebabkan distensi piala dankaliks
ginjal. Pada saat ini atrofi ginjal terjadi. Ketika salah satu ginjal sedang mengalami
kerusakan bertahap, maka ginjal yang lain akan membesar
secara bertahap (hipertropi kompensatori), akhirnya fungsi renal terganggu (Smeltzer danBare,
2002)
E.
Komplikasi
Jika hidronefrosis tetap tidak diobati,
peningkatan tekanan di dalam ginjal bisa menurunkan kemampuan ginjal untuk
menyaring darah, mengeluarkan produk sampah,
dan membuat urin serta mengatur elektrolit dalam tubuh. Hidronefrosis bisa
menyebabkan infeksi ginjal (pyelonephrosis) gagal ginjal, sepsis, dan dalam beberapa
kasus, ginjal kehilangan fungsi atau kematian. Fungsi ginjal akan mulai menurun
segera dengan timbulnya hidronefrosis
tetapi reversibel jika tidak menyelesaikan pembengkakan. Biasanya ginjal sembuh
dengan baik bahkan jika ada halangan berlangsung hingga
6 minggu.
F.
Penatalaksanaan
dan pengobatan
Tujuannya adalah untuk mengaktivasi dan
memperbaiki penyebab dari hidronefrosis (obstruksi, infeksi) dan untuk
mempertahankan dan melindungi fungsi ginjal. Untuk mengurangi obstruksi urin
akan dialihkan melalui tindakan nefrostomi atau tipe disertasi lainnya. Infeksi
ditangani dengan agen anti mikrobial karena sisa urin dalam kaliks akan
menyebabkan infeksi dan pielonefritis. Pasien disiapkan untuk pembedahan mengangkat lesi obstrukstif (batu, tumor, obstruksi ureter).
Jika salah satu fungsi ginjal rusak
parah dan hancur maka nefrektomi (pengangkatan ginjal) dapat dilakukan (Smeltzer
dan Bare, 2002)
Pengobatan
a) Hidronefrosis akut
1. Jika
fungsi ginjal telah menurun, infeksi menetap atau
nyeri yang hebat, maka air kemih yang terkumpul diatas penyumbatan
segera dikeluarkan (biasanya melalui sebuah jarum yang dimasukkan melalui
kulit)
2. Jika
terjadi penyumbatan total, infeksi yang serius atau
terdapat batu, maka bisa dipasang kateter pada pelvis renalis untuk
sementara waktu
b) Hidronefrosis
kronik
1. Diatasi dengan mengobati penyebab dan mengurangi penyumbatan air
kemih
2. Ureter
yang menyempit atau abnormal bias diangkat melalui pembedahan
dan ujung-ujungnya disambungkan kembali
3. Dilakukan
pembedahan untuk membebaskan ureter dari jaringan fibrosa. Jika
sambungan ureter dan kandung kemih tersumbat, maka
dilakukan pembedahan untuk melepaskan ureter dan menyambungkannya kembali
di sisi kandung kemih yang berbeda
G.
Pemeriksaan
penunjang
Pemeriksaan yang dapat
dilakukan yaitu :
1. Adanya
massa di daerah antara tulang rusuk dan tulang pinggul, terutama
jika ginjal sangat membesar.
2. USG, memberikan gambaran ginjal, ureter dan kandung kemih
3. Urografi intravena, bisa menunjukkan aliran air kemih melalui ginjal
4. Sistoskopi, bisa melihat kandung kemih secara langsung
5. LaboratoriumPemeriksaan
darah bisa menunjukkan adanya kadar urea karena ginjal tidakmampu membuang
limbah metabolik.
ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
·
Biodata :
Nama :
Umur :
Jenis kelamin :
Jenis kelamin bisa untuk identifikasi penyebab misalnya
pada pria lansia penyebab tersering ialah akibat obstruksi uretra
pada pintu kandungkemih akibat pembesaran prostat. Pada perempuan hamil bisa
terjadiakibat pembesaran uterus.
Pekerjaan :
·
Keluhan utama
Gejala yang sering menyebabkan
penderita datang ke tempat pelayanan kesehatan.
·
Riwayat penyakit sekarang
Penyakit yang dialami sekarang yang
menyebabkan penderita dating ke tempat pelayanan kesehatan.
·
Riwayat penyakit dahulu
Apakah
penderita pernah mengalami penyakit yang sama pada masa lalu.
·
Riwayat penyakit keluarga
Apakah ada anggota keluarga yang
memiliki penyakit yang sama dengan penderita.
Pola pengkajian
fungsional Gordon :
1.
Pola persepsi-Managemen kesehatan
Jarang malakukan olahraga dalam
memelihara kesehatan.
2.
Pola nutrisi-metabolik
Penurunan
berat badan karena malnutrisi, anoreksia, mual, muntah.
3.
Pola eliminasi
Penurunan frekuensi, oliguri, anuri, perubahan warna
urin
4.
Pola latihan-aktivitas
Kelelahan, kelemahan, malaise
5.
Pola kognitif perseptual
Nyeri abdomen, nyeri tulang rusuk dan tulang panggul, gelisah, distraksi
tergantung derajat keparahan. Peningkatan tekanan
darah, kulit hangat dan pucat.
P (Provocating/pencetus)→adanya obstruksi
Q (Quality/karakteristik)→Nyeri
yang dirasakan bersifat tajam
R (Region/tempat/area/bagian)→pada
bagian visceral (dalam)
S (Severity/keperahan
nyeri)→Nyeri sedang hingga berat
T (Time/waktu/durasi)→Nyeri hilang
timbul
6.
Pola istirahat-tidur
Kurang tidur/gangguan tidur karena
sering merasakan nyeri
7.
Pola konsep diri-persepsi diri
Merasa cemas dengan penyakitnya, Kurangnya pengetahuan, gangguan body image.
8.
Pola peran dan hubungan
Tidak mampu bekerja, tidak mampu menjalankan peran
seperti biasa.
9.
Pola reproduksi/seksual
Pada pasien hidronefrosis terganggu
pola reproduksinya akibat penyakitnya.
10. Pola pertahanan diri (Koping-Toleransi stress)
Merasa stress dengan penyakit
yang dialami
11. Pola keyakinan dan nilai
Tidak ada gangguan pada pola
keyakinan dan nilai
2.
Diagnosa
1.
Nyeri akut (00132) berhubungan
dengan agens cedera (obstruksi akut) ditandai dengan melaporkan nyeri secara
verbal, wajah tampak meringis, gelisah
2.
Gangguan eliminasi urine
(00016) berhubungan dengan abstruksi anatomic (penyempitan ureter/uretra)
ditandai dengan disuria
3.
Ketidakseimbangan nutrisi
kurang dari kebutuhan tubuh (00002) berhubungan dengan ketidakmampuan untuk
mengabsorbsi nutrient ditandai dengan anoreksia, mual muntah
4.
Hipertermi (00007) berhubungan
dengan penyakit (proses infeksi) ditandai dengan kulit terasa hangat,
peningkatan suhu diatas kisaran normal
3. Intervensi Keperawatan
|
No.
|
Diagnosa
|
Tujuan & KH
|
Intervensi
|
Rasional
|
|
1.
|
Nyeri akut
(00132)
Definisi :
Pengalaman sensori dan emosi yang tidak menyenangkan
akibat adanya kerusakan jaringan yang aktual atau potensial, atau digambarkan
dengan istilah seperti (International Association for the Study of Pain);
awitan yang tiba-tiba atau perlahan dengan intensitas ringan sampai berat
dengan akhir yang dapat diantisipasi atau dapat diramalkan dan durasinya
kurang dari enam bulan.
Faktor yang
berhubungan :
agens cedera
(obstruksi akut)
Batasan
karakteristik :
·
Melaporkan nyeri secara
verbal
·
Wajah tampak meringis
· Gelisah
P (Provocating/pencetus)→adanya obstruksi
Q (Quality/karakteristik)→Nyeri yang dirasakan bersifat tajam
R (Region/tempat/area/bagian)→pada bagian visceral (dalam)
S (Severity/keperahan nyeri)→Nyeri sedang hingga berat
T (Time/waktu/durasi)→Nyeri hilang timbul
|
Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama
3x24 jam, diharapkan nyeri klien teratasi.
Kriteria hasil :
·
Klien mengungkapkan
nyerinya berkurang dengan
·
Skala nyeri ringan
(0-3)
·
Wajah klien tampak
tenang
·
TTV klien dalam batas
normal
|
1.Observasi TTV klien
2.Kaji nyeri yang
komprehensif meliputi skala nyeri (0-10),
lokasi, karakteristik, awitan dan durasi, frekuensi, kualitas,
intensitas, atau keparahan nyeri, dan faktor presipitasinya.
3.Bantu pasien
mengidentifikasi tindakan kenyamanan yang efektif dimasa lalu, seperti,
distraksi, relaksasi, atau kompres hangat/dingin
4.Berikan informasi
tentang nyeri, seperti penyebab nyeri, berapa lama akan berlangsung, dan
antisipasi ketidaknyamanan akibat prosedur.
5.Kolaborasi :
Berikan obat analgetik.
|
1.
Untuk mengetahui
tanda-tanda vital klien
2.
Untuk mengetahui
tingkat keparahan nyeri klien
3.
Untuk mengidentifikasi
tindakan kenyamanan yang sesuai dengan klien
4.
Agar menghindari
kecemasan
terhadap penyakit
5.
Untuk menghilangkan
rasa nyeri
|
|
2.
|
Gangguan
eliminasi urine (00016)
Definisi :
Disfungsi
pada eliminasi urin
Faktor yang berhubungan :
Obstruksi
anatomik (penyempitan ureter/uretra)
Batasan
karakteristik :
·
Disuria
·
Oliguri
|
Setelah
dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan masalah gangguan
eliminasi urin dapat teratasi.
Kriteria
hasil :
·
Klien tidak terjadi disuria saat berkemih
·
Klien mampu berkemih dengan optimal
|
1.Pantau eliminasi urin,meliputi
frekuensi,konsistensi,bau,volume,dan warna urin
2.Mempertahankan pola eliminasi urin
yang optimal
3.Ajarkan pasien tentang tanda dan
gejala infeksi saluran kemih
4.Ajarkan pasien untuk minum 200 ml
cairan pada saat makan,diantara waktu makan dan diawal petang
5.
Rujuk ke dokter jika terdapat gejala infeksi saluran kemih
|
1.Untuk mengetahui
frekuensi,konsistensi,bau,volume serta warna urin klien
2.Menjaga agar eliminasi urin klien
tetap stabil dan normal
3.Untuk menambah pengetahuan klien
tentang tanda dan gejala infeksi saluran kemih
4.Supaya kebutuhan cairan klien
terpenuhi
5.Agar dapat ditangani oleh dokter
dan terhindar dari tanda dan gejala infeksi
|
|
3.
|
Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh (00002)
Definisi :
Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan
metabolik
Faktor berhubungan
:
Ketidakmampuan
untuk mengabsorbsi nutrient Batasan karakteristik :
·
Anoreksia
·
Mual dan muntah
|
Setelah
dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam, di harapkan ketidakseimbangan
nutrisi teratasi Kriteria hasil:
·
Nafsu makan
klien meningkat
·
Mual dan muntah
pada klien berkurang/hilang
|
1.Timbang berat badan setiap hari
2.Buat pilihan menu yang ada dan ijinkan pasien untuk mengontrol pilihan
sebanyak mungkin
3.Beri porsi makan kecil tapi sering
4.Berikan informasi yang tepat tentang kebutuhan nutrisi dan bagaimana
memenuhinya
5.Kolaborasi :
Berikan obat antiemetik
|
1.
Memberikan informasi
tentang keadaan masukan diet atau penentuan kebutuhan nutrisi
2.
Untuk membuat klien
meningkat kepercayaan dirinya dan merasa mengontrol lingkungan lebih suka
menyediakan makanan untuk dimakan
3. Memenuhi nutrisi klien
4.
Menambah pengetahuan untuk pemenuhan nutrisi
5.
Untuk mengurangi mual dan muntah
|
|
4.
|
Hipertermi
(00007)
Definisi :
Peningkatan suhu tubuh di atas kisaran normal
Faktor yang berhubungan :
Penyakit (proses infeksi)
Batasan karakteristik :
·
Kulit terasa hangat
·
Peningkatan suhu diatas
kisaran normal
|
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam di
harapkan suhu tubuh klien kembali normal
Kriteria hasil:
·
Suhu tubuh klien normal (36,5-37,2C)
·
Warna dan suhu kulit kembali
|
1.Pantau suhu tubuh minimal 2 jam sekali
2.Pantau warna kulit dan suhu tubuh
3.Anjurkan asupan cairan oral sedikitnya 2L
sehari
4. Ajarkan klien atau keluarga dalam mengukur
suhu
5.Kolaborasi berikan obat antipiretik
|
1.Untuk mengetahui suhu tubuh klien
2.Agar mengetahui warna kulit klien
3.Untuk megoptimalkan asupan cairan klien
4.Untuk mempermudah dalam pengukuran suhu tubuh dirumah
5.Untuk menurunkan suhu tubuh
|
2. Uraikan
mekanisme terjadi nyeri pada pinggang kanan yang menjalar ke perut pada kasus
Tn.L ! Della
Jawaban :
3. Uraikan
mekanisme mual dan muntah pada kasus hidronefrosis ! Yeni
Jawaban :
Invasi bakteri pada parenkim ginjal
memberikan manisfestasi peradangan,sehingga menyebabkan iritasi pada buli-buli
dan terjadinya reflex reno intestinal , menurunkan aktivitas fungsional lambung
(hipotonisitas,hipoperistaltis,hiposekresi) dan berubahnya motilitas usus kecil
karena adanya tekanan.kontraksi anuler pylorus lambung menghasilkan ekspulsi
isi lambung kedalam esophagus ,peningkatan tekanan intratorakal mengakibatkan
gerakan lebih lanjut isi lambung kedalam mulut,Meningkatnya reflex palatum
durum selama kerja muntah mencegah masuknya
makanan kedalam mulut (mual).
4. Mengapa
pasien hidronefrosis terjadi demam, air
kencing keruh dan oliguri ? Nopi
Jawaban :
Gangguan
alirann urine
Tekanan
ureter meningkat
Laju
filtrasi glomerulus menurun
Kemampuan
tubulus ginjal untuk menghantar natrium kalium dan proton menurun
Urine
tidak dapat dicairkan
Urine
menjadi keruh
5. Interpretasikan
pemeriksaan fisik inspeksi , perkusi , palpasi dan auskultasi pada kasus ! Umi
Dan samsu
Jawaban :
1.
Inspeksi
Pemeriksa melatih dirinya untuk melihat tubuh dengan menggunakan pendekatan sistematik. Sementara melakukan anamnesis, pemeriksa memperhatikan hal-hal tertentu mengenai pasiennya :
Pemeriksa melatih dirinya untuk melihat tubuh dengan menggunakan pendekatan sistematik. Sementara melakukan anamnesis, pemeriksa memperhatikan hal-hal tertentu mengenai pasiennya :
·
Penampilan umum
·
Keadaan gizi
·
Habitus tubuh
·
Simetri
·
Sikap tubuh dan gaya berjalan
·
Cara berbicara
2.
Perkusi
Perkusi berkaitan dengan sensasi
taktil dan bunyi yang dihasilkan apabila suatu pukulan keras dilakukan pada
suatu daerah yang diperiksa. Misalnya : perkusi bunyi pekak digaris tengah
perut bawah mungkin menunjukkan kandung kemih yang terdistensi.
3.
Palpasi
Palpasi merupakan
pemeriksaan dengan indera peraba yaitu tangan untuk menentukan ketahanan,
kekenyalan, kekerasan, tekstur, dan mobilitas. Palpasi membutuhkan kelembutan
dan sensitivitas. Untuk itu hendaknya menggunakan permukaan palmar jari, yang
dapat digunakan untuk mengkaji posisi, tekstur, konsistensi, bentuk massa dan
pusasi. Pada telapak tangan dan permukaan ulnar tangan lebih sensitive pada
getaran. Sedangkan untuk mengkaji temperature hendaknya menggunakan bagian
belakang tangan dan jari.
4.
Auskultasi
Auskultasi merupakan
pemeriksaan dengan mendengarkan bunyi yang dihasilkan oleh tubuh melalui
stetoskop. Dalam melakukan auskultasi , beberapa hal yang perlu didengarkan
diantaranya :
·
Frekuensi
atau siklus gelombang bunyi
·
Kekerasan
atau amplitude bunyi
·
Kualitas
dan lamanya bunyi
6. Apa
tujuan pemeriksaan BNO-PIV ? Tina
Jawaban :
Untuk
mendapatkan gambaran radiografi dari letak anatomi dan fisiologi serta
mendeteksi kelainan patologis dari ginjal, ureter dan blass.
Biasanya
indikasi pemeriksaan ini adalah batu ginjal. Pemeriksaan kompleksnya adalah BNO
IVP yang menggunakan media kontras. Tujuan dari persiapan BNO adalah untuk
membersihkan rongga abdomen dari udara dalam usus yang dapat mengganggu
gambaran foto BNO. Persiapan yang dilakukan yaitu puasa dari malam sebelum
pemeriksaan, meminum obat pencahar, dan tidak banyak bicara dan tidak merokok
selama sebelum pemeriksaan.
7. Buatlah
pengkajian , analisa data dasar dan diagnose keperawatan ! Nopi Mauren
Jawaban :
§ Pengkajian
Nama :
Tn.L
Umur : 57
thn
Jenis kelamin :Laki-laki
Keluhan utama :
Nyeri pinggang kanan
Diagnosa Medis :
Hidronefrosis
Riwayat
kesehatan
1.
Riwayat
kesehatan sekarang : Nyeri pinggang kanan. Nyeri hilang
timbul dan menjalar ke perut dan tidak dipengaruhi mobilitas fisik
2.
Riwayat
kesehatan dahulu : Klien mengaku 4
bulan yang lalu sering mengalami nyeri yang sama dan nyeri hilang setelah
diberikan obat penghilang rasa nyeri dari dokter. Klien juga
mengeluh mual dan muntah sekitar 4-5 kali sejak 1 hari yang lalu dan demam
serta air kencingnya keruh dan oliguri (+) dengan jumlah sekitar 400 ml/24 jam.
3.
Riwayat
kesehatan keluarga : Istri
klien mengatakan orang tua klien juga pernah menderita batu ginjal dan riwayat
hipertensi (+)
Pemeriksaan
Fisik :
-
Gelisah
dan tampak meringis dan nyeri kolik (+)
-
TTV
:TD = 160/100 mmHg ; HR= 102 x/menit ; RR = 28x menit ; suhu = 38,70c
-
Abdomen
: inspeksi = flatuensi (+) , palpasi : nyeri tekan kuadran kanan atas (+) ,
perkusi : timpani pada abdomen dan nyeri ketok CVA dextra (+) , auskultasi :
bising usus menurun
Pemeriksaan Laboratorium :
Hb
= 14 gr/dl, leukosit = 15.000/mm3, ureum = 24 mg/dl , creatinin =
2,5 mg/dl.
Pemeriksaan BNO-PIV :
Tampak bayangan
radio opak lumbal III dextra , fungsi ginjal masih baik namum terdapat hidronefrosis
rend extra grade II
§ Analisa
Data Dasar
|
No.
|
Data Fokus
|
Etiologi
|
Masalah keperawatan
|
|||||||||||||||
|
1.
|
DS:
-
Klien
mengeluh nyeri pinggang kanan , nyeri hilang timbul menjalar sampai ke perut
-
Klien
mengaku 4 bulan yang lalu sering mengalami nyeri yang sama dan nyeri hilang setelah
diberikan obat penghilang rasa nyeri dari dokter
-
Klien
mengatakan nyeri dirasakan bertambah berat dalam 2 hari ini dan tidak
menghilang dengan obat yang biasa dimakan
DO:
-
Gelisah
dan tampak meringis
-
Nyeri
kolik (+)
-
TD
= 160/100 mmHg ; HR= 102 x/menit ; RR = 28x menit
-
Abdomen
: palpasi : nyeri tekan kuadran kanan atas (+) , perkusi : timpani pada
abdomen dan nyeri ketok CVA dextra (+)
|
Infeksi
pada uretra, tumir atau neoplasma disekitar uretra dan ureter
Peradangan
Terbentuknya
jaringan perut
Obstruksi
sebagian dan total aliran urine
Obstruksi
akut pada sudut ginjal posterior
Kolik
renalis/ nyeri pinggang
Nyeri akut
|
Nyeri Akut (00132)
|
|||||||||||||||
|
2.
|
DS:
-
Klien
mengeluh air kencing keruh dan
oliguria
DO:
-
Oliguri
(+) dengan jumlah sekitar 400 ml/24 jam.
|
Infeksi
pada uretra, tumor atau neoplasma disekitar uretra dan ureter
Peradangan
Terbentuknya
jaringan perut
Obstruksi
sebagian dan total aliran urine
Urine
yang keluar sedikit demi sedikit karena adanya penyempitan ureter/uretra
Gangguan eliminasi urine
|
Gangguan eliminasi urine (00016)
|
|||||||||||||||
|
3.
|
DS:
-
Klien
mengeluh demam
DO:
-
S
: 38 C
-
Leukosit
= 15.000/mm3
|
Infeksi
pada uretra, tumir atau neoplasma disekitar uretra dan ureter
Infeksi/
peradangan
Metabolisme
meningkat
Penggeseran
set point dari titik normal di hipotalammus
Peingkatan
suhu tubuh
Hipertermia
|
Hipetermia ( 00007 )
|
§ Diagnose
Keperawatan
1)
Nyeri akut (00132) berhubungan dengan agen-agen cedera
fisik ditandai dengan klien mnegeluh
nyeri pinggang kanan , nyeri hilang timbul menjalar sampai ke perut .Gelisah
dan tampak meringis serta nyeri kolik (+)
2)
Gangguan eliminasi urine (00016) berhubungan dengan obstruksi anatomis
ditandai dengan klien mengeluh air
kencing keruh dan Oliguri (+) dengan jumlah sekitar 400 ml/24 jam
3)
Hipertermia (00007) berhubungan dengan peningkatan laju
metabolisme ditandai dengan klien mengeluh demam . S : 38 C dan leukosit =
15.000/mm3
8. Buatlah
renpra pada kasus Tn.L ! Andi
Jawaban :
|
No.
|
Diagnose Keperawatan
|
Tujuan dan KH
|
Intervensi
|
Rasional
|
|
1.
|
Nyeri akut (00132)
Defenisi :
Pengalaman sensori dan emosi tidak menyenangkan akibat adanya
kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau digambarkan dalam hal
kerusakan sedemikian rupa (internatioanl associaton for the study of pain ) ,
awitan yang tiba-tiba atau lambat dengan intensitas dari ringan hingga berat
, terjadi secara konstan atau berulang tanpa akhir yang dapat dianstipasi
atau diprediksi dan berlangsung < 6
bulan.
Faktor yang
berhubungan :
Agen-agen cedera fisik
Ditandai dengan
batasan karakteristik :
DS:
-
Klien
mengeluh nyeri pinggang kanan , nyeri hilang timbul menjalar sampai ke perut
-
Klien
mengaku 4 bulan yang lalu sering mengalami nyeri yang sama dan nyeri hilang
stelah diberikan obat penghilang rasa nyeri dari dokter
-
Klien
mengatakan nyeri dirasakan bertambah berat dalam 2 hari ini dan tidak
menghilang dengan obat yang biasa dimakan
DO:
-
Gelisah
dan tampak meringis
-
Nyeri
kolik (+)
-
TD
= 160/100 mmHg ; HR= 102 x/menit ; RR = 28x menit
-
Abdomen
: palpasi : nyeri tekan kuadran kanan atas (+) , perkusi : timpani pada
abdomen dan nyeri ketok CVA dextra (+)
|
Setelah tindakan keperawatan selama 3x 24 jam
diharapkan pasien dapat menunjukkan pengendalian nyeri, dibuktikan dengan
kriteria hasil :
-
Nyeri yang
dirasakan pasien berkurang dengan skala nyeri 1-3
-
Pasien tampak tenang
-
Nyeri kolik (-)
|
Pengkajian :
1. Kaji
tanda-tanda vital
2. Lakukan
pengkajian nyeri yang komperenshif meliputi lokasi, karakteristik, awitan,
durasi
Tindakan mandiri :
3. Berikan
lingkungan yang tenang dan nyaman .
Penyuluhan :
4. Ajarkan teknik relaksasi napas dalam/
distraksi kepada pasien
5. Berikan
informasi tentang nyeri, seperti penyebab nyeri, berapa lama akan berlangsung
dan antisipasi ketidaknyamanan akibat prosedur
Kolaborasi :
6. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat
analgesik sesuai kebutuhan
|
1. Untuk
mengetahui tanda-tanda vital pasien
2. Untuk
menilai tingkat nyeri pada pasien
3. Untuk
membantu pasien dalam beristirahat
4. Untuk
memberikan rasan nyaman kepada pasien
5. Memberikan
pengetahuan tambahan pada pasien dan keluarganya tentang nyeri
6. untuk
menurunkan nyeria yang dirasakan pasien
|
|
2.
|
Ganggauan Eliminasi Urine (00016)
Defenisi :
Disfungsi pada
eliminasi urine
Faktor yang berhubungan :
Obstruksi
anatomik
Ditandai dengan batasan
karakteristik :
DS:
-
Klien
mengeluh air kencing keruh dan oliguria
DO:
-
Oliguri
(+) dengan jumlah sekitar 400 ml/24 jam.
|
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan eliminasi urine
tidak terganggu
dibuktikan dengan
kriteria hasil :
-
Urine
tidak keruh
-
Frekuensi
urine normal
-
Oliguri
(-)
|
Pengkajian :
1. Pantau eliminasi urine meliputi
frekuensi , konsistensi , bau , volume dan warna
Tindakan Mandiri :
2. Anjurkan pasin untuk megkonsumsi
air putih sebanyak mungkin
Health Education :
3.
Instruksikan kepada pasien dan keluarga untuk mencatat
haluaran urine
4.
Instruksikan pasien untuk berespon segera terhadap
kebutuhan eliminasi
Kolaborasi
:
5. Kolaborasi dalam pemberian terapi
intravena
|
1.
Untuk mengetahui bau , warna , frekuensi dan volume urine pasien
2.
Untuk menetralkan warna urine pasien
3.
Agar pasien dan keluarga juga dapat mengetahui
perkembangan eliminasi urine dari pasien
4.
Agar mempertahankan pola eliminasi urine yang optimum
5.
Untuk mengembalikan kenormalan warna urine
|
|
3.
|
Hipertermia (00007)
Defenisi :
Peningkatan suhu
tubuh di atas kisaran normal
Faktor yang berhubungan :
Peningkatan laju
metabolisme
Ditandai dengan batasan karakteristik
:
DS:
-
Klien
mengeluh demam
DO:
-
S
: 38 C
-
Leukosit
= 15.000/mm3
|
Setelah dilakukan
tindakan keperawatan selama 3x24 jam hipertermia dapat teratasi dibuktikan
dengan kriteri hasil :
-
Suhu
tubuh klien kembali normal (36,5-370c)
|
Pengkajian :
1.
Pantau
suhu tubuh sesering mungkin
Tindakan mandiri :
2.
Gunakan
waslap dingin pda aksila pasien
Health Education :
3.
Ajarkan
pasien/ keluarga dalam mengukur suhu tubuh untuk mencegah dan mengenali
secara dini hipertermia
Kolaboratif :
4.
Kolaborasi
dengan dokter dalam pemberian obat antipiretik
|
1.
Untuk
mengetahui suhu tubuh klien secara bertahap
2.
Untuk
menurunkan suhu tubuh klien
3.
Agar
pasien/ keluarga mengerti cara mengukur suhu tubuh dan dapa menegnal hipertermia
secara dini
4.
Untuk
mencapai suhu tubuh dalam rentang normal
|
Langkah 4 :
Peta
Konsep Sementara
Langkah 5 :
«
Membuat Pertanyaann Tambahan
1.
Uraikan
patomekanisme terjadinya nyeri hilang timbul yang menjalar di bagian perut
pasien !
2.
Uraikan
patomekanise terjadinya nyeri kolik !
3.
Uraikan
patomekanisme terjadinya nyeri ketok CVA !
4.
Uraikan
patomekanisme terjadinya bising usus menurun !
Langkah 6 :
«
Menjawab Pertanyaan Tambahan
1. Uraikan
patomekanisme terjadinya nyeri hilang timbul yang menjalar di bagian perut
pasien !
Jawaban :
Nyeri
yang hilang timbul terjadi karena pengisian sementara pelvis renalis atau
karena penyumbatan sementara ureter akibat ginjal bergeser ke bawah sehingga
nyeri yang dirasakan merabat hingga ke
bagian perut.
2. Uraikan
patomekanise terjadinya nyeri kolik !
Jawaban :
Nyeri
kolik: terjadi karena aktivitas peristaltik otot polos sistem kalises ataupun
ureter meningkat dalam usaha untuk mengeluarkan batu saluran kemih. Peningkatan
peristaltik itu menyebabkan tekanan intraluminalnya meningkat sehingga terjadi
peregangan dari terminal saraf yang memberikan sensasi nyeri.
Batu di dalam kandung kemih bisa menyebabkan nyeri di
perut bagian bawah. Batu yang menyumbat ureter, pelvis renalis maupuntubulus
renalis bisa menyebabkan nyeri punggung atau kolik renalis (nyeri kolik yang
hebat). Kolik renalis ditandai dengan nyeri hebat yang hilang-timbul, biasanya
di daerah antara tulang rusuk dan tulang pinggang, yang menjalar ke perut,
daerah kemaluan dan paha sebelah dalam. Gejala lainnya adalah mual dan muntah,
perut menggelembung, demam, menggigil dan darah di dalam air kemih. Penderita
mungkin menjadi sering berkemih, terutama ketika batu melewati ureter. Batu
bisa menyebabkan infeksi saluran kemih.
3. Uraikan
patomekanisme terjadinya nyeri ketok CVA !
Jawaban :
CVA
adalah salah satu dari dua sudut yang menguraikan ruang atas ginjal. Sudut
dibentuk oleh kurva lateral dan ke bawah dari tulang rusuk terendah dan kolom
vertikal dari tulang belakang itu sendiri.
Nyeri
ketok CVA dextra (+) : pembesaran ginjal karena hidronefrosis
4. Uraikan
patomekanisme terjadinya bising usus menurun !
Jawaban :
Normalnya
6-12 kali per menit. Jika terjadi penurunan itu disebabkan oleh penurunan
peristaltik usus, frekuensinya lambat, bahkan sampai hilang, bisa dampak dari nyeri kolik. Impuls
nyeri tersebut selain melalui plexus renalis, juga melalu truncus sympathicus.
Akibatnya, akan terjadi perlambatan kerja usus (ileum) sehingga bising usus
juga menurun.
Langkah 7 :
Peta
Konsep Sempurna
DAFTAR PUSTAKA
Basuki, Purnomo. (2000). Dasar-Dasar
Urologi, Perpustakaan Nasional RI, Katalog Dalam Terbitan (KTD): Jakarta.
Hardjowidjoto, S. (2000). Hidronefrosis.
Airlangga University Press: Surabaya
NANDA 2012-2014. Diagnosis keperawatan Definisi dan
Klasifikasi. Penerbit Buku Kedokteran EGC,
Jakarta.
Judithy M. Wilkinson.
Nancy R. Ahern (2011). Buku saku
keperawatan. Diagnosa NANDA, Intervensi NIC. Kriteria hasil NOC. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Sjamsuhidayat, (2005). Buku Ajar
Ilmu Bedah. Edisi 2.Jakarta: EGC
Smeltzer, Suzanne C, Brenda G Bare.
(2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal BedahBrunner & Suddarth. Edisi
8 Vol 2. Jakarta : EGC.