Minggu, 13 Agustus 2017

TUTORIAL SISTEM PERKEMIHAN

Skenario 1

Seorang laki-laki berusia 65 tahun  datang ke rumah sakit dengan keluhan susah buang air kecil. Pada saat dilakukan pengkajian klien mengatakan sudah dioperasi pada 1 hari sebelumnya. Namun , sebelum dioperasi klien mengatakan pada saat klien ingin BAK susah keluar dan sangat lama kemudian air kemih yang dikeluarkan sedikit-sedikit dan terasa perih. Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan kondisi klien tampak lemah terbaring di tempat tidur dan tampak gelisah dengan nilai GCS (E=4, V=5, dan M=6). Klien mengatakan nyeri pada bagian suprapubis dengan skala nyeri 5 , seperti ditusuk-tusuk, klien mengaku nyerinya sedikit berkurang bila posisi tubuhnya terlentang. Klien tampak terpasang kateter, terpasang infuse pada tangan sebelah kiri dengan Ringer Laktat 20 tetes/menit, dan terpasang alat monitor dimana TD = 150/90 mmHg, RR=21 x/menit, HR= 84 x/menit , S=36,90c. Ada riwayat merokok selama kurang lebih 20 tahun. Namun , semenjak sakit klien berhenti merokok dan riwayat hipertensi (+).



Langkah 1:
§  Klarifikasi istilah-istilah penting
1.       GCS (Glasgow Coma Scale) adalah skala yang dipakai untuk menentukan/menilai tingkat kesadaran pasien, mulai dari sadar sepenuhnya sampai keadaan koma
2.      Suprapubis  : berada diatas tulang pubis
3.     Ringer laktat adalah larutan steril dari Kalsium klorida, Kalium klorida, Natrium klorida dan Natrium laktat dalam Air untuk injeksi.

§  Klarifikasi kata-kata kunci
1.      Seorang laki-laki berusia 65 tahun 
2.      Keluhan susah buang air kecil
3.      Pada saat dilakukan pengkajian klien mengatakan sudah dioperasi pada 1 hari sebelumnya
4.      Sebelum dioperasi klien mengatakan pada saat klien ingin BAK susah keluar dan sangat lama kemudian air kemih yang dikeluarkan sedikit-sedikit dan terasa perih
5.      Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan kondisi klien tampak lemah terbaring di tempat tidur dan tampak gelisah dengan nilai GCS (E=4, V=5, dan M=6)
6.      Klien mengatakan nyeri pada bagian suprapubis dengan skala nyeri 5 , seperti ditusuk-tusuk, klien mengaku nyerinya sedikit berkurang bila posisi tubuhnya terlentang
7.      Klien tampak terpasang kateter, terpasang infuse pada tangan sebelah kiri dengan Ringer Laktat 20 tetes/menit, dan terpasang alat monitor dimana TD = 150/90 mmHg, RR=21 x/menit, HR= 84 x/menit , S=36,90c
8.      Ada riwayat merokok selama kurang lebih 20 tahun. Namun , semenjak sakit klien berhenti merokok dan riwayat hipertensi (+)


Langkah 2 :
§  Masalah Utama
Benigna Hiperplasia Prostat

§  Membuat pertanyaan penting
1.      Mengapa pada laki-laki umumnya usia diatas 45 tahun sering mengalami penyakit BPH ?
2.      Uraikanlah mekanisme susah buang air kecil pada kasus Tn. L ! 
3.      Operasi apa yang dilakukan pada penderita BPH pada umumnya ?
4.      Bagaimana interpretasi dari GCS pada kasus Tn.L ?
5.      Uraikan mekanisme nyeri pada suprapubis ! Samsu Alang
6.      Apa hubungan anatara nyeri yang diarasakan engan posisi tubuh terlentang ? 
7.      Apa hubungan antara merokok dengan BPH pada kasus !
8.      Apa hubungan BPH dengan hipertensi ?
9.      Buatlah pengkajian , analisa data dasar dan diagnose keperawatan !  Andi Aswandi
10.  Buatlah renpra pada kasus Tn.L ! Nopi Dan mauren



Langkah 3 :
Menjawab Pertanyaan Penting
1.      Mengapa pada laki-laki ummnya usia diatas 45 tahun sering mengalami penyakit BPH ?
Jawaban :
Pada usia terjadi kelemahan umum termasuk kelemahan umum kelemahan pada buli (otot detrusor) dan penurunan fungsi persarafan. Perubahan karena pengaruh usia tua menurunkan kemampuan buli dalam mempertahanakan aliran urin pada proses adaptasi oleh adanya obstruksi karena pembesaran prostat . sehingga menimbulkan gejala.

2.      Uraikanlah mekanisme susah buang air kecil pada kasus Tn. L ! 
Jawaban :
Tekanan pada kandung kemih dan urethra ketika kelenjar prostat mengalami pembesaran dan menyebabkan penyempitan/tersumbatnya pada urethra sehingga menyebabkan si penderita susah buang air kecil .

3.      Operasi apa yang dilakukan pada penderita BPH pada umumnya ?
Jawaban :
Operasi yang bisa dilakukan adalah TURP. TURP  adalah suatu operasi pengangkatan jaringan prostat lewat uretra menggunakan resektroskop, dimana resektroskop merupakan endoskop dengan tabung 10-3-F untuk pembedahan uretra yang dilengkapi dengan alat pemotong dan counter yang disambungkan dengan arus listrik. Tindakan ini memerlukan pembiusan umum maupun spinal dan merupakan tindakan invasive yang masih dianggap aman dan tingkat morbiditas minimal.  

4.      Uraikan mekanisme nyeri pada suprapubis !
Jawaban :
Mekanisme nyeri pada suprapubis:
Proses menua


 
Ketidakseimbangan hormone


 
Hiperplasia pada epitel dan stroma pada kelenjar prostat


 
BPH (benigna prostat hyperplasia)


 
Penyempitan lumen uretra pars prostatika


 
Bendungan vesika urinarius


 
Peningkatan tekanan intra vesika


 
Peningkatan kontraksi otot suprapubik


 
Tekanan mekanis , merangsang nosisseptor


 
Pengeluaran mendiator kimia (Br)

Dihantarkan oleh serabut saraf AB dan serabut saraf C


 
Nyeri dipersepsikan


 
Nyeri suprapubik

5.      Apa hubungan antara nyeri yang diarasakan engan posisi tubuh terlentang ? 
Jawaban :
Tidur telentang dengan kedua lengan berada di samping umumnya dianggap sebagai posisi tidur terbaik untuk kesehatan tulang belakang dan leher, asalkan Anda tidak menggunakan terlalu banyak bantal. Posisi ini sangat bagus untuk menyeimbangkan berat badan Anda serta menjaga organ dalam tubuh agar tetap selaras. Nyeri leher dan punggung juga bisa dicegah dengan posisi ini. Lebih ideal lagi bila meletakkan  bantal di bawah lutut sebagai pengganjal untuk membantu menjaga keselarasan punggung. Pada orang tertentu terutama dengan riwayat sensitif hidung,  posisi telentang cenderung lebih mudah mendengkur dibandingkan orang yang tidur dengan posisi lain.

6.      Apa hubungan antara merokok dengan BPH pada kasus !
Jawaban :
Seorang peneliti bernama dr. Edward harahap,Sp.U mengatakan bahwa banyak racun yang terkandung dalam rokok dan dampak negatifnya bagi kesehatan.Zat –zat yang terkandung dalam rokok ini tidak langsung memberikan efek samping, tetapi dampak merokok akan di rasakan pada saat usia lanjut. Berhubungan dengan kasus yang di alami Tn “L “ Tn L mepunyai riwayat merokok selama 20 tahun,dan akibat dari merokok ini Tn L merasakannya di usia tuanya yaitu mengalami susah buang air kecil. Zat yang terkandung dalam rokok ini mengakibatkan kerusakan atau pembengkakan pada kelenjar prostat sehingga fungsi prostat terganggu.

7.      Apa hubungan BPH dengan hipertensi ?
Jawaban :
Rokok mengandung 4.000 racun kimia. Salah satu racun yang sangat berbahaya adalah Nikotin. Nikotin ini akan merusak lapisan dalam dinding arteri, dan juga mengakibatkan penurunan kerja jantung . Nikotin   juga dapat mengakibatkan  penurunan fungsi ginjal.Salah satu fungsi ginjal adalah memproduksi enzim angiotensinogen menjadi angiotensin II yang menyebabkan pembuluh darah mengkerut /menjadi keras dan mengakibatkan terjadinya Hipertensi.

8.      Buatlah pengkajian , analisa data dasar dan diagnose keperawatan ! 
Jawaban :
§  Pengkajian
Nama                           : Tn.L
Umur                           : 57  thn
Jenis kelamin               :Laki-laki
Keluhan utama            : Susah buang air kecil
Diagnosa Medis          : Benigna Prostat Hiperplasia

Riwayat kesehatan
1.      Riwayat kesehatan sekarang :  Susah buang air kecil. Pada saat dilakukan pengkajian klien mengatakan sudah dioperasi pada 1 hari sebelumnya
2.      Riwayat kesehatan dahulu : Namun , sebelum dioperasi klien mengatakan pada saat klien ingin BAK susah keluar dan sangat lama kemudian air kemih yang dikeluarkan sedikit-sedikit dan terasa perih
3.      Riwayat kesehatan keluarga : Ada riwayat merokok selama kurang lebih 20 tahun. Namun , semenjak sakit klien berhenti merokok dan riwayat hipertensi (+).

Pemeriksaan Fisik :
-          Klien tampak lemah terbaring di tempat tidur dan tampak gelisah dengan nilai GCS (E=4, V=5, dan M=6)
-          Klien mengatakan nyeri pada bagian suprapubis dengan skala nyeri 5 , seperti ditusuk-tusuk, klien mengaku nyerinya sedikit berkurang bila posisi tubuhnya terlentang
-          Klien tampak terpasang kateter, terpasang infuse pada tangan sebelah kiri dengan Ringer Laktat 20 tetes/menit, dan terpasang alat monitor
-          TTV : TD = 150/90 mmHg, RR=21 x/menit, HR= 84 x/menit , S=36,90c

§  Analisa Data Dasar
No.
Data Fokus
Etiologi
Masalah Keperawatan
1.
DS :
-         Klien mengatakan nyeri pada bagian suprapubis, seperti ditusuk-tusuk
-         Klien mengaku nyerinya sedikit berkurang bila posisi tubuhnya terlentang

DO :
-         Skala nyeri 5
-         Klien tampak gelisah
-         TD = 150/90 mmHg
-         HR= 84 x/menit

Proses menua


 
Ketidakseimbangan hormone


 
Hiperplasia pada epitel dan stroma pada kelenjar prostat


 
BPH (benigna prostat hyperplasia)

Penyempitan lumen uretra pars prostatika


 
Bendungan vesika urinarius


 
Peningkatan tekanan intra vesika


 
Peningkatan kontraksi otot suprapubik


 
Tekanan mekanis , merangsang nosisseptor


 
Pengeluaran mendiator kimia (Br)
 

Dihantarkan oleh serabut saraf AB dan serabut saraf C


 
Nyeri dipersepsikan
 

Nyeri Akut
Nyeri akut (00132)
2.
DS :
-         Klien mengatakan susah buang air kecil
-         Klien mengatakan pada saat klien ingin BAK susah keluar dan sangat lama kemudian air kemih yang dikeluarkan sedikit-sedikit dan terasa perih

DO :
-         Klien terpasang kateter
Proses menua


 
Ketidakseimbangan hormone


 
Hiperplasia pada epitel dan stroma pada kelenjar prostat


 
BPH (benigna prostat hyperplasia)

Penyempitan lumen uretra pars prostatika


 
Bendungan vesika urinarius


 
Peningkatan tekanan intra vesika


 
Hipertrofi otot detrusor , trabekulasi


 
Terbentuknya , selula , sekula dan divertikal buli-buli


 
Lower urinary tract syndrome


 
Gejala obstruktif (susah buang air kecil , urine dikeluarkan sedikit-sedikit)

Gangguan eliminasi urine
Ganggaun eliminasi urine (00016)
3.
DS :

DO :
-         Klien tampak lemah terbaring di tempat tidur
-         Klien terpasang kateter
-         Terpasang infuse pada tangan sebelah kiri dengan Ringer Laktat 20 tetes/menit,
-         Terpasang alat monitor
Proses menua


 
Ketidakseimbangan hormone


 
Hiperplasia pada epitel dan stroma pada kelenjar prostat


 
BPH (benigna prostat hyperplasia)

Penyempitan lumen uretra pars prostatika


 
Bendungan vesika urinarius


 
Tindakan pembedahan


 
Terpasang kateter dan alat monitor
 

Penurunan kekuatan otot pasien


 
Hambatan Mobilitas Fisik
Hambatan Mobilitas Fisik (00085)

§  Diagnose Keperawatan
1.      Nyeri akut (00132) berhubungan dengan agen-agen cedera fisik ditandai dengan klien mengatakan nyeri pada bagian suprapubis, seperti ditusuk-tusuk dengan skala nyeri 5
2.      Gangguan eliminasi urine (00016) berhubungan dengan obstruksi anatomik ditandai dengan klien mengatakan susah buang air kecil. Klien terpasang kateter
3.      Hambatan mobilitas fisik (00085) berhubungan dengan penurunan kekuatan otot ditandai dengan Klien tampak lemah terbaring di tempat tidur dan klien terpasang kateter

9.      Buatlah renpra pada kasus Tn.L !
Jawaban :
No.
Diagnose Keperawatan
Tujuan dan KH
Intervensi
Rasional
1.
Nyeri akut (00132)
Defenisi :
Pengalaman sensori dan emosi tidak menyenangkan akibat adanya kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau digambarkan dalam hal kerusakan sedemikian rupa (internatioanl associaton for the study of pain ) , awitan yang tiba-tiba atau lambat dengan intensitas dari ringan hingga berat , terjadi secara konstan atau berulang tanpa akhir yang dapat dianstipasi atau diprediksi dan berlangsung  < 6 bulan.

Faktor yang berhubungan :
Agen-agen cedera fisik

Ditandai dengan batasan karakteristik :
DS :
-         Klien mengatakan nyeri pada bagian suprapubis, seperti ditusuk-tusuk
-         Klien mengaku nyerinya sedikit berkurang bila posisi tubuhnya terlentang

DO :
-         Skala nyeri 5
-         Klien tampak gelisah
-         TD = 150/90 mmHg
-         HR= 84 x/menit

Provocating :
Pasien mengatakan nyeri pada bagian suprapubis
Quality :
Nyerinya seperti tertusuk-tusuk
Region :
Viseral ( nyeri pada bagian perut bagian bawah )
Severity :
Tingkat nyeri yang dirasakan 5 (nyeri sedang)
Time :
Nyeri yang dirasakan hilang timbul dan durasi nyerinya cepat sekitar 5 menit  dan nyeri terjadi saat mau berkemih
Setelah tindakan keperawatan selama 3x 24 jam diharapkan pasien dapat menunjukkan pengendalian nyeri, dibuktikan dengan kriteria hasil :
-          Nyeri yang dirasakan pasien berkurang dengan skala nyeri 1-3
-          Pasien tampak tenang

Pengkajian :
1.    Kaji tanda-tanda vital
2.    Lakukan pengkajian nyeri yang komperenshif meliputi lokasi, karakteristik, awitan, durasi

Tindakan mandiri :
3.  Berikan lingkungan yang tenang dan nyaman .

Penyuluhan :
4.  Ajarkan teknik relaksasi napas dalam/ distraksi kepada pasien
5.  Berikan informasi tentang nyeri, seperti penyebab nyeri, berapa lama akan berlangsung dan antisipasi ketidaknyamanan akibat prosedur

Kolaborasi :
6.  Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat analgesik sesuai kebutuhan

1.    Untuk mengetahui tanda-tanda vital pasien
2.    Untuk menilai tingkat nyeri pada pasien

3.    Untuk membantu pasien dalam beristirahat

4.    Untuk memberikan rasan nyaman kepada pasien

5.    Memberikan pengetahuan tambahan pada pasien dan keluarganya tentang nyeri

6.    untuk menurunkan nyeria yang dirasakan pasien



2.
Ganggauan Eliminasi Urine (00016)
Defenisi :
Disfungsi pada eliminasi urine

Faktor yang berhubungan :
Obstruksi anatomik

Ditandai dengan batasan karakteristik :
DS :
-         Klien mengatakan susah buang air kecil
-         Klien mengatakan pada saat klien ingin BAK susah keluar dan sangat lama kemudian air kemih yang dikeluarkan sedikit-sedikit dan terasa perih

DO :
-         Klien terpasang kateter
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan eliminasi urine tidak terganggu
dibuktikan dengan kriteria hasil :
-         Urine keluar lancar tidak tersendat-sendat
-         Frekuensi urine normal
-         Tidak perih saat berkemih
Pengkajian :
1.  Pantau eliminasi urine meliputi frekuensi , konsistensi , bau , volume dan warna

Tindakan Mandiri :
2.  Anjurkan pasin untuk megkonsumsi air putih sebanyak mungkin

Health Education :
3.  Instruksikan kepada pasien dan keluarga untuk mencatat haluaran urine
4.  Instruksikan pasien untuk berespon segera terhadap kebutuhan eliminasi

Kolaborasi :
5.  Kolaborasi dalam pemberian terapi intravena

1.      Untuk mengetahui bau , warna , frekuensi  dan volume urine pasien
2.      Untuk menetralkan warna urine pasien
3.      Agar pasien dan keluarga juga dapat mengetahui perkembangan eliminasi urine dari pasien
4.      Agar mempertahankan pola eliminasi urine yang optimum
5.      Untuk mengembalikan kenormalan warna urine
3.
DS :

DO :
-         Klien tampak lemah terbaring di tempat tidur
-         Klien terpasang kateter
-         Terpasang infuse pada tangan sebelah kiri dengan Ringer Laktat 20 tetes/menit,
-         Terpasang alat monitor
Setelah tindakan keperawatan selama 3x 24 jam diharapkan pasien dapat memperlihatkan mobilitas fisik yang baik , dibuktikan dengan kriteria hasil :
-    Pasien mampu untuk beraktivitas
-    Pasien dapat membolak-balik tubuh dengan baik
-    Pasien dapat bergerak dengan baik
Pengkajian :
1.  Pantau proses mobilitas pasien

Tindakan Mandiri :
2.  Atur posisi tubuh senyaman mungkin

Penyululuhan :
3.      Ajarkan dan dukung pasien dalam latihan ROM aktif dan pasif  

Kolaboratif :
4.   Rujuk ke ahli terapi untuk latihan fisik

1.      Untuk mengetahui mobilisasi fisik pasien
2.      Untuk memberikan rasa nyaman kepada pasien
3.      Untuk meningkatkan  atau mempertahankan kekuatan dan ketahanan otot
4.      Untuk membantu klian dalam meningkatkan pertahanan yang kuat

Langkah 4 :
Peta Konsep Sementara



Langkah 5:
«  Membuat pertanyaan tambahan :
1.      Apa rasional klien dipasangkan infuse pada tangan sebelahh kiri cairan Rl 20 tts/menit ?
2.      Apa rasionalnya pasien post op dipasangkan kateter ?
3.      Uraaikan patomekanisme terjadinnya BAK susah keluar dan sangat lama/ keluar sedikit-sedikit !

Langkah 6 :
«  Menjawab pertanyaan Tambahan
1.      Apa rasional klien dipasangkan infuse pada tangan sebelah kiri cairan Rl 20 tts/menit ?
Jawaban :

2.      Apa rasionalnya pasien post op dipasangkan kateter ?
Jawaban :
Untuk mengatasi obstruksi intra vesikal dan untuk mengetahui ada atau tidanya bekuan darah dalam buli-buli , struktur pascah bedah dan proses inflamasi pada urethra.

3.      Uraikan patomekanisme terjadinnya BAK susah keluar dan sangat lama/ keluar sedikit-sedikit !
Jawaban :
Mekanisme terjadinya BAK susah keluar :
Tekanan pada kandung kemih uretra ketika kelenjar prostat mengalami pembesaran dan menyebabkan penyempitan/ tersumbatnya uretra sehingga menyebabkan BAK susah keluar.
Mekanisme terjadinya BAK keluar sangat lama :
Tekanan pada kandung kemih uretra ketika kelenjar prostat mengalami pembesaran dan menyebabkan penyempitan/penyumbatan saluran kencing bagian bawah inilah yang menyebabkan BAK keluar sangat lama.
Mekanisme terjadinya BAK keluar sedikit-sedikit :
Pembesaran prostat dapat menekan saluran kemih/ uretra dan menutup aliran urine sehingga menyebabkan dinding kandung kemih mengalami iritasi dan mudah berkontraksi walaupun berisi sedikit urine inilah yang menyebabkan BAK keluar sedikit-sedikit .




Langkah 7 :
Peta Konsep Sempurna 









SKENARIO 2

Seorang laki-laki berusia 57 tahun datang ke RS dengan keluhan nyeri pinggang kanan. Nyeri hilang timbul dan menjalar ke perut dan tidak dipengaruhi mobilitas fisik. Klien mengaku 4 bulan yang lalu sering mengalami nyeri yang sama dan nyeri hilang stelah diberikan obat penghilang rasa nyeri dari dokter. Nyeri dirasakan bertambah berat dalam 2 hari ini dan tidak menghilang dengan obat yang biasa dimakan. Klien juga mengeluh mual dan muntah sekitar 4-5 kali sejak 1 hari yang lalu dan demam serta air kencingnya keruh dan oliguri (+) dengan jumlah sekitar 400 ml/24 jam.
Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan kondisi umum : gelisah dan tampak meringis dan nyeri kolik (+) , TD = 160/100 mmHg ; HR= 102 x/menit ; RR = 28x menit ; suhu = 38,70c ; abdomen : inspeksi = flatuensi (+) , palpasi : nyeri tekan kuadran kanan atas (+) , perkusi : timpani pada abdomen dan nyeri ketok CVA dextra (+) , auskultasi : bising usus menurun. Pada pemeriksaan lab didapatkan ; Hb = 14 gr/dl, leukosit = 15.000/mm3, ureum = 24 mg/dl , creatinin = 2,5 mg/dl.
Pada pemeriksaan BNO-PIV : tampak bayangan radio opak lumbal III dextra , fungsi ginjal masih baik namum terdapat hidronefrosis rend extra grade II. Istri klien mengatakan orang tua klien juga pernah menderita batu ginjal dan riwayat hipertensi (+).




Langkah 1 :
«  Klarifikasi istilah-istilah penting
1.    Oliguri adalah produksi urin sedikit, biasanya kurang dari 400 ml / hari pada orang dewasa, dan dapat menjadi salah satu tanda awal dari gagal ginjal dan masalah urologi lainnya atau penyumbatan di dalam saluran kemih
2.    Nyeri kolik adalah suatu rasa  nyeri perut yang memelintir dan biasanya hilang timbul . Kolik biasanya diawali rasa nyeri spasmodik ringan, yang menjadi semakin berat sampai mencapai puncak nyeri , hingga penderita bergulling-guling.
3.    Flatuensi adalah meningkatnya jumlah gas dalam saluran pencernaan
4.    Timpani adalah Perut kembung  suatu keadaan mengembangnya rumen akibat terisi oleh gas-gas berlebih. Hal ini tejadi ketika esovagus mengalami sumbatan sehinggga menghambat pengeluaran gas. Ada kalanya juga tejadi peut kembung “ Berbuih “ sebagai akibat femantasi  yang berjalan tidak normal . produksi gas yang cepat ( CO2 dan CH4 ) sebagai hasil akhir femantasi akan memicu tejadinya kembung. Kondisi ini dikaitkan dengan tingginya konsentrasi potein.
5.    Nyeri ketok CVA ( Costovertebral angel )  adalah salah satu dai dua sudut yang menguraikan ruang atas ginjal. Sudut terbentuk oleh kurva lateal dan kebawah dari tulang rusuk tenadah dari vertikel dari tulang belakang itu sendi. Nyeri ketok saat di perkusi adalah umum ditemukan pada hidronefrosis dan inveksi lain dai ginjal dan stuktur lain yang bedekatan.
6.    Kreatinin adalah unsur  pembentuk urine yang normal , metabolisme protein
7.    Pemeriksaan BNO-PIVadalah salah satu pemeriksaan radiologi  untuk melihat saluran kemih , misalnya dai USG traktus urinaius

8.    kesannya adanya sumbatan dari ureter suspek batu, maka BNOO IVP ini bisa dilakukan investigasi berikutnya
9.    Bayangan adio Opak adlah bayangan dengan kepadatan yang tingggi akan tampak sebagai bayangan radiologi ( bewanah lebih putih )
10. lumbal daeah lumbal merupakan daerah veterbra yang sangat peka  terhadap tejadinya nyei pinggang karena daerah paling besa menerima beban saat  tubuh bergerak  dan saat menumpuh beban berat.
11. Hidronefrosis rend dextra grade II adalah pembegkakan ginjal yang terjadi akibat sebagai akumulasi urin disaluran  kemih bagian atas . hal ini biasanya disebabkan adanya penyumbatan disuatu tempat disepanjang saluran kemih.

«  Klarifikasi kata-kata kunci
1.    Seorang laki-laki berusia 57 tahun
2.    Keluhan nyeri pinggang kanan dan nyeri hilang timbul dan menjalar ke perut dan tidak dipengaruhi mobilitas fisik
3.    Klien mengaku 4 bulan yang lalu sering mengalami nyeri yang sama dan nyeri hilang stelah diberikan obat penghilang rasa nyeri dari dokter
4.    Nyeri dirasakan bertambah berat dalam 2 hari ini dan tidak menghilang dengan obat yang biasa dimakan
5.    Klien juga mengeluh mual dan muntah sekitar 4-5 kali sejak 1 hari yang lalu dan demam serta air kencingnya keruh dan oliguri (+) dengan jumlah sekitar 400 ml/24 jam
6.    Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan kondisi umum : gelisah dan tampak meringis dan nyeri kolik (+) , TD = 160/100 mmHg ; HR= 102 x/menit ; RR = 28x menit ; suhu = 38,70c ; abdomen : inspeksi = flatuensi (+) , palpasi : nyeri tekan kuadran kanan atas (+) ,

perkusi : timpani pada abdomen dan nyeri ketok CVA dextra (+) , auskultasi : bising usus menurun. Pada pemeriksaan lab didapatkan ; Hb = 14 gr/dl, leukosit = 15.000/mm3, ureum = 24 mg/dl , creatinin = 2,5 mg/dl.
7.    Pada pemeriksaan BNO-PIV : tampak bayangan radio opak lumbal III dextra , fungsi ginjal masih baik namum terdapat hidronefrosis rend dextra grade II.
8.    Istri klien mengatakan orang tua klien juga pernah menderita batu ginjal dan riwayat hipertensi (+).



Langkah 2 :
«  Masalah utama
“Hidronefrosis”

«  Membuat pertanyaan-pertaanyaan penting
1.    Review konsep medis dan konsep keperawatan hidronefrosis !
2.    Uraikan mekanisme terjadi nyeri pada pinggang kanan yang menjalar ke perut pada kasus Tn.L ! Della
3.    Uraikan mekanisme mual dan muntah pada kasus hidronefrosis ! Yeni
4.    Mengapa pasien  hidronefrosis terjadi demam, air kencing keruh dan oliguri ? Nopi
5.    Interpretasikan pemeriksaan fisik inspeksi , perkusi , palpasi dan auskultasi pada kasus ! Umi Dan samsu
6.    Apa tujuan pemeriksaan BNO-PIV ? Tina
7.    Buatlah pengkajian , analisa data dasar dan diagnose keperawatan ! Nopi Mauren
8.    Buatlah renpra pada kasus Tn.L ! Andi



Langkah 3 :
«  Menjawab Pertanyaan Penting
1.      Review konsep medis dan konsep keperawatan hidronefrosis !
Jawaban :
A.    Definisi
Hidronefrosis adalah dilatasi pelvis ureter yang dihasilkan oleh obstruksi aliran keluar urin oleh batu atau kelainan letak arteria yang menekan ureter sehingga pelvis membesar dan terdapat destruksi progresif jaringan ginjal (Gibson, 2003).
Hidronefrosis adalah pembesaran ginjal akibat tekanan balik terhadap ginjal karena aliran air kemih tersumbat.
Hidronefrosis adalah obstruksi saluran kemih proksimal terhadap kandung kemi yang mengakibatkan penimbunan cairan bertekanan dalam  pelvis ginjal dan ureter serta atrofi pada parenkim ginjal (Price, 2001).  Dalam keadaan  normal, air kemih mengalir dari ginjal dengan tekanan yang sangat rendah. Jika aliran air kemih tersumbat, air kemih akan mengalir kembali ke dalam tabung-tabung kecil di dalam ginjal  (tubulus renalis) dan ke dalam daerah pusat  pengumpulan  air kemih  (pelvis renalis). Hal ini akan menyebabkan ginjal menggembung dan menekan jaringan ginjal yang rapuh. Pada akhirnya, tekanan hidronefrosis yang menetap dan berat akan merusak jaringan ginjal sehingga secara perlahan ginjal akan kehilangan fungsinya.
B.     Etiologi
Hidronefrosis biasanya terjadi akibat adanya sumbatan pada sambungan ureteropelvik (sambungan antara ureter dan pelvis renalis) yaitu :
a.      Kelainan struktural, misalnya jika masuknya ureter ke dalam pelvis renalis terlalu tinggi
b.      Lilitan pada sambungan ureteropelvik akibat ginjal bergeser ke bawah
c.       Batu di dalam pelvis renalis

d.      Penekanan pada ureter oleh jaringan fibrosa, arteri atau vena yang letaknya abnormal, dan tumor.
Hidronefrosis juga bisa terjadi akibat adanya penyumbatan dibawah sambungan ureteropelvik atau karena arus balik air kemih dari kandung kemih :
a.      Batu di dalam ureter
b.      Tumor di dalam atau di dekat ureter
c.       Penyempitan ureter akibat cacat bawaan, cedera, infeksi, terapi penyinaran atau pembedahan
d.      Kelainan pada otot atau saraf di kandung kemih atau ureter
e.      Pembentukan jaringan fibrosa di dalam atau di sekeliling ureter akibat pembedahan, rontgen atau obat-obatan (terutama metisergid)
f.        Ureterokel (penonjolan ujung bawah ureter ke dalam kandung kemih)
g.      Kanker kandung kemih, leher rahim, rahim, prostat atau organ panggul lainnya
h.      Sumbatan yang menghalangi aliran air kemih dari kandung kemih ke uretraakibat pembesaran prostat, peradangan atau kanker
i.        Arus balik air kemih dari kandung kemih akibat cacat bawaan atau cedera
j.        Infeksi saluran kemih yang berat, yang untuk sementara waktu menghalangikontraksi ureter.
Kadang hidronefrosis terjadi selama kehamilan karena pembesaran rahim menekan ureter. Perubahan hormonal akan memperburuk keadaan ini karena mengurangi kontraksi ureter yang secara normal mengalirkan air kemih ke kandung kemih. Hidronefrosis akan berakhir bila kehamilan berakhir, meskipun sesudahnya  pelvis  renalis  dan  ureter  mungkin  tetap agak melebar. Pelebaran pelvis renalis yang berlangsung lama dapat menghalangi kontraksi otot ritmis yang secara normal mengalirkan air kemih ke kandung kemih. Jaringan fibrosa lalu akan menggantikan kedudukan


jaringan otot yang normal di dinding ureter sehingga terjadi kerusakan yang menetap.
C.    Manifestasi Klinis
Pasien mungkin asimtomatik jika awitan terjadi secara bertahap. Obstruksi akut dapat menimbulkan rasa sakit dipanggul dan pinggang. Jika terjadi infeksi majadi suria, menggigil, demam dan nyeri tekan serta piuria akan terjadi.
Hematuri dan piuria mungkin juga ada. Jika kedua ginjal kena maka tanda dan gejala gagal ginjal kronik akan muncul, seperti:
a.       Hipertensi (akibat retensi cairan dan natrium); 
b.      Gagal jantung kongestif;
c.       Perikarditis (akibat iritasi oleh toksik uremi);
d.      Pruritis (gatal kulit);
e.       Butiran uremik (kristal urea pada kulit);
f.       Anoreksia, mual, muntah, cegukan;
g.      Penurunan konsentrasi, kedutan otot dan kejang;
h.      Amenore, atrofi testikuler.(Smeltzer dan Bare, 2002)
D.    Patofisiologi
Obstruksi pada aliran normal urin menyebabkan urin mengalir balik, sehingga tekanan di ginjal meningkat. Jika obstruksi terjadi di uretra atau kandung kemih, tekanan balik akan mempengaruhi kedua ginjal, tetapi jika obstruksi terjadi di salah satu ureter akibat adanya batu atau kekakuan maka hanya satu ginjal saja yang rusak. Obstruksi parsial atau intermiten dapat disebabkan oleh batu renal yang terbentuk di piala ginjal tetapi masuk ke ureter dan menghambatnya. 
Obstruksi dapat diakibatkan oleh tumor yang menekan ureter atau berkas jaringan parut akibat abses atau inflamasi dekat ureter dan menjepit saluran tersebut.
Gangguan dapat sebagai akibat dari bentuk abnormal di pangkal ureter atau posisi ginjal yang salah, yang menyebabkan ureter berpilin atau kaku. Pada pria lansia, penyebab tersering adalah obstruksi uretra pada pintu kandung kemih akibat pembesaran prostat. Hidronefrosis juga dapat terjadi pada kehamilan akibat pembesaran uterus. Adanya akumulasi urin di piala ginjal akan menyebabkan distensi piala dankaliks ginjal. Pada saat ini atrofi ginjal terjadi. Ketika salah satu ginjal sedang mengalami kerusakan bertahap, maka ginjal yang lain akan membesar secara bertahap (hipertropi kompensatori), akhirnya fungsi renal terganggu (Smeltzer danBare, 2002)
E.     Komplikasi
Jika hidronefrosis tetap tidak diobati, peningkatan tekanan di dalam ginjal bisa menurunkan kemampuan ginjal untuk menyaring darah, mengeluarkan produk  sampah, dan membuat urin serta mengatur elektrolit dalam tubuh. Hidronefrosis bisa menyebabkan infeksi ginjal (pyelonephrosis)  gagal ginjal, sepsis, dan dalam beberapa kasus, ginjal kehilangan fungsi atau kematian. Fungsi ginjal akan mulai menurun segera dengan timbulnya  hidronefrosis tetapi reversibel jika tidak menyelesaikan pembengkakan. Biasanya ginjal  sembuh  dengan  baik  bahkan  jika  ada halangan berlangsung hingga 6 minggu.
F.     Penatalaksanaan dan pengobatan
Tujuannya adalah untuk mengaktivasi dan memperbaiki penyebab dari hidronefrosis (obstruksi, infeksi) dan untuk mempertahankan dan melindungi fungsi ginjal. Untuk mengurangi obstruksi urin akan dialihkan melalui tindakan nefrostomi atau tipe disertasi lainnya. Infeksi ditangani dengan agen anti mikrobial karena sisa urin dalam kaliks akan menyebabkan infeksi dan pielonefritis. Pasien disiapkan untuk pembedahan mengangkat lesi obstrukstif (batu, tumor, obstruksi ureter). 
Jika salah satu fungsi ginjal rusak parah dan hancur maka nefrektomi (pengangkatan ginjal) dapat dilakukan (Smeltzer dan Bare, 2002)




Pengobatan
a)      Hidronefrosis akut
1.      Jika fungsi  ginjal  telah menurun, infeksi menetap atau nyeri yang  hebat, maka air kemih yang terkumpul diatas penyumbatan segera dikeluarkan (biasanya melalui sebuah jarum yang dimasukkan melalui kulit)
2.      Jika terjadi  penyumbatan  total,  infeksi  yang  serius  atau  terdapat  batu, maka bisa dipasang kateter pada pelvis renalis untuk sementara waktu
b)      Hidronefrosis kronik
1.      Diatasi dengan mengobati penyebab dan mengurangi penyumbatan air kemih
2.      Ureter yang  menyempit atau  abnormal bias  diangkat melalui  pembedahan  dan  ujung-ujungnya disambungkan kembali
3.      Dilakukan pembedahan untuk membebaskan ureter dari jaringan fibrosa. Jika sambungan ureter dan kandung kemih tersumbat, maka dilakukan pembedahan untuk melepaskan ureter dan menyambungkannya kembali di sisi kandung kemih yang berbeda
G.    Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan yang dapat dilakukan yaitu :
1.      Adanya massa di daerah antara tulang rusuk dan tulang pinggul,  terutama  jika ginjal sangat membesar.
2.      USG, memberikan gambaran ginjal, ureter dan kandung kemih
3.      Urografi intravena, bisa menunjukkan aliran air kemih melalui ginjal
4.      Sistoskopi, bisa melihat kandung kemih secara langsung
5.      LaboratoriumPemeriksaan darah bisa menunjukkan adanya kadar urea karena ginjal tidakmampu membuang limbah metabolik.



ASUHAN KEPERAWATAN

1.      Pengkajian

·      Biodata :
Nama :
Umur :
Jenis kelamin :
Jenis kelamin bisa untuk identifikasi penyebab misalnya pada pria lansia penyebab tersering ialah akibat obstruksi uretra pada pintu kandungkemih akibat pembesaran prostat. Pada perempuan hamil bisa terjadiakibat pembesaran uterus.
Pekerjaan :
·      Keluhan utama
Gejala yang sering menyebabkan penderita datang ke tempat pelayanan kesehatan.
·      Riwayat penyakit sekarang
Penyakit yang dialami sekarang yang menyebabkan penderita dating ke tempat pelayanan kesehatan.
·      Riwayat penyakit dahulu
Apakah penderita pernah mengalami penyakit yang sama pada masa lalu.
·      Riwayat penyakit keluarga
Apakah ada anggota keluarga yang memiliki penyakit yang sama dengan penderita.

Pola pengkajian fungsional Gordon :
1.      Pola persepsi-Managemen kesehatan
Jarang malakukan olahraga dalam memelihara kesehatan.
2.      Pola nutrisi-metabolik
Penurunan berat badan karena malnutrisi, anoreksia, mual, muntah.
3.      Pola eliminasi
Penurunan frekuensi, oliguri, anuri, perubahan warna urin
4.      Pola latihan-aktivitas
Kelelahan, kelemahan, malaise
5.      Pola kognitif perseptual
Nyeri abdomen, nyeri tulang rusuk dan tulang panggul, gelisah, distraksi tergantung derajat keparahan. Peningkatan tekanan darah, kulit hangat dan pucat.
P (Provocating/pencetus)→adanya obstruksi
Q (Quality/karakteristik)→Nyeri yang dirasakan bersifat tajam
R (Region/tempat/area/bagian)→pada bagian visceral (dalam)
S (Severity/keperahan nyeri)→Nyeri sedang hingga berat
T (Time/waktu/durasi)→Nyeri hilang timbul
6.      Pola istirahat-tidur
Kurang tidur/gangguan tidur karena sering merasakan nyeri
7.      Pola konsep diri-persepsi diri
Merasa cemas dengan penyakitnya, Kurangnya pengetahuan, gangguan body image.
8.      Pola peran dan hubungan
Tidak mampu bekerja, tidak mampu menjalankan peran seperti biasa.
9.      Pola reproduksi/seksual
Pada pasien hidronefrosis terganggu pola reproduksinya akibat penyakitnya.
10.  Pola pertahanan diri (Koping-Toleransi stress)
Merasa stress dengan penyakit yang dialami
11.  Pola keyakinan dan nilai
Tidak ada gangguan pada pola keyakinan dan nilai

2.      Diagnosa
1.    Nyeri akut (00132) berhubungan dengan agens cedera (obstruksi akut) ditandai dengan melaporkan nyeri secara verbal, wajah tampak meringis, gelisah
2.    Gangguan eliminasi urine (00016) berhubungan dengan abstruksi anatomic (penyempitan ureter/uretra) ditandai dengan disuria
3.    Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh (00002) berhubungan dengan ketidakmampuan untuk mengabsorbsi nutrient ditandai dengan anoreksia, mual muntah
4.    Hipertermi (00007) berhubungan dengan penyakit (proses infeksi) ditandai dengan kulit terasa hangat, peningkatan suhu diatas kisaran normal
3.    Intervensi Keperawatan
No.
Diagnosa
Tujuan & KH
Intervensi
Rasional
1.
Nyeri akut (00132)
Definisi :
Pengalaman sensori dan emosi yang tidak menyenangkan akibat adanya kerusakan jaringan yang aktual atau potensial, atau digambarkan dengan istilah seperti (International Association for the Study of Pain); awitan yang tiba-tiba atau perlahan dengan intensitas ringan sampai berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau dapat diramalkan dan durasinya kurang dari enam bulan.
Faktor yang berhubungan :
agens cedera (obstruksi akut)
Batasan karakteristik :
·      Melaporkan nyeri secara verbal
·      Wajah tampak meringis
·      Gelisah
P (Provocating/pencetus)→adanya obstruksi
Q (Quality/karakteristik)→Nyeri yang dirasakan bersifat tajam
R (Region/tempat/area/bagian)→pada bagian visceral (dalam)
S (Severity/keperahan nyeri)→Nyeri sedang hingga berat
T (Time/waktu/durasi)→Nyeri hilang timbul

Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan nyeri klien teratasi.
Kriteria hasil :
·      Klien mengungkapkan nyerinya berkurang dengan
·      Skala nyeri ringan (0-3)
·      Wajah klien tampak tenang
·      TTV klien dalam batas normal
1.Observasi TTV klien
2.Kaji nyeri yang komprehensif meliputi skala nyeri (0-10),  lokasi, karakteristik, awitan dan durasi, frekuensi, kualitas, intensitas, atau keparahan nyeri, dan faktor presipitasinya.
3.Bantu pasien mengidentifikasi tindakan kenyamanan yang efektif dimasa lalu, seperti, distraksi, relaksasi, atau kompres hangat/dingin
4.Berikan informasi tentang nyeri, seperti penyebab nyeri, berapa lama akan berlangsung, dan antisipasi ketidaknyamanan akibat prosedur.
5.Kolaborasi :
Berikan obat analgetik.
1.   Untuk mengetahui tanda-tanda vital klien

2.   Untuk mengetahui tingkat keparahan nyeri klien

3.   Untuk mengidentifikasi tindakan kenyamanan yang sesuai dengan klien

4.   Agar menghindari kecemasan
terhadap penyakit
5.   Untuk menghilangkan rasa nyeri
2.
Gangguan eliminasi urine (00016)
Definisi :
Disfungsi pada eliminasi urin
 Faktor yang berhubungan :
Obstruksi anatomik (penyempitan ureter/uretra)
Batasan karakteristik :
·         Disuria
·         Oliguri

Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan masalah gangguan eliminasi urin dapat teratasi.
Kriteria hasil :
·         Klien tidak terjadi disuria saat berkemih
·         Klien mampu berkemih dengan optimal

1.Pantau eliminasi urin,meliputi frekuensi,konsistensi,bau,volume,dan warna urin

2.Mempertahankan pola eliminasi urin yang optimal

3.Ajarkan pasien tentang tanda dan gejala infeksi saluran kemih
4.Ajarkan pasien untuk minum 200 ml cairan pada saat makan,diantara waktu makan dan diawal petang
5.  Rujuk ke dokter jika terdapat gejala infeksi saluran kemih
1.Untuk mengetahui frekuensi,konsistensi,bau,volume serta warna urin klien
2.Menjaga agar eliminasi urin klien tetap stabil dan normal
3.Untuk menambah pengetahuan klien tentang tanda dan gejala infeksi saluran kemih
4.Supaya kebutuhan cairan klien terpenuhi
5.Agar dapat ditangani oleh dokter dan terhindar dari tanda dan gejala infeksi
3.
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh (00002)
Definisi :
Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik
Faktor berhubungan :
Ketidakmampuan untuk mengabsorbsi nutrient Batasan karakteristik :
·         Anoreksia
·         Mual dan muntah

Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam, di harapkan ketidakseimbangan nutrisi teratasi Kriteria hasil:
·         Nafsu makan klien meningkat
·         Mual dan muntah pada klien berkurang/hilang
1.Timbang berat badan setiap hari
2.Buat pilihan menu yang ada dan ijinkan pasien untuk mengontrol pilihan sebanyak mungkin
3.Beri porsi makan kecil tapi sering
4.Berikan informasi yang tepat tentang kebutuhan nutrisi dan bagaimana memenuhinya
5.Kolaborasi :
Berikan obat antiemetik
1.   Memberikan informasi tentang keadaan masukan diet atau penentuan kebutuhan nutrisi
2.   Untuk membuat klien meningkat kepercayaan dirinya dan merasa mengontrol lingkungan lebih suka menyediakan makanan untuk dimakan
3.   Memenuhi nutrisi klien
4.   Menambah pengetahuan untuk pemenuhan nutrisi
5.  Untuk mengurangi mual dan muntah
4.
Hipertermi (00007)
Definisi :
Peningkatan suhu tubuh di atas kisaran normal
Faktor yang berhubungan : Penyakit (proses infeksi)
Batasan karakteristik :
·         Kulit terasa hangat
·         Peningkatan suhu diatas kisaran normal

Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam di harapkan suhu tubuh klien kembali normal
Kriteria hasil:
·      Suhu tubuh klien normal (36,5-37,2C)
·      Warna dan suhu kulit kembali
1.Pantau suhu tubuh minimal 2 jam sekali
2.Pantau warna kulit dan suhu tubuh
3.Anjurkan asupan cairan oral sedikitnya 2L sehari
4. Ajarkan klien atau keluarga dalam mengukur suhu
5.Kolaborasi berikan obat antipiretik
1.Untuk mengetahui suhu tubuh klien
2.Agar mengetahui warna kulit klien
3.Untuk megoptimalkan asupan cairan klien
4.Untuk mempermudah  dalam pengukuran  suhu tubuh dirumah
5.Untuk menurunkan suhu tubuh


2.      Uraikan mekanisme terjadi nyeri pada pinggang kanan yang menjalar ke perut pada kasus Tn.L ! Della
Jawaban :
Ginjal diinervasi oleh plexus sympathicus renalis. Serabut-serabut aferen yang berjalan melalui plexus renalis masuk medula spinalis melalui nervus T10, T11, dan T12. Ureter dipersarafi oleh plexus rebalis, testicularis, dan  plexus hypogastricus. Serabut aferen masuk medula spenalis melalui nervus L1 dan L2. Jika medulla spinalis menerima inut dari visera yang terlibat dan ditingkat vertebra yang sama juga menerima input dari aferren dari suatu daerah di permukaan tubuh                         nyeri alih

3.      Uraikan mekanisme mual dan muntah pada kasus hidronefrosis ! Yeni
Jawaban :
Invasi bakteri pada parenkim ginjal memberikan manisfestasi peradangan,sehingga menyebabkan iritasi pada buli-buli dan terjadinya reflex reno intestinal , menurunkan aktivitas fungsional lambung (hipotonisitas,hipoperistaltis,hiposekresi) dan berubahnya motilitas usus kecil karena adanya tekanan.kontraksi anuler pylorus lambung menghasilkan ekspulsi isi lambung kedalam esophagus ,peningkatan tekanan intratorakal mengakibatkan gerakan lebih lanjut isi lambung kedalam mulut,Meningkatnya reflex palatum durum selama kerja muntah mencegah  masuknya makanan kedalam mulut (mual).

4.      Mengapa pasien  hidronefrosis terjadi demam, air kencing keruh dan oliguri ? Nopi
Jawaban :
Gangguan alirann urine
 
Tekanan ureter meningkat
 
Laju filtrasi glomerulus menurun
 
Kemampuan tubulus ginjal untuk menghantar natrium kalium dan proton menurun
 
Urine tidak dapat dicairkan
 
Urine menjadi keruh

5.      Interpretasikan pemeriksaan fisik inspeksi , perkusi , palpasi dan auskultasi pada kasus ! Umi Dan samsu
Jawaban :
1.      Inspeksi
Pemeriksa melatih dirinya untuk melihat tubuh dengan menggunakan pendekatan sistematik. Sementara melakukan anamnesis, pemeriksa memperhatikan hal-hal tertentu mengenai pasiennya :
·         Penampilan umum
·          Keadaan gizi
·          Habitus tubuh
·         Simetri
·         Sikap tubuh dan gaya berjalan
·         Cara berbicara

2.      Perkusi
Perkusi berkaitan dengan sensasi taktil dan bunyi yang dihasilkan apabila suatu pukulan keras dilakukan pada suatu daerah yang diperiksa. Misalnya : perkusi bunyi pekak digaris tengah perut bawah mungkin menunjukkan kandung kemih yang terdistensi.

3.      Palpasi
Palpasi merupakan pemeriksaan dengan indera peraba yaitu tangan untuk menentukan ketahanan, kekenyalan, kekerasan, tekstur, dan mobilitas. Palpasi membutuhkan kelembutan dan sensitivitas. Untuk itu hendaknya menggunakan permukaan palmar jari, yang dapat digunakan untuk mengkaji posisi, tekstur, konsistensi, bentuk massa dan pusasi. Pada telapak tangan dan permukaan ulnar tangan lebih sensitive pada getaran. Sedangkan untuk mengkaji temperature hendaknya menggunakan bagian belakang tangan dan jari.

4.      Auskultasi
Auskultasi merupakan pemeriksaan dengan mendengarkan bunyi yang dihasilkan oleh tubuh melalui stetoskop. Dalam melakukan auskultasi , beberapa hal yang perlu didengarkan diantaranya :
·         Frekuensi atau siklus gelombang bunyi
·         Kekerasan atau amplitude bunyi
·         Kualitas dan lamanya bunyi

6.      Apa tujuan pemeriksaan BNO-PIV ? Tina
Jawaban :
Untuk mendapatkan gambaran radiografi dari letak anatomi dan fisiologi serta mendeteksi kelainan patologis dari ginjal, ureter dan blass.
Biasanya indikasi pemeriksaan ini adalah batu ginjal. Pemeriksaan kompleksnya adalah BNO IVP yang menggunakan media kontras. Tujuan dari persiapan BNO adalah untuk membersihkan rongga abdomen dari udara dalam usus yang dapat mengganggu gambaran foto BNO. Persiapan yang dilakukan yaitu puasa dari malam sebelum pemeriksaan, meminum obat pencahar, dan tidak banyak bicara dan tidak merokok selama sebelum pemeriksaan.


7.      Buatlah pengkajian , analisa data dasar dan diagnose keperawatan ! Nopi Mauren
Jawaban :
§  Pengkajian
Nama                           : Tn.L
Umur                           : 57  thn
Jenis kelamin               :Laki-laki
Keluhan utama            : Nyeri pinggang kanan
Diagnosa Medis          : Hidronefrosis

Riwayat kesehatan
1.      Riwayat kesehatan sekarang :  Nyeri pinggang kanan. Nyeri hilang timbul dan menjalar ke perut dan tidak dipengaruhi mobilitas fisik
2.      Riwayat kesehatan dahulu : Klien mengaku 4 bulan yang lalu sering mengalami nyeri yang sama dan nyeri hilang setelah diberikan obat penghilang rasa nyeri dari dokter. Klien juga mengeluh mual dan muntah sekitar 4-5 kali sejak 1 hari yang lalu dan demam serta air kencingnya keruh dan oliguri (+) dengan jumlah sekitar 400 ml/24 jam.
3.      Riwayat kesehatan keluarga : Istri klien mengatakan orang tua klien juga pernah menderita batu ginjal dan riwayat hipertensi (+)

Pemeriksaan Fisik :
-          Gelisah dan tampak meringis dan nyeri kolik (+)
-          TTV :TD = 160/100 mmHg ; HR= 102 x/menit ; RR = 28x menit ; suhu = 38,70c
-          Abdomen : inspeksi = flatuensi (+) , palpasi : nyeri tekan kuadran kanan atas (+) , perkusi : timpani pada abdomen dan nyeri ketok CVA dextra (+) , auskultasi : bising usus menurun

Pemeriksaan Laboratorium :
Hb = 14 gr/dl, leukosit = 15.000/mm3, ureum = 24 mg/dl , creatinin = 2,5 mg/dl.

Pemeriksaan BNO-PIV :
Tampak bayangan radio opak lumbal III dextra , fungsi ginjal masih baik namum terdapat hidronefrosis rend extra grade II

§  Analisa Data Dasar
No.
Data Fokus
Etiologi
Masalah keperawatan
1.
DS:
-       Klien mengeluh nyeri pinggang kanan , nyeri hilang timbul menjalar sampai ke perut
-       Klien mengaku 4 bulan yang lalu sering mengalami nyeri yang sama dan nyeri hilang setelah diberikan obat penghilang rasa nyeri dari dokter
-       Klien mengatakan nyeri dirasakan bertambah berat dalam 2 hari ini dan tidak menghilang dengan obat yang biasa dimakan

DO:
-      Gelisah dan tampak meringis
-      Nyeri kolik (+)
-      TD = 160/100 mmHg ; HR= 102 x/menit ; RR = 28x menit
-      Abdomen : palpasi : nyeri tekan kuadran kanan atas (+) , perkusi : timpani pada abdomen dan nyeri ketok CVA dextra (+)
Infeksi pada uretra, tumir atau neoplasma disekitar uretra dan ureter
                                                 
Peradangan
 
Terbentuknya jaringan perut
 
Obstruksi sebagian dan total aliran urine
 
Obstruksi akut pada sudut ginjal posterior
 
Kolik renalis/ nyeri pinggang
 
Nyeri akut
Nyeri Akut (00132)
2.
DS:
-      Klien mengeluh  air kencing keruh dan oliguria

DO:
-          Oliguri (+) dengan jumlah sekitar 400 ml/24 jam.

Infeksi pada uretra, tumor atau neoplasma disekitar uretra dan ureter
                                                 
Peradangan
 
Terbentuknya jaringan perut
 
Obstruksi sebagian dan total aliran urine
 
Urine yang keluar sedikit demi sedikit karena adanya penyempitan ureter/uretra
 
Gangguan eliminasi urine

Gangguan eliminasi urine (00016)
3.
DS:
-            Klien mengeluh demam

DO:
-          S : 38 C
-          Leukosit = 15.000/mm3
Infeksi pada uretra, tumir atau neoplasma disekitar uretra dan ureter
 
Infeksi/ peradangan
 
Metabolisme meningkat
 
Penggeseran set point dari titik normal di hipotalammus
 
Peingkatan suhu tubuh
 
Hipertermia
Hipetermia ( 00007 )

§  Diagnose Keperawatan
1)      Nyeri akut (00132) berhubungan dengan agen-agen cedera fisik ditandai dengan klien mnegeluh nyeri pinggang kanan , nyeri hilang timbul menjalar sampai ke perut .Gelisah dan tampak meringis serta nyeri kolik (+)
2)      Gangguan eliminasi urine (00016) berhubungan dengan obstruksi anatomis ditandai dengan klien mengeluh air kencing keruh dan Oliguri (+) dengan jumlah sekitar 400 ml/24 jam
3)      Hipertermia (00007) berhubungan dengan peningkatan laju metabolisme ditandai dengan klien mengeluh demam . S : 38 C dan leukosit = 15.000/mm3

8.      Buatlah renpra pada kasus Tn.L ! Andi
Jawaban :
No.
Diagnose Keperawatan
Tujuan dan KH
Intervensi
Rasional
1.
Nyeri akut (00132)
Defenisi :
Pengalaman sensori dan emosi tidak menyenangkan akibat adanya kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau digambarkan dalam hal kerusakan sedemikian rupa (internatioanl associaton for the study of pain ) , awitan yang tiba-tiba atau lambat dengan intensitas dari ringan hingga berat , terjadi secara konstan atau berulang tanpa akhir yang dapat dianstipasi atau diprediksi dan berlangsung  < 6 bulan.

Faktor yang berhubungan :
Agen-agen cedera fisik

Ditandai dengan batasan karakteristik :
DS:
-       Klien mengeluh nyeri pinggang kanan , nyeri hilang timbul menjalar sampai ke perut
-       Klien mengaku 4 bulan yang lalu sering mengalami nyeri yang sama dan nyeri hilang stelah diberikan obat penghilang rasa nyeri dari dokter
-       Klien mengatakan nyeri dirasakan bertambah berat dalam 2 hari ini dan tidak menghilang dengan obat yang biasa dimakan

DO:
-      Gelisah dan tampak meringis
-      Nyeri kolik (+)
-      TD = 160/100 mmHg ; HR= 102 x/menit ; RR = 28x menit
-      Abdomen : palpasi : nyeri tekan kuadran kanan atas (+) , perkusi : timpani pada abdomen dan nyeri ketok CVA dextra (+)
Setelah tindakan keperawatan selama 3x 24 jam diharapkan pasien dapat menunjukkan pengendalian nyeri, dibuktikan dengan kriteria hasil :
-          Nyeri yang dirasakan pasien berkurang dengan skala nyeri 1-3
-          Pasien tampak tenang
-          Nyeri kolik (-)

Pengkajian :
1.    Kaji tanda-tanda vital
2.    Lakukan pengkajian nyeri yang komperenshif meliputi lokasi, karakteristik, awitan, durasi

Tindakan mandiri :
3.  Berikan lingkungan yang tenang dan nyaman .

Penyuluhan :
4.  Ajarkan teknik relaksasi napas dalam/ distraksi kepada pasien
5.  Berikan informasi tentang nyeri, seperti penyebab nyeri, berapa lama akan berlangsung dan antisipasi ketidaknyamanan akibat prosedur

Kolaborasi :
6.  Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat analgesik sesuai kebutuhan

1.    Untuk mengetahui tanda-tanda vital pasien
2.    Untuk menilai tingkat nyeri pada pasien

3.    Untuk membantu pasien dalam beristirahat

4.    Untuk memberikan rasan nyaman kepada pasien

5.    Memberikan pengetahuan tambahan pada pasien dan keluarganya tentang nyeri

6.    untuk menurunkan nyeria yang dirasakan pasien



2.
Ganggauan Eliminasi Urine (00016)
Defenisi :
Disfungsi pada eliminasi urine

Faktor yang berhubungan :
Obstruksi anatomik

Ditandai dengan batasan karakteristik :
DS:
-      Klien mengeluh air kencing keruh dan oliguria

DO:
-          Oliguri (+) dengan jumlah sekitar 400 ml/24 jam.

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan eliminasi urine tidak terganggu
dibuktikan dengan kriteria hasil :
-         Urine tidak keruh
-         Frekuensi urine normal
-         Oliguri (-)
Pengkajian :
1.  Pantau eliminasi urine meliputi frekuensi , konsistensi , bau , volume dan warna

Tindakan Mandiri :
2.  Anjurkan pasin untuk megkonsumsi air putih sebanyak mungkin

Health Education :
3.  Instruksikan kepada pasien dan keluarga untuk mencatat haluaran urine
4.  Instruksikan pasien untuk berespon segera terhadap kebutuhan eliminasi

Kolaborasi :
5.  Kolaborasi dalam pemberian terapi intravena

1.      Untuk mengetahui bau , warna , frekuensi  dan volume urine pasien
2.      Untuk menetralkan warna urine pasien
3.      Agar pasien dan keluarga juga dapat mengetahui perkembangan eliminasi urine dari pasien
4.      Agar mempertahankan pola eliminasi urine yang optimum
5.      Untuk mengembalikan kenormalan warna urine
3.
Hipertermia (00007)
Defenisi :
Peningkatan suhu tubuh di atas kisaran normal

Faktor yang berhubungan :
Peningkatan laju metabolisme

Ditandai dengan batasan karakteristik :
DS:
-            Klien mengeluh demam

DO:
-          S : 38 C
-          Leukosit = 15.000/mm3
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam hipertermia dapat teratasi dibuktikan dengan kriteri hasil :
-       Suhu tubuh klien kembali normal (36,5-370c)
Pengkajian :
1.      Pantau suhu tubuh sesering mungkin

Tindakan mandiri :
2.      Gunakan waslap dingin pda aksila pasien

Health Education :
3.   Ajarkan pasien/ keluarga dalam mengukur suhu tubuh untuk mencegah dan mengenali secara dini hipertermia

Kolaboratif :
4.      Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat antipiretik

1.      Untuk mengetahui suhu tubuh klien secara bertahap

2.      Untuk menurunkan suhu tubuh klien

3.      Agar pasien/ keluarga mengerti cara mengukur suhu tubuh dan dapa menegnal hipertermia secara dini

4.      Untuk mencapai suhu tubuh dalam rentang normal



Langkah 4 :
Peta Konsep Sementara



Langkah 5 :
«  Membuat Pertanyaann Tambahan
1.      Uraikan patomekanisme terjadinya nyeri hilang timbul yang menjalar di bagian perut pasien !
2.      Uraikan patomekanise terjadinya nyeri kolik !
3.      Uraikan patomekanisme terjadinya nyeri ketok CVA !
4.      Uraikan patomekanisme terjadinya bising usus menurun !


Langkah 6 :
«  Menjawab Pertanyaan Tambahan
1.      Uraikan patomekanisme terjadinya nyeri hilang timbul yang menjalar di bagian perut pasien !
Jawaban :
Nyeri yang hilang timbul terjadi karena pengisian sementara pelvis renalis atau karena penyumbatan sementara ureter akibat ginjal bergeser ke bawah sehingga nyeri yang dirasakan  merabat hingga ke bagian perut.

2.      Uraikan patomekanise terjadinya nyeri kolik !
Jawaban :
Nyeri kolik: terjadi karena aktivitas peristaltik otot polos sistem kalises ataupun ureter meningkat dalam usaha untuk mengeluarkan batu saluran kemih. Peningkatan peristaltik itu menyebabkan tekanan intraluminalnya meningkat sehingga terjadi peregangan dari terminal saraf yang memberikan sensasi nyeri.
      Batu di dalam kandung kemih bisa menyebabkan nyeri di perut bagian bawah. Batu yang menyumbat ureter, pelvis renalis maupuntubulus renalis bisa menyebabkan nyeri punggung atau kolik renalis (nyeri kolik yang hebat). Kolik renalis ditandai dengan nyeri hebat yang hilang-timbul, biasanya di daerah antara tulang rusuk dan tulang pinggang, yang menjalar ke perut, daerah kemaluan dan paha sebelah dalam. Gejala lainnya adalah mual dan muntah, perut menggelembung, demam, menggigil dan darah di dalam air kemih. Penderita mungkin menjadi sering berkemih, terutama ketika batu melewati ureter. Batu bisa menyebabkan infeksi saluran kemih.

3.      Uraikan patomekanisme terjadinya nyeri ketok CVA !
Jawaban :
CVA adalah salah satu dari dua sudut yang menguraikan ruang atas ginjal. Sudut dibentuk oleh kurva lateral dan ke bawah dari tulang rusuk terendah dan kolom vertikal dari tulang belakang itu sendiri.
Nyeri ketok CVA dextra (+) : pembesaran ginjal karena hidronefrosis

4.      Uraikan patomekanisme terjadinya bising usus menurun !
Jawaban :
Normalnya 6-12 kali per menit. Jika terjadi penurunan itu disebabkan oleh penurunan peristaltik usus, frekuensinya lambat, bahkan sampai  hilang, bisa dampak dari nyeri kolik. Impuls nyeri tersebut selain melalui plexus renalis, juga melalu truncus sympathicus. Akibatnya, akan terjadi perlambatan kerja usus (ileum) sehingga bising usus juga menurun.




Langkah 7 :
Peta Konsep Sempurna




DAFTAR PUSTAKA
Basuki, Purnomo. (2000). Dasar-Dasar Urologi, Perpustakaan Nasional RI, Katalog Dalam Terbitan (KTD): Jakarta.

Hardjowidjoto, S. (2000). Hidronefrosis. Airlangga University Press: Surabaya

NANDA 2012-2014. Diagnosis keperawatan Definisi dan Klasifikasi. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Judithy M. Wilkinson. Nancy R. Ahern (2011). Buku saku keperawatan. Diagnosa NANDA, Intervensi NIC. Kriteria hasil NOC. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Sjamsuhidayat, (2005). Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2.Jakarta: EGC

Smeltzer, Suzanne C, Brenda G Bare. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal BedahBrunner & Suddarth. Edisi 8 Vol 2. Jakarta : EGC.

 

Kusta (Morbus hansen)

BAB I PENDAHULUAN 1.1          Latar belakan g Kusta merupakan penyakit yang banyak menyerang kulit dan syaraf. Kusta atau yang d...